Menag: Pemikiran Islam yang Tak Sejalan Harus Dikaji: Corak Pemikiran Mahasiswa Dipengaruhi Dosen, Kurikulum, dan Literatur.

JAKARTA-REPUBLIKA-Pemikiran keagamaan intelektual Muslim yang kurang sejalan dengan pemahaman keagamaan umum perlu dicermati dan dikaji. Demikian dikatakan Menteri Agama M Maftuh Basyuni pada Seminar bertema ‘Membaca Ulang Orientasi Pemikiran Kaum Intelektual Muslim UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah’. Seminar itu ditujukan membahas citra ‘liberal’ UIN di masyarakat Muslim, di Jakarta, selasa. ”Kita perlu mengantisipasi dan menemukan langkah strategis agar pemikiran demikian itu tidak semakin berkembang, kata Menag dan menambahkan bahwa hal itu tidak berarti pihaknya menolak perbedaan pendapat. Menag mengatakan intelektual Muslim yang mempunyai pemahaman keagamaan yang membingungkan, meresahkan dan menyebabkan pendangkalan akidah maka perlu dikaji. Menag mengatakan intelektual Muslim sebaiknnya tidak hanya menyampaikan pendapat tapi juga bersedia mendenar pemikiran dan kritik pihak lain. Menag juga mengatakan, ulama dan intelektual Muslim seharusnya mencerahkan umat ditandai dengan menambah wawasan, pengetahuan dan mempertebal keyakinan kepada Allah SWT, mendorong memperbanyak ibadah dan amal shaleh, dan menghindari permusuhan. ”Pimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) harus memantapkan posisinya sebagai lembaga yang mampu melahirkan sarjana agama yang layak menyandang prediket ulama serta memiliki komitmen keislaman yang kuat,” kata Menag lagi. Menag mengatakan corak pemikiran mahasiswa itu dipengaruhi dosen, kurikulum, serta literatur yang dibaca. Karena itu Menag berharap pejabat yang terkait mengkaji kurikulum dan referensi bagi mahasiswa. ”’Selain itu kesempatan belajar bagi para dosen pada jenjang S2 dan S3, khususnya yang mengampu mata kuliah keagamaan, hendaknya diarahkan ke lembaga pendidikan Islam yang dibina oleh para dosen dan pakar dari kalangan Muslim sendiri,” papar Menag. Alasannya, dosen terbaik dalam kajian Islam adalah para ahli yang memahami, meyakini kebenaran ajaran Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maftuh mengakui ayat-ayat Alquran maupun teks hadis Nabi Muhammad SAW terbuka terhadap aneka penafsiran. ”Keragaman pendapat dalam memahami sebuah ayat Alquran tak dapat dihindari. Perbedaan pendapat di antara ulama terkemuka selama ini dapat dijembatani. Sebab mereka semua berangkat dari niat suci untuk memahami dan menjelaskan makna yang terkandung pada firman Allah,” kata Menag. Cara pandang negatif dari kelompok masyarakat, kata Maftuh,sudah ada sejak masa Rasulullah. Dia juga mengakui kelemahan umat Islam adalah sulit bersikap terbuka dan dewasa menghadapi perbedaan. ” Alih-alih membuka diri dengan penganut agama lain, sikap saling curiga bahkan mewarnai hubungan antar sesama pemeluk Islam.” Pembicara lain, Ahmad Tholabi Kharlie mengungkapkan bahwa potensi konflik sebagai buah dari keragaman pemahaman keagamaan memang telah lama disadari sebagai sebuah ‘bahaya laten’. ”Sejarah sosial keagamaan umat Islam klasik telah banyak mengurai peristiwa kelam yang menggambarkan betapa rapuhnya sikap kesepahaman dan penghargaan terhadap perbedaan di anhtara Umat islam,” papar Tholabi yang juga Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah. ant/osa ( ) Sumber: Republika Online, 23/1/2008

2 Tanggapan

  1. contohnya Jaringan Islam Liberal, pemikirannya nyeleneh semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: