MTQ dan Pembangunan Banten

Menyambut pergelaran budaya keagamaan terakbar di ranah Banten, yakni Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) VI Tingkat Provinsi Banten, sejumlah persiapan, baik teknis maupun non teknis, serta pelbagai kesibukan mulai merasuki denyut keseharian ibukota Provinsi Banten. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor: 417.15/kep.82-huk/2007, Serang ditetapkan sebagai tuan rumah penyelenggaraan MTQ VI Tingkat Provinsi Banten setelah bergulir selama lima tahun di lima kabupaten/kota se Banten.

Banyak kalangan berharap penyelenggaraan MTQ yang digelar pada 30 April hingga 5 Mei 2007 ini akan mengalami peningkatan, baik dari sisi kuantitas dan kualitas kader qari/qariah, hafizh/hafizhah, mufassir/mufassirah, khattat/khattatah, dan sebagainya, maupun peningkatan aspek kualitas penyelenggaraan, yakni penyelenggaraan yang modern dan profesional serta dilandasi semangat ukhuwwah islamiyyah, ukhuwwah wathaniyah, dan etos pembangunan umat dalam arti yang seluas-luasnya. Ya, penyelenggaraan MTQ Provinsi Banten tahun ini memang sejatinya berimbas secara positif bagi tumbuh dan berkembangnya etos pembangunan bagi masyarakat Banten.

MTQ dan Demokrasi Banten

Belum lekang dari memori kolektif kita pada peristiwa politik yang amat bersejarah dan berkesan dalam sanubari masyarakat Banten, yakni pesta demokrasi dalam rangka Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung. Momentum penting ini telah menorehkan sejarah baru dalam aras politik Nasional, yakni terpilihnya Ratu Atut Chosiyah sebagai gubernur perempuan pertama di Indonesia yang dipilih secara langsung dan demokratis oleh masyarakat.

Terpilihnya Atut seolah menepis anggapan publik, atau lebih tepatnya personifikasi pemahaman keagamaan masyarakat Banten, yang digambarkan rigid, kaku, dan dalam batas-batas tertentu fundamentalistis. Pro-kontra seputar eksistensi pemimpin perempuan yang seolah-olah kontradiktif dan cenderung meruncing di kalangan ulama dan cendikiawan Banten, atau bahkan pada tataran akar rumput, kemudian serta-merta luruh dengan tampilnya Atut secara meyakinkan untuk memimpin Banten lima tahun ke depan dan sekaligus mengukuhkan diri sebagai pemimpin perempuan yang sarat potensi untuk mewujudkan Banten yang makmur, adil, dan sejahtera dalam naungan ridha Allah Swt.

Kenyataan politik tersebut sekaligus membuktikan bahwa pertarungan wacana ideologis yang bersifat akademis klasik seputar kepemimpinan perempuan telah disikapi secara akademis dan ilmiah pula oleh masyarakat Banten dalam wujud penerimaan secara politis atas terpilihnya Atut yang, diakui atau tidak, sempat melahirkan kekhawatiran banyak kalangan, khususnya kalangan “tradisionalis garis keras” terhadap masa depan Banten di bawah kepemimpinan perempuan. Dari titik ini, tampaknya Atut harus menjawab pesimisme tersebut melalui pembuktian nyata.

Oleh karena itu, harus diakui, bahwa pesta demokrasi rakyat Banten yang penuh ingar-bingar dan intrik-intrik politik tersebut, pada satu sisi telah membentuk kedewasaan dan kematangan politik masyarakat Banten. Namun ekses politis yang ditimbulkannya patut pula diwaspadai dan diantisipasi agar tidak menjadi bumerang dan menjadi faktor disintegrasi yang merasuki semua lini, terutama grassroot dan kalangan cedikiawan, yang pada gilirannya dapat mengganggu stabilitas dan suasana kondusif sebagai modal dasar pembangunan di tatar Banten ini.

Dengan penyelenggaraan MTQ, yang sarat dengan nuansa dan nilai-nilai luhur keislaman dan kemanusiaan yang universal seperti keadilan, persaudaraan (ukhuwwah), kejujuran, pertanggungjawaban publik, dan sebagainya, sejatinya dan bahkan kita patut berharap banyak MTQ akan menjadi media ampuh untuk kembali merekatkan serpihan-serpihan akibat gesekan-gesekan dan benturan-benturan pasca pemilihan kepala daerah langsung yang mengharu-biru di jagad perpolitikan Banten beberapa waktu yang lalu.

Dengan semangat persaudaraan yang dikibarkan dalam momentum MTQ Provinsi Banten tahun ini, semua pihak sejatinya kembali menyatukan langkah dan menguatkan visi pembangunan menyongsong masa depan Banten yang lebih gemilang dan menjadikan Banten sebagai ikon tamaddun Islam Nusantara yang selaras dengan jatidiri, identitas, dan karakteristik masyarakat Banten yang, dalam sejarah nasional klasik, dikenal konsisten dan sangat militan dengan ajaran agamanya.

Semangat untuk membangun berbaur dengan kukuhnya tradisi intelektualisme, kekuatan prinsip, dan etos kebersamaan yang tumbuh dalam relung kalbu masyarakat Banten diyakini akan menjadi modal penting bagi tercapainya kemakmuran dan kejayaan masyarakat Banten. Inilah hal-hal yang kita harapkan muncul sejalan dengan penyelenggaraan MTQ VI Tingkat Provinsi Banten tahun 2007.

Barometer MTQ Nasional 2008

Di sisi lain, penyelenggaraan MTQ Banten tahun ini memiliki nilai strategis dalam kaitan penunjukan Provinsi Banten sebagai tuan rumah Penyelenggaraan MTQ XXII Tingkat Nasional yang akan digelar pada pertengahan tahun 2008 mendatang. Penunjukan atau lebih tepatnya kepercayaan ini oleh Gubernur Banten dinilai sebagai Penghargaan yang patut dibanggakan yang telah diberikan Pemerintah Republik Indonesia kepada Banten yang notabene merupakan provinsi termuda di Indonesia (lihat wawancara eksklusif “Jurnal Tilawah” LPTQ Banten dengan Gubernur Banten).

Terpilihnya Banten sebagai calon tuan rumah penyelenggaraan MTQ XXII Tingkat Nasional 2008 menunjukkan dua hal. Pertama, secara politis eksistensi Banten sudah mulai diperhitungkan. Bagaimana tidak, dalam hitung-hitungan normal, jika pelaksanaan MTQ Nasional dilaksanakan tiga tahun sekali, maka untuk mendapat giliran sebagai tuan rumah MTQ Nasional sebuah provinsi harus menunggu antrean puluhan tahun lamanya. Namun hal ini tidak berlaku bagi Banten. Hanya dalam waktu kurang dari satu dasawarsa, Banten mampu meraih simpati dan kepercayaan dari bangsa Indonesia untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan pergelaran budaya keagamaan yang berskala nasional ini. Tentu saja hal ini patut dibanggakan dan sekaligus menjadi tantangan bagi masyarakat Banten.

Kedua, dalam perspektif sejarah sosial, meski tergolong belia, namun masyarakat Banten memiliki akar tradisi yang kukuh terkait aktivisme transmisi pengajaran dan pelatihan al-Qur’an, baik dari aspek tilawah (bacaan), tahfizh (hafalan), tafsir (penalaran), khath (penulisan), dan sebagainya. Banten klasik mencatat Syekh Ma’mun, Tubagus Soleh, Haji Bahauddin, Haji Tubagaus Hafiz al-Abbas, dan sederet qari-qari bertaraf internasional lainnya yang telah mengukir nama bangsa Indonesia dengan tinta emas dalam daftar negara yang paling subur menghasilkan qari atau qariah handal.

Demikian pula dalam bidang tahfizh dan tafsir. Tidak seorang pun yang meragukan kredibilitas keilmuan Syekh Nawawi al-Bantani sebagai sosok ulama generalis. Sebagai putera asli Banten, Nawawi dikenal sangat ahli dalam pelbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman, mulai dari Ilmu Tafsir, Ilmu Fikih, Ilmu Usul Fikih, Ilmu Bahasa, Ilmu Ushuluddin, dan sebagainya, yang pada gilirannya mengangkat Banten dan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki tradisi keilmuan yang cukup disegani. Buku-buku Nawawi banyak dirujuk dan digunakan sebagai sumber bacaan di pelbagai perguruan tinggi dan pesantren-pesantren di hampir seluruh penjuru dunia. Dan masih banyak lagi sosok dan tipologi skill yang dimiliki Banten dari masa ke masa.

Fakta politis dan sosio historis tersebut kian menguatkan persepsi publik bahwa Banten memang layak dan mampu mengemban amanat bangsa Indonesia tersebut. Namun, seperti yang pernah disampaikan Ibu Gubernur sesaat setelah menerima amanat tersebut, sukses atau tidaknya penyelenggaraan MTQ XXII Tingkat Nasional 2008 tersebut akan sangat tergantung pada keikutsertaan dan peran serta seluruh komponen masyarakat Banten. Partisipasi masyarakat tersebut, dengan demikian, akan sangat menentukan apakah Banten sanggup menjadi tuan rumah yang baik atau malah sebaliknya.

Hal senada juga diungkapkan H. M. Masduki, Wakil Gubernur Banten, ketika membuka kegiatan Orientasi Dewan Hakim Provinsi Banten (26/4/2007). Dalam amanatnya, Masduki mengingatkan agar masyarakat Banten tidak terbuai dengan euforia masa klasik dan kekaguman-kekaguman outsider terhadap potensi Banten. Sejatinya, menurut dia, kedigdayaan Banten tempo doeloe menjadi cermin dan oleh karennya momentum MTQ XXII Tingkat Nasional yang akan digelar di Banten pada 2008 harus dijadikan ajang pembuktian bahwa Banten sebagai “gudang qari, hafiz, mufassir, khattat, dan sebagainya”, tidak sekadar slogan usang, retoris, dan ahistoris, tapi memang benar adanya dan faktual.

Oleh karena itu, untuk membuktikan hal tersebut, Banten dituntut meraih dua sukses: sukses penyelenggaraan dan sukses meraih kejuaraan. Banyak pihak menilai bahwa beban penyelenggaraan MTQ VI Tingkat Provinsi Banten di kota Serang tahun ini akan sangat berat karena akan dijadikan sebagai tolok ukur (barometer) kesiapan Banten sebagai tuan rumah penyelenggaran MTQN XXII tahun 2008 mendatang, terutama jika dihat dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, sistem, mekanisme, administrasi, dan manajemen penyelenggaraan.

Hasil akhir dari penyelenggaraan MTQ Banten tahun ini, apapun hasilnya, akan menjadi pengalaman yang amat berharga dan oleh karenanya harus dievaluasi selengkap dan secermat mungkin sehingga benar-benar akan menjadi alas pijak bagi sukses atau tidaknya penyelenggaraan MTQN tahun depan. Sebaliknya, pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MTQ Banten tahun ini sepatutnya berhati-hati dan melakukan analisis dan perhitungan yang cermat dan mendalam terhadap semua aspek penyelenggaraan MTQ. Tindakan yang serampangan dan tidak didasarkan pada analisa yang matang, dikhawatirkan akan menurunkan citra Banten dan melahirkan keraguan publik Indonesia terhadap kesiapan Banten sebagai calon tuan rumah penyelenggaran MTQ XXII Tingkat Nasional 2008.

Ini pula yang sempat diwanti-wanti Ady Suryadharma, selaku Ketua DPRD Banten (Antara: 2007). Menurut dia, pelaksanaan MTQ VI Tingkat Provinsi Banten tahun ini akan menjadi taruhan bagi kepercayaan publik Indonesia terkait kesiapan Banten. Memang, harapan Ady Suryadharma adalah harapan dan refleksi masyarakat Banten, dan boleh jadi keinginan seluruh bangsa Indonesia. Oleh karena itu sudah sepatutnya setiap komponen masyarakat Banten bahu-membahu menyukseskan pelaksanaan MTQ VI Tingkat Provinsi Banten di Serang tahun ini untuk menyongsong momentum MTQ XXII Tingkat Nasional 2008 yang juga akan digelar di Ibukota Banten tersebut. Pencitraan Banten sebagai sentra pembinaan al-Quran di Nusantara akan sangat ditentukan pada kedua mementum tersebut. Mampukah kita membuktikannya? Wallahu a’lam bishshawab (HU Fajar Banten)

2 Tanggapan

  1. Assalamualaikum.Bagaimana Kabarnya Pak DR??>

  2. kok banten ga maju2???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: