Menggagas Neoteologi Banjir

Tahun 2002 kelabu kembali terulang! Belum hilang betul dari ingatan kolektif kita, ketika banjir menenggelamkan Ibu Kota dan beberapa daerah di tanah air. Bencana yang sempat mengharubirukan wacana publik itu benar-benar membuat kita sadar betapa rapuhnya infra struktur dan sistem penanggulangan banjir yang kita miliki. Dan yang lebih menyedihkan, perhatian pemerintah atau dalam arti kata lain sense of responsibility dan sense of solidarity pemerintah sungguh sangat memperihatinkan. Hal ini dapat dilihat dengan lambannya tindakan mereka dalam memberi pertolongan terhadap korban bencana.

Gejala serupa mulai tampak pada musim penghujan tahun ini. Di beberapa daerah, termasuk juga Ibukota Jakarta, ancaman banjir kembali mengintai dan menenggelamkan wilayah-wilayah rawan banjir. Peristiwa teranyar baru saja terjadi dan telah  memporakporandakan salah satu wilayah Sumatera Utara yang menewaskan ratusan jiwa manusia, beberapa wilayah ibu kota Jakarta, kota Palembang, dan entah daerah mana lagi yang akan diterjang banjir. Pertanyaannya, haruskan bencana itu terus berulang, dan membuat tahun 2003 dan tahun-tahun berikutnya juga menjadi kelabu?

Telah menjadi pengetahuan umum, hujan merupakan fenomena alam (sunatullah) yang rutin terjadi dari tahun ke tahun. Namun sayang, kejadian yang bersifat periodik tersebut tidak pernah menyadarkan kita dan pemerintah, untuk berupaya melakukan serangkaian tindakan antisipatif agar tidak terulang kembali kejadian serupa pada masa-masa yang akan datang. Agaknya, kita lebih suka berfikir pendek dan pragmatis. Apa yang terjadi pada saat ini, maka pada saat itu pula dicari solusi jangka pendek yang bersifat temporal.

Menyikapi kondisi semacam ini, agaknya hal terpenting yang patut kita perbuat saat ini adalah melakukan evaluasi kedalam, atau dalam bahasa agama disebut “muhasabah”. Yakni mengukur sejauhmana perlakuan kita terhadap alam dan Tuhan. Sebab, tak mungkin ada asap jika tidak ada api. Oleh sebab itu, tak mungkin terjadi bencana banjir jika tidak ada sebab yang melatarbelakanginya.

Fenomena Alamiah

Dalam penalaran ilmiah, banjir diidentifikasikan sebagai sebuah peristiwa alamiah yang terjadi mengikuti hukum alam yang berlaku. Oleh karena itu, proses kejadiannya dapat difikirkan berdasarkan hukum alam dan dapat diantisipasi secara preventif berdasarkan kaidah-kaidah hukum alam pula. Dari sudut pandang ini, maka faktor manusia, sebagai relasi langsung dengan alam, menjadi variabel yang sangat menentukan. Oleh karena itu, fenomena ini akan  sangat tergantung kepada perlakuan manusia terhadap alam.

Maka tak heran jika kemudian muncul sebuah rasionalisasi berkenaan dengan bencana banjir, yakni banjir seringkali dianggap sebagai akibat dari ulah manusia yang tidak ramah terhadap lingkungannya. Harus diakui, sebagian kita memang sudah sangat tidak bersahabat dengan alam. Kita selalu ingin mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dari alam, tanpa peduli dengan nasib alam. Logikanya, wajar jika kita menuai perlakuan yang buruk pula dari alam, sebagai konsekuensi logis dari sikap kita. Padahal alam diciptakan untuk dipelihara dan diambil manfaatnya untuk kemaslahatan umat manusia. Demikian pernyataan Allah dalam salah satu firman-Nya.

Dalam perspektif lain, banjir dinyatakan sebagai sebuah fenomena mistik. Oleh karena itu proses kejadiannya tidak dapat dipikirkan secara rasional ilmiah. Sebaliknya, banjir diyakini sebagai peristiwa yang penuh misteri, sehingga kejadiannya tidak dapat diantisipasi dengan pendekatan ilmiah, melainkan harus ditempuh melalui pendekatan-pendekatan yang bersifat mistik pula.

Dalam perspektif ini agaknya tidak berlebihan jika kita mencoba menggunakan sebuah terminologi yang cukup normatif. Bahwa fenomena banjir erat kaitannnya dengan konsep “balasan” dalam doktrin agama kita. Dengan kata lain, peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan penderitaan, baik fisik maupun mental manusia, biasa kita sebut sebagai bentuk kemurkaan dan kemarahan Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang berdosa. Sikap pembangkangan dan kedurhakaan mahluk terhadap Tuhannya dapat berakibat turunnya azab atau siksa sebagai peringatan langsung dari Allah agar menjadi pelajaran bagi umat-umat yang akan datang.

Rekonstruksi Teologis

Jika kita mau bercermin dalam sejarah, fenomena banjir sesungguhnya bukanlah hal baru. Kejadian serupa acap kali menimpa suatu komunitas besar bahkan terkadang menimbulkan dampak yang jauh lebih dahsyat ketimbang peristiwa-peristiwa serupa pada masa modern seperti sekarang ini. Kisah-kisah kehancuran umat  Nabi-nabi terdahulu sebagaimana dieksposisikan secara lugas oleh Allah melalui ayat-ayat-Nya, menunjukkan bahwa kehancuran suatu bangsa menjadi niscaya atas kehendak Allah disebabkan penentangan mereka secara terbuka terhadap ajaran agama Allah Swt..

Telekisah banjir legendaris yang digambarkan sebagai “musibah internasional” ditayangkan ulang di dalam Alquran dalam berbagai episode. Ekspose banjir yang cukup populer dalam Alquran adalah kisah banjir nabi Nuh As, yang terekam alurnya dalam Alquran surat Hud ayat 32—49, banjir nabi Hud As. dalam Alquran surat al-A’raf ayat 65—72, dan banjir bandang di negeri Saba’ yang diabadikan dalam Alquran surat Saba ayat 15—16.

Secara konvensional, ayat-ayat banjir yang terdapat di dalam Alquran menyusup dalam konsep teologis bahwa banjir merupakan fenomena kemarahan Allah atau fenomena musibah dari Allah. Banjir diyakini sebagai sebentuk kemurkaan Allah pada umat manusia dikarenakan mereka tidak mau menerima ajaran para Rasul untuk mengikuti ajaran Tuhan, maka Allah menurunkan azab berupa banjir sebagai ekspresi kemurkaan-Nya. Seperti dalam firman-Nya, “Mereka mendustakan Allah, maka Kami selamatkan nabi Nuh dan pengikutnya dengan naik kapal dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustai ayat-ayat Kami, sesungguhnya mereka adalah komunitas yang buta.” (Qs. Al-A’raf: 64) atau dalam bagian lain Tuhan berfirman, “Maka Kami selamatkan nabi Hud dan pengikutnya dengan kasihku dan kami musnahkan orang-orang yang mendustai tanda-tanda Kami. Mereka bukan termasuk orang-orang yang beriman.” (Qs. Hud: 58)

Berdasarkan dua ayat epilog tersebut, melempangkan jalan untuk merumusan suatu teologi banjir konvensional tradisional, yakni teologi banjir yang determinis. Teologi ini menggambarkan banjir sebagai bentuk kemurkaan Allah disebabkan manusia enggan menerima kehadiran Tuhan dalam dirinya.

Persoalannya, apakah konsep teologi banjir konvensional semacam ini masih relevan untuk masa kini? Dalam pandangan saya, mengertian banjir konvensional tradisional semacam ini menjadi niscaya manakala, saat ini, kita mulai melupakan Tuhan. Dalam arti kata lain, kita sudah mulai meninggalkan tuntunan-tuntunan agama yang digariskan oleh Allah lewat Rasul-Nya, baik menyangkut ajaran-ajaran tauhid, ibadah, maupun muamalah dalam lingkup global, yang juga mencakup konsep berinteraksi dengan lingkungan.

Saat ini, banyak di antara kita, terutama di kota-kota besar, menunjukkan gejala-gejala negatif semacam itu. Sebagian kita telah menjadi sosok-sosok yang serakah, tamak, dan rakus terhadap hal-hal yang besifat duniawi. Apapun yang kita lakukakan seakan harus selalu mendatangkan keuntungan materi, sehingga kita terjerembab kedalam praktik-praktik hedonisme, fandalisme, anarkisme, dan sebagainya. Kita seolah telah melupakan sisi kehidupan yang jauh lebih penting dan abadi, yaitu kehidupan di akhirat.

Jika demikian halnya, maka tidak mengherankan jika terjadi praktik-praktif kontraproduktif yang dilakukan manusia terhadap lingkungan sebagai ekses dekadensi moral yang tengah terjadi. Dalam arti kata lain, telah terjadi siklus atau hubungan sebab akibat, antara moralitas masyarakat dengan bencana yang menimpa.

Namun demikian, kita dapat saja merumuskan sebuah pemikiran tentang konsep neoteologi banjir yang tidak mengartikan fenomena banjir sebagai bentuk kemurkaan Allah terhadap umat manusia. Banjir bukan sekadar musibah yang datang dari Allah. Akan tetapi, banjir lebih merupakan fenomena ekologis yang disebabkan perilaku manusia dalam mengelola lingkungan bertentangan dengan “sunnah” lingkungan. Adapun kerangka acuan teologisnya adalah didasarkan pada catatan ayat-ayat banjir dalam Alquran, “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, citra lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran”. (Qs. Hud: 101)

Refleksi neoteologi banjir yang demikian itu akan melahirkan sikap ekologis  yang positif dan pertanggungjawaban manusia terhadap kejadian banjir. Karena manusia adalah faktor dominan dalam pengelolaan lingkungan yang potensial menjadi penyebab banjir, maka manusia menjadi mahluk yang paling bertanggung jawab terhadap fenomena terjadinya banjir, sekaligus bertanggung jawab pula untuk mencegah kejadian ini.

Dengan melakukan rekonstruksi pemikiran teologi kita tentang banjir, yakni dari teologi konvensional ke teologi yang tercerahkan, insya Allah, kesadaran akan pentingnya memelihara alam (lingkungan) dan pembangunan pola hubungan yang simbiosis mutualis antara manusia dan alam akan menjadi kenyataan. Dengan begitu, banjir tidak akan lagi menjadi hal yang merisaukan. Semoga. []   (Media Pembinaan 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: