Pemilukada Cilegon 2001: “Esensi Pemimpin adalah Pelayan”

CILEGON-BARAYA POST: Agenda politik lokal Pemilukada Kota Cilegon 2010 yang kian dekat menjadi sorotan banyak pihak. Salah satunya adalah Dr. Ahmad Tholabi Kharlie: analis sosial, keagamaan, dan politik dari UIN Jakarta. Kepada wartawan Baraya Post, Abyan Kudsi, yang mewawancarainya, belum lama ini, ia memaparkan pandangannya. Berikut petikannya.

Pendapat anda tentang kondisi Kota Cilegon saat ini?

Secara kasat mata harus diakui, pembangunan Kota Cilegon sejak terbentuk tahun 1999 mengalami perkembangan pembangunan signifikan seperti bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian, dan infrastruktur. Sukses pembangunan “Lima Mega Proyek” yakni pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS), Terminal Terpadu Merak (TTM), Pasar Kota, Masjid Agung, dan pembangunan Pelabuhan Kubangsari menjadi barometer sukses penyelenggaraan RPJM 2006-2010. walhasil, sangatlah tidak berlebihan jika Walikota Cilegon, Tb. Aat Syafaat, banyak mendapat anugerah penghargaan dari Pemerintah Pusat.  

Fakta-fakta keberhasilan pembangunan ini harus kita akui secara jujur dan fair. Namun demikian, tidak ada gading yang tak retak, pasti ada sisi lemah dari sebuah proses yang belum sepenuhnya tergarap, karena pada hakikatnya proses pembangunan itu berjalan berkesinambungan dan kontinouitas.

Apakah perkembangan yang ada sudah sesuai harapan masyarakat?

Tentu saja, hasil-hasil capaian pembangunan ini tidak mungkin memuaskan semua pihak. Terutama jika ditarik pada ranah politik. Pasti ada saja pihak-pihak yang tidak puas dengan progress yang terjadi di Kota Cilegon pada saat ini. Tapi secara umum kita patut bersyukur karena saat ini eksistensi Cilegon kian diperhitungkan, baik pada skala regional, nasional, bahkan internasional.

Oleh karena itu pelbagai hasil pembangunan yang kualitatif laik di dipertahankan dan ditingkatkan. Dan yang masih dirasa belum optimal, mari kita bersama-sama, bahu-membahu, antara unsur Pemkot dan masyarakat bersinergi mengisi kekurangan-kekurangan dan mengatasi kelemahan-kelemahan itu.

Dinamika sosial dan politik di Kota Cilegon cukup tinggi, bagaimana harusnya para pemimpin dan masyarakat bersikap terutama untuk menghindari konflik horizontal?

Pada prinsipnya, setinggi apapun eskalasi politik di Kota Cilegon, semua pihak harus bisa menahan diri dan seharusnya mengusung etika dan fatsoen politik. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses demokrasi di Cilegon, baik partai politik maupun organisasi kemasyarakatan, harus menciptakan suasana kondusif dalam rangka memelihara dan mewujudkan kepentingan yang jauh lebih besar dan substantif.

Dalam konteks ini, maka cara-cara kontrademokrasi dan melanggar fatsoen politik, seperti kampanye hitam, menyentuh wilayah SARA, dan pendiskreditan pihak-pihak tertentu, harus benar-benar dihindari. Yang patut di kedepankan adalah cara-cara santun dan berbudaya.

Apakah politisi di Kota Cilegon sudah memberikan pembelajaran yang baik kepada masyarakat?

Saya hanya berbicara yang seharusnya. Jika pun terdapat fakta di lapangan terkait perilaku para politisi dan pendukungnya yang kontrademokrasi dan tidak mengindahkan etika politik, maka secara tidak langsung dia telah melakukan pembelajaran politik yang keliru terhadap masyarakat. Ini khan tidak bertanggung jawab namanya. Dan model semacam ini tidak pantas menjadi pemimpin.

Di pihak lain, masyarakat sudah seharusnya bersikap cerdas dan bijak. Tidak mudah terbawa arus dan tersulut oleh provokasi yang cenderung menghasut dan tidak bertanggung jawab. Dalam suasana seperti ini perlu memegang prinsip tabayun, klarifikasi dan konfirmasi, atas semua input yang beredar di masyarakat. Jadi intinya, harus ada tanggung jawab moral politik dari para politisi.

Menjelang Pemilukada 2010, bagaimana masyarakat agar tidak membeli kucing dalam karung?

Ini sejalan dengan prinsip keterbukaan dan akuntabilitas publik. Oleh karena itu perlu ada mekanisme uji publik bagi siapa saja yang berniat memimpin Cilegon. Saat ini masyarakat kita sudah semakin cerdas, dan memang harus dibuat cerdas, dalam menentukan calon pemimpinnya. Seperti penyelengaraan Kongres Rakyat Cilegon (KRC) yang digagas Walikota Cilegon, Tb. At Syafa’at, sebagai forum pendidikan politik yang sangat bagus untuk mencerdaskan masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya.

Profil calon pemimpin dan visi kepemimpinan, dengan demikian, dipastikan terpublikasi secara luas agar masyarakat bisa memilih dan memilah secara jernih dan obyektif calon pemimpin mereka. Jadi bukan atas dasar subyektivitas, materi, sentimen pribadi, apalagi intimidasi fisik dan psikologis.

Figur/pasangan ideal kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan ke depan?

Dalam Islam, kepemimpinan memiliki dua dimensi. Pertama, bersifat spiritual, yakni berfungsi sebagai penegak dan penjaga nilai dan aturan yang telah ditetapkan Allah Swt. Kedua, kepemimpinan juga berdimensi duniawi, di mana seorang pemimpin bertugas memakmurkan dan menyejahterakan rakyatnya. Ketika kedua komponen tersebut telah dilakukan oleh seorang pemimpin, maka konkuensinya adalah kewajiban untuk taat bagi masyarakat.

Nah, untuk merealisasikan kedua dimensi sebagai manifestasi kepemimpinan, maka diperlukan sosok pemimpin yang memiliki kesadaran spiritual atau spiritual awareness dan kesadaran sosial atau social awareness.

Pemimpin yang sadar spiritual tercermin dari aspek kesalihan atau ketaatan beragama, moralitas, kesantunan, dan komitmen terhadap pembangunan aspek keagamaan. Kesadaran ini tidak mungkin bisa dihadirkan tanpa pengetahuan agama yang memadai. Jadi, seorang pemimpin dalam konteks Islam, haruslah mencerminkan sikap dan moralitas Islam, bukan semata-mata leadership.

Sementara itu, pemimpin yang sadar sosial tercermin dari aspek pengetahuan, pengalaman atau rekam jejak dan sikap kepemimpinan. Seorang pemimpin sejatinya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai sebagai bekal memimpin. Tentu, tipologi ini ada pada komunitas terdidik. Kata Rasulullah, “Untuk meraih sukses dunia dan akhirat harus berbekal ilmu pengetahuan.”

Menurut anda, tentang wacana kepemimpinan kaum muda?

Memang kita tidak perlu membuat dikotomisasi usia kepemimpinan. Tapi tantangan Cilegon ke depan menghendaki pemimpin yang kuat, cerdas, enerjik, penuh idealisme, dan rekam jejak. Tipologi ini tentu identik dengan kaum muda.

Harus diakui, konsep normatif dan fakta historis sejatinya mendukung tesis ini. Contoh mudah, untuk melakukan ibadah seseorang dituntut memiliki kekuatan fisik, psikis, dan materi, seperti dalam ibadah haji dan sebagainya. Contoh lain, ketika menentukan imam salat, agama tidak pernah menunjuk kriteria umur sebagai prasyarat utama. Justru agama menunjuk profesionalisme, kredibilitas, dan akuntabilitas: “Aqrauhum”, yang paling fasih dan trampil, demikian Rasulullah mensyaratkan.

Demikian pula ekspose sejarah sosial politik menunjuk kiprah orang muda dalam kepemimpinan. Adalah Rasulullah yang amat memahami hal ini. Beliau membuka peluang seluas-luasnya bagi para Sahabat muda, seperti Ali bin Abi Thalib dan lain-lain, untuk berkiprah dan berdiri di garda terdepan dalam menjalankan kepemimpinan umat Islam. Demikian pula dalam konteks Indonesia, kendali kepemimpinan pada masa konsolidasi di awal kemerdekaan justeru berada pada tangan orang muda. Soekarno dan Hatta adalah simbolisasi kepemimpinan orang muda Indonesia.

Apa sebenarnya yang diinginkan masyarakat dari seorang pemimpin?

Esensi pemimpin tidak lain sebagai pelayan (khadim) bagi yang dipimpinnya. Selain itu, seorang pemimpin harus mencerminkan keteladanan. Jadi diperlukan rekam jejak yang tidak tercela bagi calon pemimpin, baik secara moral maupun sosial.

Oleh karena pemimpin bertugas melayani, maka diperlukan komitmen pengabdian dan ketulusan mencurahkan waktu dan tenaganya untuk sebesar-besar kemakmuran masyarakat. Jadi bukan pemimpin yang pamrih dan ingin dilayani serta didewakan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat perlu mewaspadai angin surga atau janji-janji yang galib terjadi pada saat kampanye.

Nah, untuk memegang komitmen calon pemimpinan dan menghindari kebohongan publik ada baiknya dibuat semacam kontrak politik atau komitmen pemimpin dengan masyarakat pemilih.

Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah pemimpin yang memberi keteladanan. Dalam segala aspek, baik spiritual maupun sosial. Keteladanan ini penting, karena sebagai lokomotif tentu seorang pemimpinlah yang akan mewarnai dan memberi arah mau dibawa ke mana masyarakatnya.

Tantangan apa ke depan yang akan dihadapi kepemimpinan mendatang terkait dengan sebutan kota industri dan masyarakat yang religi?

Memang menjadi tugas berat bagi siapapun yang memimpin ranah Cilegon terkait situasi yang sangat antagonistik. Di satu sisi, fakta Cilegon sebagai Kota Industri yang penuh ingar-bingar vis a vis masyarakat bercorak religius sebagai simbol ketaatan dan tradisionalisme keagamaan. Tantangan itu adalah bagaimana seorang pemimpin Cilegon mampu memosisikan industrialisasi sebagai faktor kemakmuran masyarakat dan pada saat yang sama mengukuhkan identitas masyarakat Cilegon yang religius tetap berada pada jalurnya. Jika salah satu terabaikan maka akan terjadi disharmoni. Jelas, ini bukan pekerjaan mudah!

Sejumlah figur seperti dari kalangan politisi, birokrat, profesional, sudah mulai mencuat jadi wacana yang akan maju pada Pemilukada, bagaimana pendapat anda tentang mereka?

Ini khan hak konstitusional setiap warga. Siapapun yang telah memenuhi syarat, tentu berhak mencalonkan diri atau dicalonkan untuk memimpin Kota Cilegon. Saya tidak akan menunjuk person, karena tidak etis. Tapi, sebagai akademisi saya telah menunjuk sederet kriteria pemimpin ideal, dan dalam konteks Cilegon, laik memimpin untuk periode mendatang.

Sekarang tinggal bagaimana masyarakat menilai kelaikan mereka. Tentu masyarakat harus cerdas dan bijak, dan sudah saatnya mereka tercerdaskan. Masyarakat perlu memahami sosok pemimpin yang cocok dan relevan dengan tipologi masyarakat Cilegon yang religius dan terdidik. Sudah saatnya kita menepis labelisasi, atau lebih tepatnya stigmatisasi terhadap masyarakat Banten, termasuk Cilegon, dengan simbol kejawaraan atau kedigdayaan. Kita jangan sekali-kali melupakan, bahwa Banten juga dikenal luas di mancanegara dengan etos keilmuan dan kecendekiawanannya. Sosok ulama Banten yang go international, Syeikh Nawawi al-Bantani, adalah figur yang pas untuk sekadar contoh relevan.

Kini adalah era ilmu pengetahuan dan pengingkatan citra budaya masyarakat. Karena itulah yang akan menempatkan Cilegon pada presisi terhormat di mata masyarakat Indonesia dan dunia. Oleh karena itu, pemimpin yang cerdas, terdidik, beretika, sarat idealisme, dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap pendidikan menjadi pilihan tepat untuk masa depan Cilegon.

Harapan anda pada pelaksanaan Pemilukada 2010?

Ya, kita semua tentu berharap Pemilukada Cilegon 2010 berjalan lancar, tertib, aman, dan konstitusional. Paling tidak ada dua output yang amat vital dalam konteks kehidupan berdemokrasi. Pertama, suksesi yang produktif, dalam pengertian Pemilukada 2010 akan melahirkan sosok pemimpin ideal yang mampu membawa masyarakat Cilegon pada era keemasan. Bukan proses demokrasi yang kontraproduktif, di mana kepemimpinan yang dihasilkan penuh stigmatisasi dan potret buram.

Kedua, proses Pemilukada 2010 menjadi sarana pembelajaran politik yang strategis menuju kedewasaan politik bagi masyarakat Cilegon. Hal ini tidak mungkin terwujud tanpa iktikad baik dari seluruh pelaku politik. Di sinilah diperlukan sikap kepemimpinan dan jiwa besar dari para calon pemimpin Cilegon. []

Sumber: Rubrik Wajah, Banten Raya Post, Kamis, 10 Desember 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: