Menyambut Idul Fitri 1424 H: Kembali Kepada Kesucian Spiritual

Idul Fitri tahun 1424 H ini hadir ketika segenap komponen bangsa Indonesia masih dirundung keprihatinan mendalam, yakni menghadapi ujian maha berat, krisis mutidimensional: ekonomi, politik, dan moral. Keprihatinan yang mendalam ini sesungguhnya telah menyadarkan hati nurani kita akan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. di satu sisi, dan kenaifan manusia di sisi lain. Tampaknya Allah Swt. ingin menunjukkan, bahwa kemegahan dan kedigdayaan manusia tidak akan berarti sama sekali dibanding kekuasaan Yang Maha Agung.

Dalam perspektif ini, diperlukan suatu kesadaran bahwa ujian yang menimpa bangsa ini, dengan demikian, harus diartikan sebagai teguran keras dari Tuhan terhadap kecongkakan dan kepongahan kita di muka bumi ini. Dengan begitu, ujian ini meniscayakan perubahan pola dan perioritas hidup yang selama ini kita anut. Yakni dari pola hidup glamour dan cenderung korup, menuju kehidupan bersahaja, penuh toleransi, dan kejujuran. Jadi, apapun pelakuan Tuhan terhadap umat-Nya merupakan cerminan dari apa yang diperbuat oleh manusia itu sendiri. (QS. Al-Rûm: 41)

Oleh karena itu, momentum bulan suci Ramadan yang telah kita lewati beberapa waktu yang lalu adalah masa ‘jeda spiritual’ yang seharusnya diisi dengan renungan-renungan suci dalam kerangka muhasabah (koreksi internal) terhadap kekhilafan-kekhilafan yang pernah kita lakukan pada masa lalu. Mozaik Ramadan, idealnya disarati dengan dengan latihan-latihan spiritual menuju kesadaran kolektif. Yakni kesadaran yang  dilandasi nilai-nilai ketuhanan—yang dalam rumusan Muhammad Asad  dalam The Massage of The Qur’an—sebagai God consciousness, yaitu “kesadaran ketuhanan” yang dalam bahasa Arab sinonim dengan “kesadaran ruhaniyyat” atau “kesadaran ribbiyyah”. Maka dengan demikian, puasa akan melahirkan ‘manusia-manusia baru’ atau dalam istilah Nurcholis Madjid disebut “manusia primordial”. Yakni manusia yang telah menemukan kembali potensi fitrahnya, kesucian di hadapan Allah Swt..

Dengan demikian, Ramadan adalah sebuah wahana di mana terjadi proses dan latihan-latihan spiritual (riyadhah ruhaniyyat) yang kontinou menuju penemuan diri yang paripurna. Sosok ini sering digambarkan Alquran sebagai “Muttaqin”. (QS. Al-Baqarah: 183) Yakni orang-orang yang memiliki kesadaran spiritual (God consciousness) dan yang selalu merasa bahwa Tuhan selalu hadir (omnipresent) dalam setiap gerak dan nafasnya. Inilah sebenarnya hakikat ibadah puasa yang hendak  dicapai. Yakni mewujudkan kelahiran kembali manusia yang fitri; suci dari segala dosa sebagaimana pada awal kelahiran.

Kemenangan spiritual

Dari perspektif terminologi keagamaan, manusia fitri (suci) bukanlah sekadar bermakna suci secara fisik (jasmani), tetapi lebih bermakna esoteris (ruhaniyyat). Yakni kesucian jiwa (ruhaniyyat), sehingga paripurna secara spiritual. Kelahiran kembali “manusia primordial”, dengan demikian, menjadi indikasi kuat keberhasilan puasa dan kegiatan-kegiatan ritual lainnya di bulan suci Ramadan. Dan oleh karenanya, Allah Swt. mengisyaratkan predikat “Takwa” sebagai perlambang supremasi tertinggi dari bulan suci tersebut. ‘Kusuksesan’ ini menjadi sangat wajar jika kemudian direfleksikan dalam kegembiraan berupa perayaan pada bulan Syawwal, tepatnya pada Hari raya Idul Fitri sebagai momentum kemenangan spiritual umat Islam.

Keceriaan di hari fitri haruslah dimaksudkan untuk mensyukuri karunia yang diberikan Allah Swt. tersebut, yakni kemenangan spiritual tadi. Oleh karena itu, mempersepsikan momentum Idul Fitri (seolah-olah) sebagai ajang pesta pora menyambut berakhirnya ujian di bulan Ramadan adalah representasi tradisi negatif yang masih tampak di tengah-tengah kehidupan keberagamaan masyarakat kita. Dan jika dilihat dari sisi hikmah ibadah puasa—yang menghendaki kesadaran spiritual—maka hal ini sungguh menjadi sebuah ironi.

Sejatinya, kemenangan di hari fitri ini diwujudkan secara  simpatik  dan elegan. Suatu sikap yang menunjukkan kepatuhan dan kepasrahan diri sebagai cermin kesucian jiwa. Oleh karena itu, perwujudan rasa syukur atas kemenangan itu  ditunjukkan dengan ungkapan-ungkapan takbir, tahmid, dan tahlil yang membahana mengharubirukan suasana bulan Syawwal. Semua hati umat Islam bergembira-ria dalam suasana jiwa yang lurus (hanif) dan jernih, jauh dari sikap congkak dan sombong. Untuk itulah, kemeriahan duniawi dan hingar-bingar kemewahan hanya akan membuat kontraproduktif terhadap hasil riyadhah di bulan Ramadan dan akan mereduksi nilai kesucian yang telah diraih. Dan dengan demikian, tradisi semacam itu justru akan menghilangkan makna spiritualitas Idul Fitri itu sendiri.

Kembali kepada kesucian

Perayaan Idul Fitri sesungguhnya sarat dengan muatan-muatan simbolisme. Tradisi mengenakan busana serba baru, misalnya, adalah bagian dari makna-makna simbolik tadi. “Kebaruan” (busana) itu sebenarnya merupakan simbol belaka, yakni gambaran kondisi manusia yang kembali kepada kodrat, yakni kesucian (ke-fithri-an) spiritual. Perolehan ini tidak lain merupakan buah dari tempaan ruhaniyyat selama sebulan lamanya. Maka Idul Fitri berarti kembali (‘Id) pada kesucian (fithrah). Artinya, manusia berada dalam kondisi ‘suci tanpa dosa’, yang secara filosofis diistilahkan sebagai “man as a such”. Maksudnya, manusia fithrah atau the sacred self, yang berarti manusia tampil sebagai makhluk “teomorfisme”, yang bersifat transenden-Ilahiyyah, sehingga mampu menjalin diri ke “sumber diri” (Conection to the Source).

Dalam sumber inilah terdapat Universal Harmony. Kesadaran ini dalam istilah Marylin Fergusen, telah membawa banyak manusia dewasa ini pada “konspirasi baru dalam melihat dunia”. (Budhy Munawwar Rahman, 1996: 47)  Oleh karena itulah, Idul Fitri merupakan awal lembaran baru untuk menjalani hidup selanjutnya. Takbir yang membahana di Hari Fitri yang mengiringi langkah dan menyeru jiwa yang suci sesungguhnya mengingatkan pada detik-detik pertama kelahiran manusia di dunia fana. Suatu saat di mana kali pertama mendengar lantunan takbir mengiang di telinga kita, si mungil tanpa dosa. Jadi, suara takbir yang bersahutan itu adalah refleksi kedua sebagai simbol kelahiran kembali manusia yang suci, yakni manusia primordial.

Konsep manusia fitri (primordial)—sebagai awal kehidupan manusia oten-tik—memiliki relevansi yang cukup bagus jika dikaitkan dengan kondisi bangsa yang tengah collapse seperti saat ini. Kondisi—dimana keadaan serba tidak menen-tu—ini telah melahirkan ekses-ekses psikologis yang cukup menghawatirkan. Ke-tidakmenentuan menjadikan sebagian kita menderita kegelisahan jiwa. Bayangan-bayangan buruk senantiasa menghantui setiap langkah yang kita ambil. Dengan de-mikian, kekhawatiran yang berlebihan tersebut, dengan sendirinya akan menggun-cangkan jiwa sehingga muncul tekanan psikologis dan stress.

Fenomena tersebut jika dilihat secara obyektif, adalah sebuah konsekuensi logis. Karena ketika pertimbangan-pertimbangan materi menguasai alam pikiran ki-ta, maka krisis multidimensional yang tengah melanda negeri ini sudah barang tentu akan menimbulkan ketakutan dan tekanan kejiwaan. Oleh karenanya, ibadah pua-sa—dan ritual-ritual lainnya—yang telah kita lakukan selama bulan Ramadan, dengan demikian, menjadi momentum yang sangat penting dalam kerangka dan fungsi antisipatif-prefentif atau rehabilitatif terhadap ekses-ekses yang ditimbulkan oleh keadaan tersebut.

Jadi,  manusia fitri (manusia primordial) sebagai hasil dari ibadah puasa akan mencerminkan sosok-sosok paripurna yang diidealkan oleh agama (Muttaqin). Se-orang yang bertakwa akan menyerahkan kehidupannya secara penuh kepada Tu-han, dan senantiasa berkeyakinan bahwa kehidupan akan berubah. “Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan”. Begitu Allah Swt. dua kali mengulang janji-Nya. (QS. Al-Insyirah: 5—6) Maka atas dasar keyakinan tersebut, (bahwa kehidupan adalah milik Allah), akan menimbulkan sikap hidup yang qana’ah (menerima apa adanya) tanpa menafikan usaha maksimal dan kekhusukan doa. Semoga kita menjadi hamba Allah yang bertakwa. Amin ya Rabb al-‘Alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: