Banten Berpeluang Maju

MENCERMATI peluang konstitusional Provinsi Banten yang lahir melalui UU No. 4/2000 ini, secara yuridis formal telah terbuka peluang seluas-luasnya menjadi provinsi yang bersendikan ajara-ajaran Islam, dengan-meminjam terminologi Aceh Darussalam-menjadi provinsi “Banten Darussalam”.

Terminologi “Darussalam” sesungguhnya terambil dari dua suku kata bahasa Arab, yakni “dar”, yang berarti rumah, tempat, atau negara. Sedangkan “al-Salam” berarti keselamatan atau kedamaian. Dengan demikian, “Darussalam” secara generik berarti ne-geri yang damai dan selamat dari pelbagai bencana. Dalam terminologi ini maka yang di-maksud dengan ‘keselamatan’ adalah agama Islam. Yakni negeri yang di-lingkupi  oleh  nuansa kedamaian yang dilandasi oleh pelaksanaan nilai-nilai semangat keislaman (‘izz al-Islam wa al-Muslimin) secara konsisten dan komprehensif (kaffah).

Menyangkut peluang Provinsi Banten menyandang predikat “Banten Darussa-lam”, dengan pengertian dan pelbagai konsekuensinya seperti yang saya kemukakan di atas, pakar hukum (Islam) dan Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, M.A., S.H. (2001)—yang juga putera daerah Banten—me-niscayakan peluang Banten Darussalam menjelma menjadi kenyataan. Menurut beliau, inti dari penjelmaan provinsi Banten Darussalam adalah persoalan implementasi hukum Islam atau syariat Islam dalam pelbagai kebijakan yang digariskan pemerintah daerah dan perilaku kolektif masyarakat Banten. Oleh karena itu, perwujudan Banten Darus-salam berarti menjelmakan seluruh aspek hukum Islam menjadi  sistem formal (baca. Positif) yang diberlakukan di Banten.

Dalam pandangan Amin, hukum Islam (syariat Islam) berpeluang diformali-sasikan dalam bingkai provinsi Banten Darussalam dengan mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, jika menilik sejarah Banten “tempo doeloe”, maka implementasi syariat Islam harus diakui adalah bagian dari sejarah kejayaan kesultanan Banten. Dahulu, Banten dikenal sebagai bangsa yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam dan pelbagai ajarannya. Pada sekitar abad XVI, di Banten telah berdiri kukuh sebuah sistem pemerintahan yang berbentuk kesultanan, yakni Kesultanan Banten. Kesultanan ini tidak saja maju dalam hal perekonomian—karena memiliki persinggahan ekonomi yang cukup strategis, yakni pelabuhan dagangnya—namun juga Banten disegani karena sangat me-nonjol dalam hal pengembangan ilmu-ilmu keislaman dan pengamalan ajarannya, baik pada level penguasa maupun di kalangan rakyat jelata (grass root). Dan pada aspek teologis inilah, secara umum, yang menjadikan Banten juga menjadi momok yang sangat ditakuti kaum penjajah. Fenomena ini tampak jelas, jika dilihat dari perspektif per-juangan Bangsa Indonesia. Di samping sejarah kejayaan kesultanan Banten dengan pel-bagai kedigjayaannya, Aceh Darussalam pun dapat dijadikan contoh betapa bangsa yang dilandasi semangat keislaman yang tinggi mampu bertahan dari kehancuran yang diaki-batkan oleh kolonialisme Barat.

Kedua, melihat realitas masyarakat kekinian, tampaknya secara psikologis dan sosiologis, masyarakat Banten memiliki kesiapan yang cukup bagus.  Tradisi keagamaan yang kental, kemudian didukung infra struktur serta kuatnya komitmen pemerintah dae-rah terhadap kehidupan keagamaan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat Banten telah siap mental menghadapi otonomisasi, dalam hal ini formalisasi syariat Islam.

Ketiga, melihat kebutuhan masyarakat ke depan, format provinsi Banten Darus-salam agaknya tidak dapat ditawar-tawar lagi. Karena kehidupan pada beberapa dekade ke depan akan sangat rentan dengan pelbagai tantangan, terutama tantangan budaya yang semakin mengglobal. Globalisasi informasi yang membawa pelbagai dampak negatif terhadap eksistensi budaya lokal serta nilai-nilai akhlakul karimah tidak ada pilihan lain, harus dilakukan upaya antisipatif—selain dengan pembinaan internal—dengan menerap-kan sebuah sistem hukum yang benar-benar akan memberikan jaminan atau setidaknya dapat meminimalisasi pelbagai dampak negatif tersebut. Maka pilihannya  tidak lain, syariat Islam.

Merujuk kepada ketiga argumen di atas, maka saya optimis, bahwa provinsi Banten Darussalam, saat ini memang layak diwujudkan, tentu saja dengan tidak melu-pakan pertimbangan-pertimbangan teknis yang justru sering menjadi penghambat bagi terealisasikannya upaya implementasi tersebut.

Untuk mewujudkan Banten Darusslam, terlebih dahulu agaknya perlu dilakukan beberapa langkah-langkah strategis berikut ini. Pertama, perlu adanya komitmen bersama antara pihak pemerintah dengan masyarakat, dalam hal ini legislatif, mengenai perubahan paradigma mendasar tersebut. Hal ini penting agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kelak di kemudian hari.

Kedua, pihak-pihak yang berwenang segera menyusun konsep yang matang menyangkut implementasi hukum Islam, baik pada dataran global maupun praksis spesifik. Karena ketidakjelasan konsep dapat berakibat kontraproduktif, terutama pada aspek  yuridis, yang juga akan berimplikasi pada dataran grass-root.

Ketiga, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai hasil-hasil perumusan dan penetapan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang tersebut.

Dan yang keempat, pemerintah sebagai pihak yang berkewajiban menegakkan hukum-hukum tersebut dituntut untuk melaksanakan secara konsisten dan tegas. Karena tanpa konsistensi dan ketegasan, toh akhirnya hukum hanya menjadi slogan murahan belaka.

Akhir al-kalam, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kita berharap pro-pinsi Banten akan menjadi wilayah yang memiliki jati diri yang dapat dibanggakan. Jati diri yang memiliki akar kejayaan sejarahnya yang lampau. Namun, apapun usaha yang dilakukan semuanya tak lepas dari keinginan kita meraih kesejahteraan hidup dalam pengertian yang sesungguhnya. Nah, kalau memang komitmen terhadap pewujudan provinsi Banten Darussalam akan membawa kita kepada tujuan itu, maka mengapa kita tidak berusaha  ke arah sana? Wallahu a’lam bi al-shawab. [] (Fajar Banten, 2001)

Satu Tanggapan

  1. Terima kasih Pencerahannya..
    Salam
    Banten

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: