Menyoal Bias Gerakan Perempuan

Beberapa tahun terakhir ini wacana perempuan kembali meramaikan bursa opini publik. Kemunculannya bertepatan dengan riuhnya angin segar reformasi yang menerpa bumi  nusantara ini, sekaligus menandai terbukanya pintu kebebasan dan demokrasi dalam pelbagai bidang. Dan momentum inilah yang juga ikut melahirkan kembali kesadaran jender kaum perempuan setelah sekian lama terpuruk dalam kungkungan budaya patriarki.

Fenomena ini menjadi kian menarik dengan hadirnya Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Pusat-pusat Studi tentang Wanita (PSW) di lingkungan akademis yang memiliki komitmen kuat terhadap isu-isu gender. Wadah-wadah inilah yang kemudian secara aktif mengkampanyekan kesadaran jender di pelbagai lapisan masyarakat, terutama para pemegang kebijakan, dalam hal ini para elite politik. Namun pada saat yang bersamaan, di tengah gemuruh kebangkitan kesa-daran gender kaum perempuan, beraneka ragam bentuk eksploitasi murahan terhadap kaum perempuan—dengan dalih ekspresi seni—menjadi kian merajalela, seolah tak dapat dibendung. Hal ini menunjukkan fenomena yang kontraproduktif. Maka langsung ataupun tidak, hal ini memiliki hubungan dengan pergerakan dimaksud. Dari titik ini tampaknya menarik untuk dikritisi.

Gerakan perempuan atau yang mengatasnamakan sebagai pembela kaum perempuan akhir-akhir ini menunjukkan grafik yang cukup menggembirakan, seolah menjadi trend baru di kalangan masyarakat. Bahkan cenderung agak ‘genit’ dan sedikit over acting. Maklum saja angin reformasi yang berhembus di negeri ini telah membawa perubahan besar terhadap paradigma dan kecenderungan sebagian masyarakat, termasuk di dalamnya perubahan orientasi dan pola pikir kaum perempuan. Gerakan—yang saya sebut sebagai “pembebasan kaum perempuan”—ini diantaranya bertujuan untuk mendudukkan peran dan posisi perempuan secara wajar dalam struktur masyarakat yang cenderung bercorak budaya patriarkis.

Namun demikian, perjuangan pembebasan kaum perempuan ini setidaknya harus berhadapan dengan dua persoalan budaya yang sangat substansial. Pertama, struktur budaya masya-rakat yang telah terbentuk senantiasa menempatkan peran dan posisi kaum pria di atas kaum perempuan. Akhirnya perempuan hanya menjadi  “manusia kelas dua” (sub-ordinat) di bawah bayang-bayang superioritas kaum pria. Perbedaan kelas—yang telah terbentuk oleh pola budaya patriarki dan nyaris telah mendarah-daging—inilah yang menjadi tantangan serius bagi gerakan perjuangan perempuan hingga kini. Menentang apalagi menggugat doktrin tersebut berarti berhadapan dengan kekuatan psikologis yang sangat besar.

Salah satu dampak yang cukup mencolok dapat kita amati dalam hal penghargaan dunia entertainment terhadap potensi seksulaitas kaum perempuan. Oleh sebagian perempuan, berperan sebagai model sebuah produk dengan memamerkan sisi seksualitas adalah sebuah kebanggaan. Akhirnya penghargaan terhadap perempuan hanya akan didasarkan kepada tingkat sensualitas yang dimilikinya; Perempuan, dengan demikian, laiknya barang dagangan yang siap dikonsumsi lelaki hidung belang. Mencermati hal ini, menurut hemat saya, perempuan adalah pihak yang patut dipersalahkan, di samping peran penting kaum pria yang juga ikut mendukung terciptanya suasana tersebut.

Kedua, sistem kepercayaan dan pola pikir religiusitas masyarakat juga ikut andil dalam menempatkan peran sosial kaum pria tidak dalam kesejajaran dengan kaum perempuan. Teks-teks keagamaan—dalam pandangan sementara orang—memberikan dukungan secara pincang terhadap keberadaan dua makhluk Tuhan yang berlainan jenis kelamin ini. Bagi sebagian pemerhati dan aktivis jender, ajaran agama beserta para penafsir klasik, adalah pihak yang ikut bertanggung jawab terhadap keterpurukan kaum perempuan.  Pertanyaannya, benarkan sistem ajaran agama (Islam) atau penafsirannya (fikih) yang cenderung patriarkis ini menjadikan peran dan eksistensi kaum perempuan menjadi  kian terpuruk? Atau justru faktor psikologis perempuan sendiri yang hingga kini belum mampu menempatkan dirinya pada posisi yang wajar?

*****

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut memang menarik untuk ditelusuri dan dikaji, sebab menyangkut persoalan mendasar, yakni wilayah teologi dan keyakinan kolektif masyarakat yang cenderung sensitif dan berisiko tinggi. Namun sejauh pengamatan, banyak pihak tampaknya belum berhasil mendudukkan persoalan secara komprehensif dan integral. Para pengamat (para aktivis) lebih senang menghantam secara sepihak terhadap apa yang mereka sebut sebagai kesewenang-wenangan kaum pria, dalam hal ini para ulama fikih (Fuqahâ’) yang (dianggap) telah menyalahgunakan kewenangannya sebagai interpreter (penafsir) teks suci demi melanggengkan hegemoni dan kepentingan kelelakian mereka, sehingga melahirkan kesan bias jender dan politis. Persepsi yang berkembang semacam ini—dalam pandangan saya—adalah tidak berdasar.

Mencermati kenyataan tersebut, tulisan ini berupaya meluruskan upaya-upaya yang mengarah kepada pendeskriditan terhadap pihak-pihak tertentu, dalam hal ini para ulama dengan penafsirannya. Jika hal ini terjadi, maka saya khawatir, justru gerakan perjuangan perempuan akan menemukan antiklimaks, yakni menimbulkan pola gerakan yang bias dan kehilangan obyektivitas.

Untuk menilai suatu produk hukum (fikih), harus dilihat dari perspektif sosio-historis., yakni dengan tidak melepaskan konteks kapan dan di mana sebuah produk hukum itu lahir dan diberlakukan.  Dengan demikian akan diperoleh sebuah persepsi yang obyektif (balance). Sebab, sebagaimana laiknya kelahiran sebuah hukum, pemikiran hukum para ulama klasik, dari masa ke masa, senantiasa dipengaruhi oleh faktor situasi dan kondisi. Oleh karenanya, wajar jika mereka akan berbicara atas nama masa dan kondisi umatnya masing-masing. Maka yang lahirpun merupakan cerminan situasi dan kondisi pada masa itu. Justru di sinilah makna keluwesan dan keluasan hukum Islam sebagai karakteristik yang dominan  seperti dinyatakan dalam sebuah kaidah Ushûl al-Fiqh, “Hukum berlaku pada zaman dan kondisi tertentu”. Maka dengan demikian, menempatkan ulama sebagai biang keladi keterpurukan kaum wanita adalah tidak pada tempatnya. Pemahaman yang bijak tentu akan menyatakan bahawa interpretasi mereka—dalam bentuk fikih—sesungguhnya sudah tidak tepat jika dipersandingkan dengan kondisi kekinian. Dengan begitu akan timbul upaya kreatif dari pelbagai pihak untuk menemukan penafsiran-penafsiran baru (aktual) berkenaan dengan kedudukan, peran, dan fungsi kaum perempuan.

*****

Fenomena yang telah dikemukakan di atas adalah sebuah contoh realitas pergerakan yang salah kaprah. Setidaknya ada beberapa kecenderungan—dalam pengamatan saya—berkenaan dengan sepakterjang  gerakan kaum perempuan yang dikhawatirkan justru akan membalikkan cita-cita perjuangan mereka. Pertama, pergerakan perempuan yang dimotori oleh beberapa aktivis yang bernaung di bawah bendera LSM, akhir-akhir ini, menjadi kurang simpatik karena lebih cenderung berlagak seperti ‘tukang obat’. Yakni pola gerakan yang hanya sekadar berkutat pada dataran wacana, yang tentu saja hanya menyentuh kulit persoalan, tidak pada substansinya. Maka, wajar jika kemudian pergerakan dengan pola semacam ini menjadi tidak memiliki manfaat yang berarti bagi upaya reposisi peran perempuan dalam kehidupan sosial.

Proyek-proyek yang bersifat aplikatif dan langsung menyentuh nadi kehidupan kaum perempuan—yang relatif lebih banyak tinggal di pedalaman—agaknya kurang mendapat perhatian. Hampir seluruh program tersita untuk hal-hal dalam konteks pergulatan wacana, penggugatan terhadap pihak-pihak yang dianggap menjadi  sebab keterbelakangan kaum perempuan. Mereka lupa bahwa untuk mengangkat  derajat kaum perempuan tidak harus memaksa orang untuk memberikan pengakuan. Tapi pengakuan akan datang dengan sendirinya jika memang terdapat kelaikan. Jadi dalam konteks ini, gerakan jender telah melupakan hal yang sangat fital: pemberdayaan kedalam melalui peningkatan kualitas diri. Hal ini sesuai dengan konsep Islam yang mengakui adanya penghargaan terhadap prestasi, bukan pada sisi prestise.

Kedua, kecenderungan penuntutan persamaan hak yang dilontarkan oleh para aktivis perempuan tampaknya sudah mulai over-acting dan ada kesan didramatisasi. Kesan ini muncul ketika perempuan tidak lagi mengindahkan pertimbangan-pertimbangan etika-religius, mulai dari hak-hak di rumah tangga, baik menyangkut hak-hak suami yang dianggap terlampau diuntungkan maupun hak-hak istri yang dirasa selalu merugi.  Akhirnya, mereka mengambil kesimpulan, bahwa sistem keagamaan telah menyebabkan kerugian di pihak perempuan.

Penggugatan terhadap wilayah yang sangat sensitif seperti ini, hemat saya, akan berakibat gerakan perempuan menjadi bias. Karena terperangkap dalam prilaku cuci tangan atau lempar batu sembunyi tangan. Mentalitas berbahaya yang bakal timbul adalah perasaan bahwa perempuan adalah makhluk tertindas, oleh karenanya harus  disayang, dimanja, dan disuapi.

Beberapa saat yang lalu, suatu pihak, yang mendapat sokongan dari departemen Pemberdayaan Perempuan melontarkan gagasan yang—menurut pandangan saya—cukup konyol. Yakni menuntut adanya jatah (quota) kursi bagi kaum perempuan untuk berperan dalam percaturan politik, baik di legislatif maupun eksekutif. Tidak jelas apa sesungguhnya yang dituju. Tapi patut diduga, hal ini dilakukan dalam rangka pemenuhan tuntutan kesamaan hak yang selama ini didengang-dengungkan.

Dengan melihat (setidaknya) dua hal di atas, maka gerakan perempuan patut menjadi keprihatinan. Dan jika hal tersebut terus berjalan, maka saya tidak yakin perjuangan kaum perempuan akan menemukan arahnya. Oleh karenanya, kesadaran jender harus dilandasi oleh pikiran yang jernih dan penuh perhitungan. Bukan berdasarkan atas semangat memabi buta. Pertimbangan kualitas akan selalu mengemuka ketika harus menentukan siapa yang harus tampil. Oleh karenanya, perempuan dituntut untuk tampil dengan segenap potensi dan kepercayaan dirinya. Kalau wanita mampu, kenapa harus selalu pria?  Bravo gerakan kaum perempuan! (Media Pembinaan, 2002)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: