MTQ dan Kerukunan Umat Beragama

Warga Banten menyambut hangat digelarnya MTQ XXII tingkat Nasional yang berlangsung pada 17-24 Juni 2008 di Kota Serang. Seperti diketahui, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) adalah perhelatan keagamaan yang populer dan fenomenal di kalangan umat Islam tanah air. Kegiatan yang dilakukan secara berjenjang dan berkala, mulai dari tingkat regional hingga tingkat nasional, ini telah meciptakan suatu paradigma baru bagi keberagamaan umat Islam Indonesia. MTQ, diakui atau tidak, sejak kali pertama dilaksanakan pada 1968 memberi nuansa khas budaya keberagamaan ala Indonesia. Singkatnya, fenomena MTQ menjadi trade mark umat Islam Indonesia.

Saya baru yakin terhadap fenomena ini, ketika seorang kawan bercerita tentang kekaguman seorang Syeikh dari Timur Tengah yang berkunjung ke Indonesia. Syeikh tersebut bertanya penuh keheranan ketika menyaksikan penyelenggaraan MTQ di suatu wilayah. Penyelenggaraan MTQ yang sedemikian marak dengan penampilan-penampilan seni budaya Islam lokal, disamping tentu saja lantunan ayat-ayat Tuhan, sungguh menimbulkan kekaguman yang luar biasa seolah telah ‘menyihir’ nurani umat Islam manca negara itu.

Lebih lanjut Syeikh ini berkomentar seraya berilustrasi tentang negerinya di seberang sana, “Saya tidak pernah menjumpai syi’ar agama yang sedahsyat ini”, demikian dia berkomentar. Di negerinya, meski pun ada, perhelatan semacam ini relatif bersifat sangat formalistis dan cenderung apa adanya. Jauh dari nuansa syi’ar yang penuh dengan kesemarakan: sepi, pucat pasi, tidak bergairah. Di akhir komentarnya, dia memuji sikap keberagamaan umat Islam Indonesia yang selalu ‘basah’ dengan pelbagai tradisi keislaman lokal yang sekaligus menghidupkan ruh dan makna esensial agama Islam sebagai agama rahmat bagi alam semesta: sebuah realitas kemasyarakatan yang sulit dijumpai di belahan dunia mana pun.

Memang, MTQ tidak sekadar mempertontonkan sebuah eksklusivitas spiritual, namun MTQ mengandung nilai-nilai pluralitas yang tercermin dari nuansa tradisi yang mengemuka dalam hiruk-pikuk hajatan tahunan tersebut. Oleh karena itu wajar jika momentum ini terus dipertahankan.

Menghidupkan Tradisi Keagamaan

Namun, hiruk-pikuk dan kemegahan MTQ, dengan segala manfaat dan kegunaan yang ditimbulkannya, bukan berarti sepi dari kritik dan kecaman. Banyak pihak merasa pesimis bahkan apatis dengan penyelenggaraan MTQ yang dianggap tak ubahnya seperti upacara pesta-pora, menghambur-hamburkan uang negara dengan sia-sia. Bahkan, mantan Presiden RI IV, KH. Abdurrahman Wahid, pernah melontarkan gagasan ‘melikuidasi’ kegiatan yang sudah menjadi agenda nasional selama beberapa dekade itu. Untung, rencana ‘nekat’ itu urung dilakukannya karena banyak masukan positif dari kolega-koleganya.

Munculnya reaksi negatif dari beberapa kalangan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua komponen bangsa memahami substansi makna di balik penyelenggaraan MTQ sehingga kemudian bersepakat tentang penting dan mahalnya ongkos untuk sebuah syiar keagamaan. Mereka yang berfikiran pendek memandang sepintas, lalu menyimpulkan bahwa MTQ identik dengan pemborosan. Padahal, kalau kita mau berfikir matematis, biaya yang dikeluarkan dari kas negara untuk membiayai kegiatan MTQ sesungguhnya tidak terlampau berarti dibanding hasil yang dicapai.

Namun demikian, MTQ sebagai sebuah gagasan atau wacana, mungkin akan tetap terbuka peluang untuk diperdebatkan. Pro-kontra akan selalu muncul manakala momentum ini menunjukkan gejala yang kontradiktif atau kontraproduktif dengan visi, misi, dan tujuan penyelenggaraan. Karakteristik MTQ yang bernuansa religius sangat sensitif dengan penyimpangan dan tindakan-tindakan amoral lainnya. Agaknya persoalan kesucian dalam koridor menegakan kebenaran Alquran harus senantiasa dijunjung tinggi oleh para pelaku MTQ.

Sepengetahuan penulis, dasar pemikiran utama penyelenggaraan MTQ adalah meningkatkan kegairahan umat Islam Indonesia untuk selalu membaca, menelaah, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Alquran dalam kehidupan. Memang, penyelenggaraan MTQ, tentu saja, tidak pernah disyariatkan dalam Alquran. Tapi, haruskah suatu maksud baik sebagaimana dikemukakan di atas disambut dengan pesimis, bahkan apriori? Tentu sangat tidak bijaksana. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: