Lompatan Kaligrafi Islam di Nusantara

Kompetisi menulis indah al-Qur’an yang lazim disebut Musabaqah Khat al-Qur’an (MKQ) diperkirakan bakal menjadi salah satu ikon paling menarik dan fenomenal dalam perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXII tingkat Nasional tahun 2008. Inilah satu-satunya mata lomba yang dirasakan paling banyak menguras tenaga, konsentrasi, dan juga dana, tentunya. Mengingat tantangan berat semacam itulah, terutama pada satu dekade ke belakang, beberapa Provinsi tampak tidak terlalu antusias membina dan mengirim delegasinya. Akibatnya, cabang MTQ yang tergolong masih anyar ini dirajai oleh beberapa lumbung kaligrafer Nusantara, seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, dan lain-lain.

Baru pada beberapa tahun terakhir, cabang MKQ mulai dilirik dan bahkan menjadi primadona kader dan kawula muda Nusantara menyusul cabang-cabang yang lebih dulu eksis dan digandrungi masyarakat luas seperti Tilawah (nagham/seni baca), Tahfizh (hafalan), dan Tafsir (interpretasi) al-Qur’an. Seluruh Provinsi, mulai dari ujung barat Nangroe Aceh Darussalam hingga tepian timur pulau Papua, kini telah menyadari arti penting pembinaan dan pengembangan seni kaligrafi al-Qur’an di daerahnya.

Perkembangan signifikan ini, dengan demikian, telah menciptakan lompatan spektakuler yang tercermin dari peningkatan kualitas dan kuantitas karya yang lahir dari tangan-tangan emas kaligrafer (khaththath) muda di sudut-sudut wilayah Nusantara. Dampak dari semua itu, menjadikan kegiatan pembinaan dan aneka kompetisi di pelbagai daerah menjadi kian mewabah dan tumbuh subur laksana Jamur Merang di musim semi.

Bukti lompatan kaligrafi Islam di Indonesia, misalnya, dapat diamati dari lunturnya dominasi “Jawa” dalam cabang lomba kaligrafi. Daerah-daerah di wilayah pulau Jawa, yang sempat dijuluki sentra pembinaan kaligrafi dengan selaksa kaligrafer andal, kini tidak lagi mampu menunjukkan ‘superioritasnya’. Mereka kini harus membuka mata lebar-lebar, bahwa ‘virus’ berkaligrafi telah menjadi ‘endemi’ dan berhasil melahirkan kompetisi yang sangat dinamis pada momentum MTQ dalam pelbagai tingkatannya. Dari titik ini kita patut apresiatif dan pantas menempatkan momentum MTQ sebagai faktor pendokrak pengembangan kaligrafi di Nusantara.

Al-Qur’an dan Revolusi Kaligrafi

Kaligrafi Islam adalah seni ruhani. “Islamic Calligraphy is a spiritual geometry brought about with material tools”, demikian Yaqut al-Musta’shimi, sang Maestro klasik, menggambarkan keagungan warisan tamaddun Islam ini. Kaligrafi Islam memang bukan sembarang karya seni rupa, karena diyakini memancarkan pesona spiritualitas. Ia pun dipersonifikasikan sebagai media ampuh yang dapat mengkomunikasikan ide-ide, sehingga Ubaidillah bin Abbas menyebutnya dengan lisan al-yad atau “lidahnya tangan”.

Bahkan, pada awal masa keislaman kaligrafi tidak hanya beredar pada poros estetis, tapi telah pula memasuki wilayah teologis dan cenderung mistis. Tulisan Kufi, misalnya, yang mencapai puncak kesempurnaannya pada pertengahan abad VIII M, menjadi primadona dan dijadikan sebagai tulisan wajib untuk menulis mushaf al-Qur’an. Oleh sebagian kelompok fanatik, jenis khat dengan ciri khas kaku ini, diyakini bersumber dari malaikat Jibril ketika wahyu pertama nuzul.

Titik tolak kedigdayaan kaligrafi Islam sejurus dengan ditabuhnya genderang dakwah Islam di abad VII M. Wahyu pertama, Iqra! (bacalah!), adalah inspirator utama bagi tumbuh-kembangnya seni kaligrafi Islam di se antero dunia. Spirit “membaca” pada gilirannya telah melahirkan revolusi yang tak terbendung sehingga melahirkan 400 ranting tulisan setelah mengalami stagnasi selama 1000 tahun lamanya. Inilah pencapaian fantastis dalam sejarah aksara di muka bumi ini.

Seperti diungkap D. Sirojuddin AR (1989), harus diakui kehadiran al-Qur’an di awal kehadiran Islam sangat berkorelasi positif dengan tumbuh dan berkembangnya seni kaligrafi Arab (baca. Al-Qur’an). Teori ini memang tepat untuk menggambarkan sumbangsih dan pengaruh kuat al-Qur’an terhadap dinamika tradisi kaligrafi pada masyarakat Arab, terutama umat Islam, tempo dulu.

Meski orang-orang Arab pada waktu itu dikenal sangat piawai dalam tradisi verbalism, teristimewa bidang kesusastraan, namun dalam hal tradisi tulis-menulis (kitabah/khathth) masih tertinggal jauh dibanding beberapa bangsa di belahan dunia lainnya yang telah mencapai tingkat kualitas tulisan yang sangat mengagumkan. Sebut saja, misalnya, Mesir dengan tulisan Hieroglip, India dengan gaya Devanagari, Jepang memukau dengan aksara Kaminomoji, Indian dengan Azteka, Assiria dengan Fonogram/huruf Paku, dan pelbagai negeri lain yang sudah terlebih dahulu memiliki trade mark jenis huruf/aksara.

Dalam rentang inilah Kaligrafi Islam lahir sebagai masterpiece yang sangat diagungkan, tidak hanya oleh umat Islam sendiri, tapi juga non muslim. Kita dapat menikmati jejak keagungan seni kaligrafi Islam dalam pelbagai ragam media, al-amsyaq, simbol-simbol keagamaan, dan altar-altar kekuasaan, yang hingga kini masih tersimpan dan terpajang dengan anggunnya.

Situasi ini kian kondusif manakala disokong obyektivitas dan sikap ilmiah ulama terhadap seni kaligrafi yang cenderung bertolak belakang dengan sikap mereka terhadap seni menggambar atau melukis makhluk hidup (bernyawa), serta ditopang pula oleh sambutan pundi-pundi emas dan presisi kemulyaan dari para penguasa (sulthan) atas karya kaligrafi yang memiliki kualitas bagus. Respons positif inilah yang pada gilirannnya melahirkan banyak maestro dan menempatkan kaligrafi ke puncak seni yang mengandung cita rasa dan penghargaan banyak kalangan.

Sentra Pengembangan

Dinamika kaligrafi Islam di Timur Tengah berimbas secara paralel seiring dengan proses infiltrasi agama Islam di bumi Nusantara. Persentuhan umat Islam Nusantara dengan kaligrafi menjadi  niscaya mengingat sumber kajian dan ajaran Islam notabene beraksarakan Arab. Belum lagi diperkuat dengan legitimasi syarak terhadap eksistensi bahasa Arab sebagai bahasa Agama. Hubungan korelasional ini, dengan demikian, terus berlanjut dan telah menghasilkan aneka masterpiece dalam pelbagai bentuk dan media, seperti pada batu nisan, gapura, masjid, dan sebagainya.

Namun demikian, kesadaran berkaligrafi pada fase ini muncul sebagai gejala individu, bukan merupakan gerakan kolektif yang penuh kesemarakan. Beberapa kaligrafer Indonesia yang mulai mengibarkan panji-panji seni kaligrafi Islam, dapat disebut beberapa nama, seperti: KH. Abdurrazak Muhilli (Banten) menulis mushaf, Profesor Salim Fakhri (Jakarta) penulis Mushaf Pusaka, Profesor Azhari (Jakarta) penulis dekorasi interior, H. Ahmad Sadali (Banten) penulis mushaf standar Indonesia, dan lain-lain.

Dari tangan-tangan mereka kemudian lahir para kaligrafer andal, seperti: D. Sirojuddin AR (Direktur Lemka UIN Jakarta), Muhammad Faiz (Jawa Timur), Nur Aufa Siddik (Jawa Tengah),  Yasin Abdurrahim (Kalimantan Selatan), Mahmud Arham dan Baiquni Yasin (Banten), Abdul Wasi dan Ahmad Hawi Hasan (Jawa Barat), dan lain-lain. Dari tangan-tangan mereka lahir karya-karya bagus yang layak dibanggakan.

Dari uraian dan menimbang sosok-sosok di atas, kiranya dapat dirumuskan bahwa perkembangan kaligrafi di tanah air muncul dan berbasis di beberapa kantong sebagai sentra pembinaan. Pertama,  perkembangan kaligrafi lahir dan berkembang dari rahim akademik di perguruan tinggi. Di tempat ini tidak hanya dipelajari bagaimana cara mencipta karya kaligrafi yang indah, namun juga kaligrafi dikaji sebagai sebuah ilmu. Model yang pertama ini dapat ditemukan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan beberapa tinggi Islam lainnya.

Kedua, pengembangan kaligrafi di pondok pesantren. Pendidikan kaligrafi biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga pesantren modern, yang menempatkan pelajaran kaligrafi sebagai bagian dari kurikulum yang harus diikuti oleh setiap santri. Walhasil, santri ‘dipaksa’ dan dituntut agar dapat menulis Arab dengan indah. Pola ini dapat dilihat pada Pesantren Modern Gontor dan beberapa pesantren yang berafiliasi dengannya.

Bahkan sudah hampir sewindu, muncul trend pesantren eksklusif Kaligrafi yang dimotori Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di wilayah Sukabumi Jawa Barat. Pendirian lembaga, yang diberi nama “Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka” (PKAL) ini, merupakan yang pertama di Indonesia dan dianggap sebagai langkah inovatif yang diharapkan dapat menjadi pemantik “bom” lompatan seni kaligrafi Islam di Nusantara.

Ketiga, pembinaan kaligrafi berbasis non-institusional. Pembinaan model ini berjalan alami dan terkesan tanpa aturan baku. Pada model ini kita dapat menyebut komunitas Lengkong, Banten. Perkampungan ini, di mana KH. Abdurrazak Muhilli dilahirkan, dikenal sebagai “Perkampungan Khattat”.

Dengan memperhatikan kantong-kantong pembinaan kaligrafi di atas, maka kita cukup optimistis untuk dapat mewujudkan Indonesia menjadi salah satu kiblat kaligrafi dunia, menyusul Irak, Turki, dan Mesir. Mengapa Tidak? Semoga! [] (Fajar Banten, 2008)

Satu Tanggapan

  1. jadi kangen belajar kaligrafi waktu MTs dipesantren…. dan kini memulainya lagi… Seni kaligrafi bisa lebih diperluas lagi pada berbagai macam media sehingga kaum muda Islam bangga atas agama dan karyanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: