Hj. Ratu Atut Chosiyah (Plt. Gubernur Banten): MTQ Diharapkan Dapat Meningkatkan Etos Keberagamaan Masyarakat

Serang-JT, 2006: Jurnal “Tilâwah” berkesempatan bincang-bincang dengan Ibu Hj. Ratu Atut Chosiyah, Plt. Gubernur Banten. Seperti diketahui, orang nomor satu di tatar Banten ini termasuk memiliki perhatian yang besar terhadap pelbagai kegiatan keagamaan, seperti halnya MTQ. Dalam setiap penyelenggaraan MTQ, baik tingkat Kabupaten/Kota, terlebih Tingkat Provinsi, hampir dipastikan beliau menyempatkan hadir. Dan menurut catatan Jurnal “Tilâwah”, Ibu Atut, demikian beliau biasa dipanggil, kerap menjenguk kafilah Banten pada setiap event penyelenggaraan MTQ/STQ Tingkat Nasional. Berikut petikan wawancara Ahmad Tholabi Kharlie dari Jurnal “Tilâwah” dengan Ibu Hj. Ratu Atut Chosiyah.

Selain sebagai sesuatu yang niscaya keberadaannya (SKB Menag dan Mendagri No. 19/1977/No.151/1977), menurut Ibu apa urgensi kehadiran LPTQ di tatar Banten ini?

Masyarakat Banten dikenal luas sebagai komunitas yang bercorak agamis dengan berbagai sisi keunggulan yang dimiliki, termasuk potensi dalam bidang tilwatil Qur’an. Banyak sosok-sosok masa lalu Banten yang dianggap sebagai maestro dalam bidang ini seperti Syeikh Ma’mun, K.H. Soleh Ma’mun, dan murid-muridnya. Ini kan masa lalu. Apakah etos itu sekarang diwarisi oleh generasi muda kita? Belum tentu! Oleh karena itu, Pemerintah Daerah dalam hal ini perlu memfasilitasi dengan cara menyelenggarakan berbagai aktivitas yang dapat merangsang masyarakat untuk bergiat mengaji al-Qur’an. Di sinilah arti penting keberadaan LPTQ.

Sejak kepengurusan LPTQ Banten dikukuhkan lima tahun yang lalu, berdasarkan Keputusan Gubernur Banten Nomor: 451.15/SOSBUD/34/ 2001, lembaga ini telah menunjukkan kiprah sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Bagaimana Ibu menilai kinerja LPTQ Banten?

Bagaimanapun, usia empat atau lima tahun belumlah cukup dijadikan tolok ukur kinerja. Tapi sejauh ini saya menilai kinerja LPTQ secara umum cukup baik dan membanggakan. Penilaian ini paling tidak dapat kita lihat dari dua indikator. Pertama indikator penyelenggaraan kegiatan musabaqah dan kedua pembinaan kader MTQ. Dari keempat penyelenggaraan MTQ tingkat Provinsi, semuanya berjalan sukses yang ditandai tingginya tingkat partisipasi masyarakat dan perhatian pemerintah pusat. Dan raihan prestasi Banten di pentas MTQ Nasional menunjukkan keberhasilan pembinaan yang dilakukan LPTQ Banten. Meski demikian, LPTQ harus terus melakukan konsolidasi internal dan eksternal dengan berbagai unsur yang terkait langsung maupun tidak langsung untuk menopang seluruh program kerja LPTQ. Dan perlu terus mengembangkan atau memperluas fungsi dan tugas LPTQ agar lebih dapat berdayaguna dan benar-benar dirasakan keberadaannya oleh masyarakat.

LPTQ merupakan salah satu ujung tombak pembangunan bidang mental spiritual yang menjadi bagian dari tugas pemerintah. Menurut Ibu, seberapa besar syiar atau dampak sosial-keagamaan yang ditimbulkan dari penyelenggaraan MTQ?

Menurut saya, MTQ bukan sekadar kegiatan keagamaan. Tapi juga menyuguhkan gebyar kebudayaan masyarakat yang islami. Melalui MTQ, kesadaran keberagamaan masyarakat sekaligus semangat pelestarian budaya yang bernuansa agamis kian tumbuh subur, terlebih di tengah derasnya arus transformasi budaya yang cenderung bertentangan dengan nilai-nilai lokal. Saya melihat, selain peningkatan semangat membaca dan mengkaji al-Qur’an yang ditandai maraknya lembaga-lembaga pendidikan al-Qur’an seperti pesantren al-Qur’an, PTA, TKA, dan berbagai kegiatan pengkajian tentang al-Qur’an, masyarakat juga tampaknya bergiat dalam pengembangan seni islami lainnya seperti qasidah, marawis, yalil, shalawat, dan sebagainya.

Sebagai bagian dari pemerintah, tentu saja LPTQ tidak bisa dilepaskan dari induknya (pemerintah daerah). Nah, seberapa besar dukungan dan komitmen (baik moral maupun finansial) pemerintah daerah terhadap keberadaan LPTQ dan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan?

Benar, LPTQ menjadi salah satu ujung tombak Pemerintah Daerah dalam bidang keagamaan. Oleh karena itu secara kelembagaan kami menaruh perhatian secara proporsional terhadap keberadaan LPTQ. Bahkan, sesuai dengan peraturan yang ada, struktur organisasi LPTQ harus melibatkan unsur Pemda secara ex officio, yakni Sekretaris Daerah, yang menjabat sebagai Ketua Umum. Dengan demikian, pada tataran administratif LPTQ dan Pemda bukan dua hal yang terpisah, tapi menyatu dan padu. Hanya saja, pada tataran praksis pengurus harian lebih berkompeten. Kami akan dan selalu memberikan apa yang menjadi tugas dan wewenang kami.

Kita tahu, sejak Banten mengirimkan duta-duta MTQ ke tingkat Nasional, prestasi Banten bisa dibilang cukup memuaskan. Putera-puteri Banten menunjukkan kebolehannya di pentas nasional. Sejauh ini apa reward (penghargaan) pemerintah Provinsi Banten untuk putera-puteri terbaiknya tersebut?

Pada prinsipnya, Pemerintah Daerah sangat respek dengan prestasi yang diraih putera-puteri Banten. Sudah sejak awal kami mengambil kebijakan untuk memberikan penghargaan yang layak bagi mereka yang berprestasi, tentu saja sebatas kemampuan kami. Misalnya, bagi mereka yang meraih terbaik pertama pada event-event nasional,  selama ini kami memberikan bonus ONH (ongkos naik haji). Ini sudah berjalan selama beberapa tahun ke belakang. Selain itu, kami juga menawarkan beasiswa bagi mereka yang akan atau masih menempuh studi. Semua ini diharapkan dapat memicu semangat mereka untuk terus berprestasi dan memacu peningkatan kualitas diri putera-puteri Banten.

Grafik prestasi Banten dari tahun ke tahun terus meningkat. Bahkan pada pelaksanan STQN XVIII di Provinsi Gorontalo setahun yang lalu Banten ternyata mampu bertengger di posisi ketiga. Bagaimana perasaan Ibu menyambut prestasi ini?

Sebagai Pimpinan Daerah, tentu saya sangat bangga dan terharu. Prestasi ini tak mungkin diraih tanpa kerja keras dan jalinan kerja yang sinergis antara masyarakat dan Pemerintah Daerah. Bagaimana tidak, dalam usia yang sangat muda dan pengalaman yang masih minim, ternyata kita mampu bersaing dengan saudara-saudara kita yang sudah lebih dulu eksis dan kaya pengalaman. Ini artinya, bahwa bukan tidak mungkin Banten akan lebih berprestasi di masa-masa yang akan datang.

Tahun ini akan digelar perhelatan MTQ terakbar di negeri ini, yakni MTQ Nasional XXI di Kendari Sulawesi Tenggara. Apa target Banten, atau ada keinginan merebut Kejuaraan Umum?

Ada adagium yang menyatakan bahwa mempertahankan lebih sulit ketimbang mendapatkan. Memang, prestasi Banten selama ini cukup memuaskan. Tapi, sebagai wilayah yang sangat potensial, baik secara historis maupun tradisi, tentu saja target perolehan semestinya terus ditingkatkan, karena tidak tertutup kemungkinan kita bisa meraih yang terbaik (sebagai juara umum) pada perhelatan tahun ini. Pemerintah Daerah sangat mendukung pencapaian itu. Tapi tentu tidak mudah mewujudkan keinginan itu, karena semua daerah pasti akan berlomba mendapatkannya. Untuk itu, saya minta LPTQ bekerja ekstra, terutama dalam mempersiapkan kader-kader yang akan dikirim ke MTQN. Para dewan hakim dan pembina harus lebih jeli memilih calon duta-duta Banten. Pemikiran-pemikiran yang bersifat sektoral dan pragmatis harus dibuang jauh-jauh. Semuanya harus diorientasikan pada perjuangan Banten di pentas nasional, bukan lagi berfikir bagaimana memperjuangkan Kabupeten/kota.

Salah satu keputusan penting Musyawarah Nasional LPTQ XI beberapa waktu lalu adalah mengenai penunjukkan Banten sebagai tuan rumah MTQN XXII tahun 2008. Tampaknya, ini sekaligus mempertegas gagasan Menteri Agama yang ingin menghapus STQN, dan menambah frekuensi penyelenggaraan MTQN menjadi sekali dalam dua tahun. Bagaimana Banten menyikapi penunjukan tersebut? Dan bagaimana persiapan Banten menghadapi momentum sangat penting itu?

Penunjukkan atau lebih tepatnya penawaran menjadi tuan rumah perhelatan akbar ini merupakan penghargaan Pemerintah Pusat bagi masyarakat Banten. Kita pantas tersanjung karenanya. Dari sisi infrastruktur agaknya kita cukup memiliki kesiapan. Hanya saja, dari sisi sumber daya manusia, kita masih belum memiliki pengalaman, karena kita belum pernah menyenggarakan event yang setara, semisal STQN. Tapi jika semua komponen masyarakat menghendaki, kita siap menggelar kegiatan itu dan bertekad menjadi tuan rumah yang baik. []

Dikutip dari Rubrik Silaturahmi Jurnal “Tilawah” LPTQ Tingkat Provinsi Banten Edisi Tahun 2006.

3 Tanggapan

  1. Salam silaturrahmi Ustadz….

  2. U/ lebih menambah wawasan&pengetahuan agar bertambah ilmu&mencapai tujuan kesejahteraan lahir&batin bisa minta address/email/hp Bunda Ratu atut mdh2x tetep sehat sekluarga &memimpin Banten jadi Makmur gemah ripah lohjinawi titi tentrem lan Raharjo thanks att

  3. http://merampok-santun-airin-rachmi-diany.blogspot.com/

    Aktivis Tangsel Tuntut KPK Tangkap Ratu Atut Chosiyah
    Sabtu, 27 Maret 2010, 14:51:37 WIB

    Laporan: Widya Victoria
    Su,ber: http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2010/03/27/90287/Aktivis-Tangsel-Tuntut-KPK-Tangkap-Ratu-Atut-Chosiyah

    Jakarta, RMOL. Banyak kasus korupsi di Propinsi Banten dibiarkan mengendap begitu saja. Aparat hukum malah terkesan main mata dengan para koruptor.

    “Lihat saja proses hukum Gubernur Banten (Ratu Atut Chosiyah), sampai sekarang tanpa kepastian yang jelas dari KPK,” demikian papar koordinator Forum Aktivis Tangerang Selatan (FAT), Raditya Hidayat saat gelar aksi di depan kampus STIE Ahmad Dahlan, ciputat, Tangsel, Sabtu (27/3).

    FAT yang mayoritas terdiri dari kalangan mahasiswa ini mencatat sejumlah dugaan kasus penyelewengan dan penyalahgunaan uang negara yang disinyalir dilakukan Atut dan jajarannya. Beberapa diantaranya dalam pengadaan obat fiktif pada dinas kesehatan propinsi Banten dengan dana APBD senilai Rp 1,192 miliar, pembayaran pengadaan bangunan kantor penghubung propinsi Banten sebesar Rp 1 miliar, bantuan keuangan desa/kelurahan se–propinsi Banten sebesar Rp 46,5 miliar, termasuk bantuan sosial kepada partai politik sebesar Rp 1 miliar.

    “Kami mendesak KPK untuk segera menangkap dan mengadili Ratu Atut Chosiyah, Kepala Dinas Kesehatan Djadja Buddy Suhardja, dan Kepala Dinas PU, M. Shaleh yang sekarang menjadi Walikota Tangerang Selatan dan Chery Wardana alias Wawan selaku mafia proyek tanpa alasan apapun,” seru Raditya dalam pernyataan sikap FAT.

    Massa dalam aksinya juga menuntut agar masyarakat Tangsel tidak percaya dengan segala apapun yang dilakukan oleh Atut karena telah jelas-jelas merugikan rakyat. Selain itu, FAT menyerukan kepada masyarakat Tangsel agar mewaspadai segala kebaikan Airin Rachmi Diany yang turut mencalonkan diri menjadi walikota Tangsel. [wid]

    Komentar oleh Airin Rachmi Diany

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: