Hari Raya Kurban dan ”Valentine’s Day”

Hari Raya Kurban atau biasa disebut Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan ”Valentine’s Day” (14 Februari) adalah momentum tahunan untuk menebar kasih sayang dan kedamaian. Kurban digambarkan sebagai bentuk pengabdian tulus kepada sang Pencipta. Sedangkan ”Valentine’s Day” dilukiskan sebagai guratan kesatuan, toleransi, perdamaian, dan kasih sayang antar sesama sebagai bagian dari misi agama-agama di muka bumi.

Ketika banyak orang terjebak pada tipologi keberagamaan yang sempit dan fanatisme yang membabi buta sehingga melupakan perilaku keberagamaan yang humanis, toleran, dan penuh keterbukaan, agaknya kedua momentum ini memang stategis dikemukakan.

Disadari, adalah utopis mempertemukan kedua momentum ini dalam perspektif normatif-vertikal. Tapi, berhenti pada titik itu justeru akan menghilangkan makna spiritual dari keduanya. Idul Adha dianggap sebagai hari suci dan disucikan oleh agama dan pemeluknya. Ia dinilai sebagai perlambang pengorbanan suci dan ikhlas seorang hamba kepada Tuhannya. Dari titik ini kurban diposisikan sebagai jalinan antara individu dan Tuhannya.

Namun, perlu juga diingat, prosesi kurban, sebagaimana yang digambarkan Tuhan dalam Alquran (Qs. Al-Shafat: 102—108)—ketika ketulusan kalbu Ibrahim untuk mengorbankan puteranya, Ismail, diganti dengan seekor Domba yang gemuk lagi sehat—mengindikasikan bahwa pengorbanan seorang hamba untuk Tuhannya harus bermuara dan direalisasikan dalam konteks sosial yang profan. Oleh karenanya Tuhan menyediakan Domba untuk menggambarkan dimensi sosial ibadah kurban. Oleh karenanya, memaknai ritualitas kurban hanya terhenti pada dimensi vertikal adalah sebuah kekeliruan teologis.

Sebaliknya, kesyahduan suasana ”Valentine’s Day” sejatinya tidak hanya menjadi perlambang kasih sayang dan keakraban antar-sesama, apalagi hanya untuk sekadar bersenang-senang mengumbar nafsu birahi (sebagaimana ditafsirkan sebagian kalangan). Namun lebih dari itu, momentum ”Valentine’s Day” dapat dimanfaatkan secara proporsional untuk menciptakan kedamaian melalui kasih yang bernuansa spiritualitas. Untuk itulah, diperlukan adanya upaya internalisasi nilai-nilai spiritual dalam ”Valentine’s Day” agar lebih bermakna dan bernilai spiritual.

Melalui syariat kurban, Islam sesungguhnya hendak menanamkan kepada umatnya mentalitas adiluhung seperti keikhlasan, kesetiaan, solidaritas, dan kasih sayang. Seluruh nilai-nilai tersebut harus bertitik-tolak pada norma-norma teologis yang bersifat vertikal (Qs. al-Mâ’idah: 27)—atau meminjam istilah Mohammad Asad dalam The Messages of Qur’an sebagai kesadaran ketuhanan atau God Consciousness—sampai akhirnya bermuara pada kemanfaatan dan kegunaan untuk sesama. Hal ini begitu jelas tergambar melalui dua episode kisah pengorbanan Ibrahim kepada Tuhan.

Episode pertama, Tuhan mengajarkan bahwa hanya dengan keikhlasan dan ketulusan hati komitmen vertikal akan dapat terjalin dengan baik. Dan, Ibrahim ternyata mampu melaksanakannya. Kemudian, Tuhan memberikan pelajaran penting pada episode kedua dengan Domba sebagai simbolisasi. Seolah-olah Dia mengingatkan, “Janganlah berhenti pada kepuasan spiritual yang telah kamu capai, sembelihlah domba ini, kemudian kau bagi-bagikan kelezatannya untuk sesama, agar mereka merasakan kebahagiaan seperti kamu!”.

Kisah di atas memberi hikmah, bahwa perilaku keberagamaan ideal sejatinya ditunjukkan dengan tingginya komitmen kepada Tuhan, sekaligus dalam waktu yang sama mengusung prinsip-prinsip egalitarianisme, pluralisme, toleransi, dan solidaritas dengan menebar kasih sayang antar-sesama. Dalam arti kata lain, memosisikan hubungan vertikal an sich tidak akan bernilai positif jika tidak ditopang oleh bangunan horizontal. Demikian agaknya makna di balik syariat kurban.

Jika kurban berangkat dari kesadaran ketuhanan (God Consciousness) menuju keadilan dan kesamaan antar-sesama, maka konsep ”Valentine’s Day” berpijak pada prinsip kasih sayang antar-sesama (bukan antar jenis kelamin an sich) yang bermuara pada keselarasan nilai-nilai yang dibawa agama-agama. Jadi secara esensial keduanya mengemban misi yang sama, yakni menebar kedamaian dan kasih sayang antar-sesama di muka bumi.

Oleh karena itu, pemaknaan simbol penyembelihan hewan ternak tertentu dan pembagian daging kurban (adha) yang dilakanakan pada Hari Raya Idul Adha dan tiga hari “tasyriq” harus dikembangkan pada makna-makna yang lebih general dan substansial. Makna substansial dari ritus kurban adalah persamaan kesempatan (egalitarianisme) untuk sama-sama menikmati kenikmatan hidup (yang disimbolkan dengan pembagian daging kurban). Sedangkan target yang hendak dicapai adalah timbulnya komitmen bersama untuk saling membantu, menolong, solidaritas, toleransi, dan tenggang rasa di antara sesama manusia.

Demikian pula”Valentine’s Day”, pemaknaan harus lebih diperluas dan berdaya guna, terlebih di saat kondisi psikologis bangsa yang tidak stabil, di mana perasaan curiga, cemburu, amarah, kebencian, dan permusuhan demikian mudah tersulut. Pada titik ini, agaknya perlu penyegaran kembali terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang kian terkikis.

Oleh karena itu, momentum Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban dan “Hari Kasih Sayang” yang jatuh hampir bersamaan harus dijadikan titik tolak (starting point) terbukanya pintu kedamaian, kesejahteraan, persamaan, keadilan, toleransi, dan solidaritas di antara sesama anak bangsa.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: