Quo Vadis Pembinaan Alquran di Banten

Cita Banten sebagai sentra pembinaan skill dan pengembangan studi Alquran harus segera diwujudkan. Masyarakat Banten sejatinya telah sekian lama menyandang romantisme historis dan ingatan kolektif tentang dinamika dan eksistensi Banten yang amat diperhitungkan di wilayah Nusantara, bahkan dunia, terutama dalam konteks ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni pada ranah kajian dan skill seni Alquran. Inilah salah satu modal dasar bagi upaya mewujudkan Banten menuju masyarakat religius yang bercirikan iman dan takwa.

Namun di lain pihak, fakta ini disinyalisasi telah pula melahirkan aneka kecenderungan dan sikap kontraproduktif dalam worldview masyarakat. Pada pelbagai kesempatan saya sering menyampaikan kegamangan dan kekhawatiran tentang hal ini, yakni bahwa masyarakat Banten telah dininabobokan oleh persepsi yang terlampau masygul dengan pepujian dan kekaguman masa lalu yang cenderung menjebak. Jika gejala ini tidak segera disadari, maka bukan tidak mungkin hasrat menggebu untuk menjadikan Banten sebagai center of excellence di bidang pembinaan Alquran hanya terhenti pada kisah masa lalu dan isapan jempol belaka.

Bercermin pada Sejarah

Jika sekilas menyimak sepak terjang Banten dalam pelbagai kompetisi Alquran tingkat nasional, terutama pada satu dekade ke belakang, maka dinamika itu tampak berjalan fluktuatif, tidak stabil, atau bahkan cenderung menurun. Kenyataan ini jelas tidak mendukung asumsi publik yang menempatkan provinsi Banten sebagai kekuatan yang sangat diperhitungkan.

Secara de facto, keikutsertaan Banten dalam pelbagai event kompetisi Alquran di tingkat nasional sejatinya telah dimulai sejak masih bergabung dengan saudara tuanya, Jawa Barat. Sebagai bagian integral dari provinsi bersuku Sunda itu—bahkan dalam beberapa hal kerap dijadikan sebagai masterpiece Jawa Barat—Banten telah banyak memberikan sumbangsih bagi kejayaan Jawa Barat, yang dikenal sebagai “kampiun” MTQ karena hampir selalu merajai setiap penyelenggaraan MTQ/STQ tingkat Nasional.

Terutama di bidang tilawah Alquran dan hifzh Alquran, putra-putri Banten tidak jarang menjadi ikon kedigdayaan Jawa Barat di pentas Nasional. Meraka yang telah mengukir prestasi itu antara lain: H. Bahauddin (Serang), H. Tb. Hafidz al-Abbas (Serang), H. Syihabuddin (Tangerang), H. Azizi (Lebak), H. Abdul Basith (Tangerang), H. Rahmatullah (Serang), H. Rois M. Sai (Cilegon), dan sebagainya. Mereka telah menunjukkan prestasinya yang luar biasa dan telah mengangkat komunitas qari/qariah dan hafizh/hafizhah Banten pada presisi yang terhormat.

Di samping nama-nama tersebut, tidak sedikit nama-nama besar lainnya yang juga pernah mengukir prestasi melalui daerah lain (di luar Jawa Barat), seperti DKI Jakarta, Lampung, Jambi, dan sebagainya. Di antara mereka itu adalah: K.H. Ali Sobri Man’us (Cilegon/Serang), H. Humaidi Hambali (Pandeglang), H. Hawasyi Nawawi (Tangerang), Nur Asiah Amin (Cilegon), Nafis Kurtubi (Serang), dan sebagainya. Mereka tidak hanya mampu berjaya di pentas Nasional, tapi juga berhasil mengibarkan sang “Merah Putih” di pentas dunia Internasional, seperti di Malaysia, Saudi Arabia, Thailand, Iran, UEA (Abu Dhabi), dan sebagainya.

Keunggulan putra-putri Banten dalam bidang tilawah maupun tahfizh bukan tanpa akar sejarah. Oleh karena itu, kiranya tidak berlebihan jika terdapat klaim bahwa Banten adalah salah satu ikon tradisi tilawah Alquran di seantero Nusantara. Jargon-jargon tentang Alquran akan serta-merta dinisbatkan kepada Banten. Ini sangat masuk akal mengingat sederet nama besar tokoh-tokoh ahli Alquran Indonesia, terutama masa klasik, merupakan representasi putera Banten yang dipelopori antara lain oleh syeikh Ma’mun, putera-puteri, dan murid-muridnya.

Kehadiran mereka di tatar Banten seolah kian memancarkan pesona religiusitas masyarakat Banten yang memang telah ditunjukkan melalui kebesaran dan ketangguhan kesultanan Banten tempo doeloe. Seperti dikisahkan dalam pelbagai catatan sejarah dan cerita yang berkembang dalam masyarakat, mengenai keunggulan yang ditunjukkan oleh para perintis tilawah Alquran asal Banten sekaliber syeikh Ma’mun yang telah menggeser dominasi para qari Timur Tengah sekalipun.

Demikianlah, sejarah menjadi cermin. Oleh karenanya, seharusnya kita me-review seraya belajar pada kejayaan masa lalu itu. Kini Banten terlahir kembali, sebagai provinsi baru, tentu saja dengan segenap potensi dan keunggulannya. Meski harus dimulai dari rintisan, tapi tentu saja fundamental kita sungguh sangat memadai. Dan ini kemudian dibuktikan dengan keikutsertaan Provinsi Banten pada pelbagai event musabaqah, baik Nasional maupun Internasional.

Revitalisasi LPTQ

Untuk mengembalikan romantisme historis itu, diperlukan perhatian tulus, kerja keras, dan jalinan kerja sama yang sinergis dari segenap unsur masyarakat Banten, baik eksekutif, legislatif, ulama, hingga masyarakat pada umumnya. Sejauh ini, Pemerintah, melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) antara menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, telah membentuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) yang secara eksklusif menjalankan fungsi pembinaan dan pengembangan potensi tilawah Alquran mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

Sebagai sebuah institusi, LPTQ akan terus berkembang dan menghadapi tantangan yang kian dinamis selaras dengan laju perubahan sosial budaya masyarakat. Dinamika semacam ini wajar dan pasti akan terjadi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka baik secara personal maupun institusional, LPTQ perlu terus melakukan konsolidasi dan penguatan-penguatan dari aspek kelembagaan.

Oleh karena itu, maka penataan kelembagaan dan penerapan manajemen modern dalam pengelolaan serta peningkatan kemampuan sangat diperlukan. Di sisi lain, peningkatan kualitas pengurus LPTQ menjadi agenda yang perlu mendapat prioritas. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah yang dari waktu ke waktu menempatkan agama pada posisi dan fungsi yang strategis.

Secara umum, eksistensi LPTQ pada masa-masa yang akan datang semakin strategis sejalan dengan perkembangan arus demokratisasi, perubahan pranata pemerintahan, dan lembaga lembaga kepemerintahan dan lembaga-lembaga keagamaan serta dinamika masyarakat. Maka dalam konteks inilah LPTQ Tingkat Provinsi Banten harus dapat menempatkan dirinya secara tepat dan proporsional sehingga kehadirannya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Dengan demikian, lingkup tugas dan wewenang LPTQ yang diimplementasikan melalui pelbagai program kerja tidak terbatas pada kegiatan gebyar seremonial an sich, seperti penyelenggaraan MTQ. LPTQ harus memosisikan diri sebagai institusi keagamaan yang dinamis dan progresif. Untuk itulah garis kebijakan dan program kerja LPTQ harus benar-benar bernilai guna dan berdampak positif terhadap peningkatan minat, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Alquran di tengah-tengah masyarakat Banten. Tentu, antusiasme masyarakat Banten dalam meraih cita dan jati diri yang religi akan kian berarti dan menemukan momentumnya jika disokong oleh kekuasaan yang peduli. [] HU Fajar banten, 4/12/2009

Satu Tanggapan

  1. nice blog gan….thanx

    NASIB MASJID AL-AQSA DAN PENDIRIAN BAIT SUCI KE-III DI ISRAEL.
    http://www.penuai.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: