Musâbaqah Qirâ’at al-Kutub (MQK) & Upaya Pelestarian Warisan Intelektual Banten

KETIKA kita mengarungi lintasan sejarah sosial intelektual Islam Nusantara, maka masyarakat Banten pantas berbangga. Pada sekira abad XVIII-XIX, di tatar inilah lahir Syeikh Nawawi al-Bantani (al-Jâwi), sosok ulama kharismatik yang secara performa intelektual mendapat pengakuan dari dunia internasional, khususnya kaum muslimin. Tak seorang pun meragukan kredibilitas dan kapabilitas Nawawi dalam ranah studi ilmu-ilmu keislaman. Selain âlim, Nawawi dikenal sebagai ulama yang produktif melahirkan magnum opus dalam pelbagai disiplin ilmu keislaman seperti: Tafsir, Fikih, Tawhid, Hadis, dan sebagainya.

Tidak sedikit ulama-ulama Nusantara yang hidup dalam rentang abad XVIII-XIX melakukan kontak intelektual dengan Nawawi melalui halaqah-halaqah ilmiah di sekitar wilayah Hijâz. Kontak ini berkesinambungan dan berlanjut dalam hiruk-pikuk tradisi intelektual di tanah air. Etos intelektualisme Nawawi ini pada gilirannya ditularkan melalui aneka transmisi keilmuan dalam pelbagai kegiatan di lembaga-lembaga pendidikan tradisional (salafi) di tanah air semisal pesantren, surau, madrasah, dan sebagainya.

Pengakuan dunia Islam terhadap Nawawi tercermin dari respons dan sambutan yang sangat luas dari pelbagai kalangan ulama di seluruh dunia terhadap karya-karya beliau semisal: Kasyifat al-Sajâ, ‘Uqudu al-Lujayn fî Bayân Huqûq al-Zawjayn, Tanqîh al-Qawl al-Hatsitsi fî Syarh Lubâb al-Hadîtsi, Nashâ’ih al-‘Ibâd, dan Nihâyat al-Zayn. Kitab-kitab ini, selain amat masyhur di Nusantara, juga menjadi alternatif literatur penting bagi studi-studi keislaman di dunia Islam pada umumnya.

Namun patut disayangkan, kesadaran tentang arti penting penghargaan terhadap warisan intelektual masa lalu tampaknya kurang menjadi perioritas generasi muda kita. Meski belum ada survai yang dilakukan, tapi tampaknya kecenderungan untuk meninggalkan tradisi ulama klasik di kalangan anak-anak muda telah menjadi gejala umum dan lumrah dijumpai di sekitar kita. Amat sulit mencari sosok-sosok muda yang mengidolakan tokoh ulama Banten tempo dulu, sekaliber Nawawi sekalipun, apalagi gandrung dan bercengkrama dengan pelbagai magnum opus-nya itu.

Menghidupkan Tradisi Salafi

Menurut pengamatan penulis, dapat diperkirakan bahwa hanya sebagian kecil masyarakat Banten, santri-santri pondok pesantren, siswa-siswa madrasah/sekolah atau bahkan mahasiswa-mahasiswa yang mengenal, mengaji, dan mengkaji kitab-kitab al-Nawawi. Pada kondisi semacam inilah, pihak-pihak yang berkompeten dan memiliki kewenangan di Banten, termasuk di dalamnya LPTQ, perlu melakukan serangkaian upaya pelestarian khazanah klasik Banten melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang dapat memacu generasi muda Banten untuk mengenal, mengaji, dan mengkaji literatur-literatur klasik, khususnya kitab-kitab al-Nawawi. Penggalakan ini dapat ditempuh melaui pelbagai cara, tentu dengan disertai stimulasi (reward) yang diharapkan dapat dapat memotivasi gairah mereka.

Patut disyukuri, seperti diketahui LPTQ Provinsi Banten selama dua tahun terakhir telah memulai upaya-upaya tersebut dengan cara menjadikan qira’at al-kutub sebagai salah satu cabang yang dimusabaqahkan dalam setiap penyelenggaraan MTQ, mulai dari tingkat terendah hingga provinsi. Setahuan lalu, pada MTQ ke-4 Tingkat Provinsi Banten di Kota Rangkasbitung Kabupaten Lebak, kitab Majalis al-Saniyyah dan Nihayat al-Zayn merupakan kitab yang dibaca dalam musabaqah tersebut. Tahun ini, karena menyesuaikan dengan Musabaqah Qir’at al-Kutub (MQK) pada Tingkat Nasional, hanya Marah Labid Tafsir al-Nawawi yang menjadi salah satu kitab yang akan dibaca dalam musabaqah tersebut.

Walau dalam MQK tahun ini tidak difokuskan pada kitab-kitab al-Nawawi, tapi kehadiran MQK hampir dipastikan akan dapat meningkatkan gairah para kawula muda, khususnya para santri, untuk kembali dan terus membaca serta mengkaji kitab-kitab atau literatur-literatur klasik abad pertengahan, yang di dunia pesantren dikenal dengan sebutan “kitab kuning”, khususnya kitab-kitab al-Nawawi. Dengan demikian, penyelenggaraan MQK memiliki makna penting dan strategis di provinsi Banten yang dikenal memiliki tradisi salafi dan etos keberagamaan yang tinggi ini, yaitu sebagai pendorong generasi-generasi muda Banten untuk mengenal, mengaji, dan mengkaji kembali kitab-kitab kuning, khususnya kitab orang Banten sendiri, Syeikh Nawawi al-Bantani (al-Jawi). Dengan begitu, akan muncul kebanggaan dan bahkan figurisasi Nawawi, serta lebih jauh diharapkan dapat membentuk pola  intelektualisme dalam diri generasi muda Banten.

Mengenal, mengaji, dan mengkaji kitab-kitab al-Nawawi paling tidak akan menjadi tujuan jangka pendek diadakannya MQK. Untuk mencapai tujuan tersebut, menurut penulis, sejatinya semua pihak terkait, khususnya pemerintah daerah memberikan dukungan yang sungguh-sungguh, mislanya dengan menyediakan bantuan finansial kepada pelajar, santri, dan mahasiswa yang hendak melakaukan penelitian mengenai Nawawi, baik dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, maupun penelitian lepas lainnya seputar al-Nawawi.

Untuk lebih mengembangkan tradisi salafi ini, agaknya perlu juga dilakukan perluasan dari sisi obyek pembinaan atau sosialisasi. Hemat penulis, tidak ada salahnya jika penyelenggaraan kompetisi qira’at al-kutub tidak sebatas pada event MTQ. Perlu dimulai kerjasama antara pemerintah derah, LPTQ, dan khsusunya Departemen Agama untuk menggelar sebuah kompetisi yang diikuti oleh, misalnya,  para penghulu KUA se-Provinsi Banten. Kitab yang dibaca adalah ‘Uqud al-Lujayn fi Bayân Huqûq al-Zawjayn. Penulis menduga, sangat mungkin penghulu di Banten ini masih banyak yang belum mengkaji kitab al-Nawawi yang menjelaskan hak dan kewajiban suami-isteri ini. Penulis juga mengusulkan agar LPTQ mempelopori penulisan kitab-kitab mukhtashar berbahasa Arab yang meringkas kitab-kitab al-Nawawi.

Atau dapat juga yang bersifat perwakilan institusi pendidikan tradisional, misalnya lomba qiraat al-kutub antar pondok pesantren salaf. Mata lomba ini misalnya diusulkan agar dimasukkan sebagai salah satu matalomba dalam event Pekan Olah Raga dan Seni antar Pondok Pesantren Nasional atau disingkat POSPENAS, yang hingga kini sudah penyelenggaran yang ketiga kalinya pada level nasional: al-Zaytun Jawa Barat (2001), Palembang Sumsel (2003), dan terakhir di Medan Sumut (2005). Jika ini berhasil dilakukan, maka dapat dibayangkan peningkatan gairah dan semangat mengkaji literatur-litertur salafi akan mem-booming.

Usulan-usulan ini terkait dengan sasaran jangka panjang, yakni lahirnya Nawawi-Nawawi baru di dan atau dari Banten, yang mampu juga menghasilkan kitab-kitab yang berkualitas. Dengan munculnya Nawawi-Nawawi baru di atau dari Banten ini, maka diharapkan Banten akan menjadi “pusat keilmuan atau khazanah klasik dan tempat orang menimba ilmu”. Dahulu, sebelum Syeikh Nawawi lahir, Banten pernah menjadi salah satu alternatif tujuan favorit orang menimba Ilmu. Sebelum Syeikh Yusuf al-Makassari, seorang ulama asal Makasar yang kemudian menjadi Mufti Kerajaan Banten yang juga digelari Taj al-Khalwat, belajar ke Timur Tengah, maka terlebih dahulu beliau belajar di Banten.

Dengan memperhatikan sisi historis dan potensi yang dimiliki Banten, maka rasa-rasanya sangat tidak mustahil akan lahirnya Nawawi-Nawawi baru di tatar Banten ini, dan lebih jauh lagi Banten menjadi tempat yang paling dicari para penuntut ilmu, baik dari sekitar Nusantara maupun mancanegara. Di sinilah arti penting penyelenggaraan MQK, paling tidak menjadi langkah awal bagi terwujudnya sasaran jangka panjang, yaitu lahirnya Nawawi-Nawawi baru dan Banten sebagai pusat keilmuan atau center of exellence. Semoga.[]

3 Tanggapan

  1. ass..saya ingin data lengkap mengenai kitab uqud al-lujayn untuk penyempurnaan skripsi sya..trima kasih.

  2. DAERAH SUMATRA UTARA
    di mna akan di adakan mqk
    by : Rianrinaldi

  3. betullllll……
    kita sebagai bangsa indonesia telah banyak mempunyai ulama-ulama yang telah mengembangkan pemikaran tentang keislaman yang di poles dengan berbagai tradisi……
    perlu dilestarikan dan dikembang trussssssssssssssssssss…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: