Peningkatan Mutu Guru Agama di Propinsi Banten

Salah satu aspek strategis yang sejatinya menjadi prioritas pembangunan propinsi Banten adalah di bidang pengembangan Sumber Daya manusia (SDM). Pembangunan di bidang ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan persoalan bagaimana peran serta dan tanggungjawab pemerintah beserta masyarakat propinsi Banten dalam merancang dan merealisasikan program pendidikan yang diharapkan mampu melahirkan kader-kader penerus pembangunan. Oleh karena itu, aspek pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia—sebagai modal dasar pembangunan—menjadi agenda yang sangat krusial dan tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, maka negara berkewajiban moril untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui upaya pencer-dasan kehidupan bangsa, baik mental maupun spiritual.  Peningkatan kecerdasan masyarakat paralel dengan kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa. Sebab, semakin terpelajar suatu masyarakat, maka tingkat kemakmuran  dan kesejahteraan mereka menjadi semakin niscaya. Begitupun sebaliknya, menjadikan agenda pendidikan sebagai the second priority adalah suatu kekeliruan yang sangat fatal.

Ada baiknya kita mengambil pelajaran (ibrah) dan bercermin kepada masa lalu, terutama ketika rezim orde baru berkuasa.  Ketika itu, para pemegang kebijakan—melalui prog-ram pembangunannya (govermant policy)—menjadikan program peningkatan dan pertumbu-han ekonomi makro sebagai perioritas utama, sehingga diakui atau tidak, pembangunan sumber daya manusia—yang sejatinya mendapat porsi yang proporsional—kini menjadi bumerang bagi proses pembangunan bangsa secara keseluruhan.

Realitas ini secara tegas diakui oleh Dr. Hamzah Haz (wakil Presiden RI). Secara metafor  ia menyindir, bahwa “bangsa Indonesia seperti tikus yang mati di lumbung padi”.  Perumpaman ini memang layak dialamatkan kepada kita, bangsa Indonesia.  Betapa tidak, ne-geri yang tampak begitu sarat dengan kekayaan sumber daya alam, harus terkapar dihempas badai krisis ekonomi, dan menjadi sangat bergantung kepada ‘belas kasihan’ negeri lain.  Kondisi ini—dalam pandangan Hamzah—merupakan dampak dari kebijakan pembangunan yang selama ini dijalankan. Yakni, pembangunan dasar perekonomian yang sangat rapuh de-ngan mengabaikan pembangunan sumber daya manusia, dalam hal ini pendidikan.

Namun demikian, pembangunan sumber daya manusia hendaknya tidak di-tafsirkan secara parsial. Artinya, ilmu pengetahuan sebagai obyek pendidikan tidak terbatas pada bagaimana sebuah institusi pendidikan mampu mencetak intelektual atau ilmuan an sich. Namun lebih dari itu, lebih-lebih dalam konteks masyarakat Banten, pendidikan harus digiring kepada pembentukan intelektual dan ilmuan yang—disamping berwawasan teknokrat—juga bermoral tinggi dan berakhlak mulia. Nah, untuk mencetak performance semacam itu, diperlukan sebuah institusi edukasi religius (institusi pendidikan agama) beserta perangkat-perangkatnya—terutama guru—yang memiliki kualifikasi yang memadai.

Namun, harus diakui, bahwa proses pendidikan sejatinya menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat, terutama pemerintah. Oleh karena itu, secara inplisit proses pendidikan membutuhkan partisipasi kompleks yang melibatkan berbagai unsur atau varia-bel, diantaranya: guru, murid, orang tua, pemerintah, dan masyarakat. Maka wajar jika kemu-dian persoalan pendidikan menjadi persoalan publik, bukan monopoli perseorangan. Oleh karena itu, menghilangkan salah satu fungsi dari komponen komponen tersebut berakibat pada terhambatnya roda yang dijalankan oleh sebuah institusi pendidikan. Jadi, pendidikan yang baik adalah proses  yang dijalankan dan melibatkan unsur masyarakat dan  pemerintah.

Pendidikan Agama dan Moralitas Masyarakat

Menurut Abuddin Nata (1987), pada dasarnya, sasaran utama dalam pendidikan adalah perubahan sikap dan pembentukan kepribadian peserta didik atau siswa. Demikian pula halnya dengan pendidikan agama Islam, maka sasaran utamanya adalah mengupayakan perubahan sikap peserta didik dan pembentukan kepribadiannya berdasarkan nilai-nilai ajaran agama Islam yang disampaikan melalui kegiatan belajar dan mengajar. Jadi menurut hemat saya, pendidikan agama semestinya berorientasi kepada pembentukan dan pem-binaan akhlak Islami (al-akhlâq al-Karîmah) kepada peserta didik di samping memberikan materi-materi keilmuan (‘ulûm al-dîn).

Pada masa klasik, pendidikan berfungsi sebagai proses pemindahan (transformasi) nilai-nilai dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda agar identitas suatu ma-syarakat dapat terpelihara. Nilai-nilai seperti keberanian, kejujuran, ketakwaan, kesetiakawanan, dan sebagainya perlu tetap dipelihara dan dipertahankan demi keutuhan dan kelanjutan hidup suatu komunitas masyarakat. Sebab ma-syarakat yang tidak punya nilai-nilai, maka me-reka akan hancur dengan sendirinya.

Sebagai contoh dari model pendidikan  tersebut di atas, misalnya nilai kejujuran, dengan pengertian bahwa ia mengatakan apa yang tergerak di hatinya dan bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan dan diyakininya. Dan dalam kaitan ini, menurut Hasan Langgulung (1987), suatu masyarakat hanya bisa hidup terus jika anggota masyarakatnya mengatakan apa yang benar dan masing-masing setuju terhadap definisi kebenaran itu. Kalau masing-masing memiliki definisi sendiri terhadap segala sesuatu dan bertindak seenaknya, tentulah masyarakat tesebut tidak akan terwujud.

Apa yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan sesungguhnya bersifat universal dan permanen. Dalam artian bahwa ia harus berlaku pada setiap zaman dan untuk setiap masyarakat. Persoalannya, bagaimanakah mewariskan nilai-nilai universal tersebut?. Nah, inilah yang selalu menuntut adanya perubahan pendekatan atau metode yang berbeda-beda sesuai dengan tuntutan perkembangan sebagaimana tersebut di atas. Namun demikian, Langgulung menganggap bahwa pada prinsipnya pendidikan pada zaman dahulu dan sekarang tidak memiliki perbedaan yang berarti. Yang berbeda hanyalah metode atau tekniknya.

Nah, jika demikian, maka pendidikan agama Islam berfungsi mentransformasikan nilai-nilai ajaran Islam  dari suatu generasi yang lebih tua kepada generasi muda, dalam hal ini peserta didik, demi kelangsungan komunitas yang bercirikan ajaran Islam. Sebab jika tidak di-lakukan upaya transformasi tersebut, maka hampir dapat dipastikan  nilai-nilai keislaman ak-an hilang dari komunitas tersebut.

Idealitas Guru Agama dan Strategi Peningkatan

Dalam konteks persoalan di atas, maka guru berada pada posisi yang sangat strategis dan signifikan (the man behind the gun). Oleh karena itu diperlukan pertimbangan-pertimbangan dan syarat-syarat tertentu yang harus dimilikii oleh seorang guru agar proses belajar itu bisa berjalan secara efektif, efisien, dan terarah, disamping ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai.

Zakiah Darajat (1988) menyatakan bahwa seorang guru yang ideal antara lain harus memiliki kepribadian yang utuh, di mana seluruh potensi (intelektual, emosi, cita, rasa, karsa, dan tingkah laku) berjalan seimbang dan saling mengisi. Di samping itu, dia juga  harus mengetahui setiap pribadi peserta didiknya yang berbeda-beda, sehingga ia akan dapat mendeteksi dan mengantisipasi perkembangan psikologisnya. Kemudian dapat memberikan pelajaran dengan menggunakan metode yang cocok dengan perkembangan peserta didik itu.

Yang tak kalah pentingnya, menurut Zakiah, di mana seorang  guru harus menunjukkan tingkah laku harmonis  yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan yang diajarkannya atau menjadi panutan, di mana para murid dapat menempatkannya sebagai pusat identifikasi diri. Termasuk pula dalam cara berpakaian, bertutur kata, dan lain-lain.

Menurut Koestedjo (1987), dalam sistem pendidikan, guru merupakan komponen yang sangat menentukan. Bagaimanapun baiknya sarana kurikulum telah dirancang, sarana dan prasarana pendidikan telah disiapkan, namun semuanya itu bergantung pada faktor guru sebagai the man behind the gun.

Menurutnya, apabila kita terpaksa harus memilih antara kurikulum dan sarana yang baik dengan guru yang kurang berkualitas di satu sisi, dengan kurikulum dan sarana yang sedang-sedang saja akan tetapi gurunya berkualitas baik, maka kita akan memilih alternatif yang kedua itu. Oleh karenanya, guru menjadi ujung tombak terakhir yang mengkomuni-kasikan gagasan pendidikan kepada masyarakat luas. Guru merupakan agen perubahan pemimpin dan pendukung nilai-nilai kehidupan, serta sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar. Karena pendidikan merupakan proses interaksi antara guru dan murid yang ditandai oleh keseimbangan kedau-latan masing-masing. Demikian Koestedjo.

Dalam pandangan Koestedjo, guru mengemban tiga tugas pokok. Pertama, tugas profesional. Yakni tugas karena jabatannya sebagai guru. Dia bertugas mendidik, mengajar,  melatih, membimbing, dan memberi nasihat. Kedua, tugas manusiawi. Yaitu menjadikan dirinya selain berbakti untuk kepentingan anak didik, juga sebagai orang yang diteladani. Dan ketiga, tugas kemasyarakatan. Yakni tugas untuk membentuk manusia dan warga masyarakat sesuai dengan tujuan nasional. Semua guru menurutnya, tak terkecuali guru agama Islam, adalah pengemban tugas-tugas tersebut.

Oleh karena itu, seorang guru juga dituntut memiliki beberapa kualifikasi tertentu misalnya: (1) mempunyai pengetahuan dan memahami terhadap tujuan atau misi pendidikan nasional, (2) memahami tujuan konstitusional dan tujuan ku-rikuler, (3) menguasai materi atau program pendidikan, (4) menguasai metode belajar dan sistem evaluasi, (5) memahami teknik dan cara menggunakan sara belajar, dan (6) mengetahui tingkat kematangan anak didik, dan (7) memahamisituasinya lingkungan-nya. (Koestedjo: 1987) Khusus untuk bidang studi yang mengemban misi pembinaan sikap, tingkah laku/pembinaan kepribadian (khususnya guru agama) di samping memahami dan menghayati nilai-nilai agama yang terkandung di dalam-nya, ia dituntut pula agar mengamalkan nilai-nilai ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten agar menjadi teladan yang baik bagi peserta didiknya.

Sedangkan yang menyangkut bidang teknis, sekurang-kurang ada sepuluh kemam-puan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru (termasuk guru agama). (1) Kemampuan mengembangkan diri, (2) menguasai teori pendidikan, (3) meng-uasai bahan pengajaran, (4) melaksanakan program pengajaran dengan sebaik-baiknya, (5) menilai proses belajar, (6) mengevaluasi hasil belajar, (7) membimbing,  (8) menyelenggarakan administrasi pendidikan, (9) berinteraksi dengan sesama pendidik dan masyarakat, dan (10) melakukan analisa atau penelitian sederhana untuk pengembangan pengajaran.

Menyinggung peran guru yang demikian penting, Achmad Sanusi (1987) berpendapat bahwa guru bukan sama sekali berfungsi sekadar sebagai alat pentransformasi informasi yang tidak berkepribadian mandiri, melainkan justru berfungsi menyusun dan menyeleksi informasi serta mengelola proses belajar yang aktif dan kreatif.

Sejalan dengan proyeksi ini, maka semua guru, termasuk guru agama, wajib meng-upgrade diri terutama dalam bidang-bidang berikut ini. Pertama, bidang profesi keguruan, khu-susnya mengenai metodologi pengembangan kurikuler dan instruksional, metodologi proses belajar mengajar, metodologi penilaian dan pengujian kema-juan belajar siswa, dan menyang-kut metodologi penelitian masalah-masalah profesi keguruan tersebut.

Kedua, bidang keahlian khusus. Yaitu ilmu, teknologi,  atau seni yang akan dijadikan diorganisasikan dan diramu sebagai bahan dalam kegiatan belajar dan mengajar sesuai deng-an tujuan dan silabusnya.

Ketiga, bidang pendidikan umum, yang memberikan kepadanya karakter dan konsep diri yang mapan, kepribadian yang dewasa dan bertanggung jawab. Dengan demikian, guru bukanlah sekadar alat, sebab ia justru memiliki pemahaman mengenai nilai-nilai yang terdapat dalam dirinya, siswanya, sekolahnya, lembaga pendidikan dan masyarakatnya, sistem masya-rakat, serta kedudukan individu di dalam sistem masyarakatnya.

Dengan merujuk kepada profil ideal guru agama sebagaimana yang dikemukan di atas, maka kita dapat berharap akan terwujud sebuah sistem pendidikan agama melalui ber-bagai institusi-institusi pendidikan yang bernuansa Islam dengan segenap kelebihan dan ke-unggulan. Karena bagaimanapun juga, guru adalah faktor dominan bagi terselenggaranya proses belajar dan mengajar yang efektif dan berkualitas menyongsong era modern.

Persoalannya, profil ideal yang sejatinya inheren dengan para pendidik, saat ini, menja-di hal yang sulit ditemukan, terutama pada sosok guru-guru agama. Padahal, pada saat di-mana daya kritisisme  dan keberanian mengemukakan pendapat begitu menggejala di kala-ngan peserta didik, kemampuan dan profesionalisme guru menjadi kian diperlukan. Di sam-ping itu, tantangan global—yang ditandai dengan menyatunya kebudayaan dunia lewat kecanggihan media informasi—menuntut para pendidik mampu menyesuaikan dengan per-kembangan serta berusaha membe-kali diri dengan kemampuan yang tinggi, baik dari segi penguasaan materi, terlebih metodologi yang digunakan.  Sebab, guru sebagai the man behind the gun, merupakan unsur terpenting bagi terciptanya  kualitas peserta didik (out put).

Di sisi lain, pemerintah sebagai pihak yang juga dibebani tanggung jawab secara mo-ral, berkewajiban mencari solusi strategis berkenaan dengan pengembangan dan peningkatan mutu guru, yakni berupa langkah-langkah konkret yang mengacu kepada perwujudan institusi edukasi berkualitas, yang bermuara pada terciptanya sumber daya manusia yang handal dan memiliki mentalitas dan moralitas yang  adiluhung.

Mengakhiri tulisan ini, agaknya penulis merasa berkepentingan untuk mengingatkan kepada pihak-pihak yang berkompeten, terutama para pemegang kebijakan, untuk men-jadikan pendidikan dan peningkatan mutu para pendidik sebagai prioritas  utama aksi dan pembangunan daerah.  Sebab, pembangunan bidang pendidikan ibarat menanam benih. Me-mang, hasilnya tidak dapat dinikmati saat ini, tapi akan terasa dalam beberapa dekade mendatang.  Semoga masyarakat Banten menjadikan moralitas dan intelektualitas yang religi sebagai agenda utama dalam menjalani proses pembangunan daerah yang  baru akan dimulai ini.  Semoga.

Sumber: Fajar Banten November 2001

Satu Tanggapan

  1. makasih artikelnya pak ahmad,,,it’s great.smangat trus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: