Arti Penting MTQ Nasional XXII Bagi Banten

Menyambut pergelaran budaya keagamaan terakbar di tanah air, yakni Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXII Tingkat Nasional 2008, suasana ibukota Provinsi Banten, Serang, terasa kian bergeliat dan semarak dengan pelbagai atribut MTQ. Tampaknya, masyarakat Banten siap menjadi tuan rumah yang baik dan melayani tetamunya. Pemerintah Provinsi Banten, selaku tuan rumah dan panitia lokal kegiatan, telah melakukan serangkaian persiapan, baik teknis maupun non teknis, dalam rangka menyukseskan hajat keagamaan dua tahunan ini. Dan jikalau boleh diklaim, maka inilah event keagamaan terpenting berskala nasional yang pernah terselenggara pasca berdirinya Provinsi Banten.

Penunjukan Banten, yang notabene merupakan salah satu provinsi termuda di Indonesia, sebagai tuan rumah penyelenggaraan MTQ XXII tingkat Nasional tahun 2008 merupakan anugerah yang patut disyukuri secara bertanggung jawab. Dalam arti kata lain, penunjukan ini tidaklah bersifat serta-merta atau tanpa reserve. Hal ini penting dipahami semua pihak yang terlibat di dalamnya. Tentu saja, Pemerintah Pusat beserta segenap masyarakat Indonesia menaruh kepercayaan dan harapan besar terhadap kesuksesan pelaksanaan MTQ Nasional di wilayah yang dikenal sebagai ladang penghasil qari-qariah, hafizh-hafizhah, mufassir-mufassirah, khattat-khattatah, dan sebagainya.

Saya membayangkan demikian besar antusiasme dan estimasi masyarakat pelaku MTQ se antero tanah air akan keunikan dan keunggulan MTQ Nasional di tatar Banten. Hal ini dapat dipahami mengingat reputasi Banten sebagai sentra pengembangan skill keagamaan dan ilmu-ilmu keislaman sudah dikenal luas, bahkan hingga mancanegara. Maka pada titik ini Banten menyandang beban psikologis-historis yang cukup signifikan.

Oleh karena itu, banyak kalangan berharap penyelenggaraan MTQ Nasional yang digelar pada 17-24 Juni 2008 ini akan mengalami peningkatan, baik dari sisi kuantitas dan kualitas kader qari/qariah, hafizh/hafizhah, mufassir/mufassirah, khattat/khattatah, maupun peningkatan aspek kualitas penyelenggaraan, yakni penyelenggaraan yang modern dan profesional serta dilandasi semangat ukhuwwah islamiyyah, ukhuwwah wathaniyah, dan etos pembangunan umat dalam arti yang seluas-luasnya. Ya, penyelenggaraan MTQ Nasional di Provinsi Banten tahun ini memang sejatinya berimbas secara positif bagi tumbuh dan berkembangnya etos pembangunan bagi masyarakat Banten pada khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Terpilihnya Banten sebagai tuan rumah penyelenggaraan MTQ Nasional menunjukkan dua hal. Pertama, secara politis eksistensi Banten sudah mulai diperhitungkan. Bagaimana tidak, dalam hitung-hitungan normal, jika pelaksanaan MTQ Nasional dilaksanakan dua atau tiga tahun sekali, maka untuk mendapat giliran sebagai tuan rumah MTQ Nasional sebuah provinsi harus menunggu antrean puluhan tahun lamanya. Namun hal ini tidak berlaku bagi Banten. Hanya dalam waktu kurang dari satu dasawarsa, Banten mampu meraih simpati dan kepercayaan dari bangsa Indonesia untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan pergelaran budaya keagamaan yang berskala nasional ini. Tentu saja hal ini patut dibanggakan dan sekaligus menjadi tantangan bagi masyarakat Banten.

Kedua, dalam perspektif sejarah sosial, meski tergolong belia, namun masyarakat Banten memiliki akar tradisi intelektual yang kukuh terkait aktivisme transmisi pengajaran dan pelatihan al-Qur’an, baik dari aspek tilawah (bacaan), tahfizh (hafalan), tafsir (penalaran), khath (penulisan), dan sebagainya. Banten klasik mencatat Syekh Ma’mun, Tubagus Soleh, Haji Bahauddin, Haji Tubagaus Hafiz al-Abbas, Haji Humaidi Hambali, Haji Ali Sobri Man’us, dan sederet qari-qari bertaraf internasional lainnya yang telah mengukir nama bangsa Indonesia dengan tinta emas dalam daftar negara yang paling subur menghasilkan qari atau qariah andal.

Demikian pula dalam bidang penghafalan dan pengkajian al-Qur’an. Tidak seorang pun yang meragukan kredibilitas dan kapasitas keilmuan Syekh Nawawi al-Bantani, sosok ulama kharismatik yang secara performa intelektual mendapat pengakuan dari dunia internasional, khususnya kaum muslimin. Selain alim, Nawawi dikenal sebagai ulama yang produktif melahirkan magnum opus dalam pelbagai disiplin ilmu keislaman seperti: Tafsir, Fikih, Tawhid, Hadis, dan sebagainya.

Tidak sedikit ulama-ulama Nusantara yang hidup dalam rentang abad XVIII-XIX melakukan kontak intelektual dengan Nawawi melalui halaqah-halaqah ilmiah di sekitar wilayah Hijaz. Kontak ini berjalan secara berkesinambungan dan berlanjut dalam hiruk-pikuk tradisi intelektual di tanah air. Etos intelektualisme Nawawi ini pada gilirannya ditularkan melalui aneka transmisi keilmuan dalam pelbagai kegiatan di lembaga-lembaga pendidikan tradisional (salafi) di tanah air semisal pesantren, surau, madrasah, dan sebagainya.

Pengakuan dunia Islam terhadap Nawawi tercermin dari respons dan sambutan yang sangat luas dari pelbagai kalangan ulama di seluruh dunia terhadap karya-karya beliau semisal: Kasyifat al-Saja, ‘Uqudu al-Lujayn fî Bayan Huquq al-Zawjayn, Tanqih al-Qawl al-Hatsitsi fî Syarh Lubab al-Haditsi, Nasha’ih al-‘Ibad, dan Nihayat al-Zayn. Kitab-kitab ini, selain amat mashur di Nusantara, juga menjadi alternatif literatur penting bagi studi-studi keislaman di dunia Islam pada umumnya.

Fakta politis dan sosio historis tersebut kian menguatkan persepsi publik bahwa Banten memang layak dan mampu mengemban amanat bangsa Indonesia tersebut. Namun, seperti yang pernah disampaikan Ibu Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Banten, sesaat setelah menerima amanat tersebut, sukses atau tidaknya penyelenggaraan MTQ Nasional 2008 tersebut akan sangat tergantung pada keikutsertaan dan peran serta seluruh komponen masyarakat Banten. Partisipasi masyarakat tersebut, dengan demikian, akan sangat menentukan apakah Banten sanggup menjadi tuan rumah yang baik atau malah sebaliknya.

Hal senada juga pernah ditegaskan Muhammad Masduki, Wakil Gubernur Banten (26/4/2007). Dalam amanatnya, Masduki mengingatkan agar masyarakat Banten tidak terbuai dengan euforia masa klasik dan kekaguman-kekaguman outsider terhadap potensi Banten. Sejatinya, menurut dia, kedigdayaan Banten tempo doeloe menjadi cermin dan oleh karennya momentum MTQ XXII Tingkat Nasional yang digelar di Banten harus dijadikan ajang pembuktian bahwa Banten sebagai “gudang qari, hafizh, mufassir, khattat, dan sebagainya”, tidak sekadar slogan usang, retoris, dan ahistoris, tapi memang benar adanya dan faktual.

Oleh karena itu, untuk membuktikan hal tersebut, Banten dituntut paling tidak meraih dua sukses, yakni sukses penyelenggaraan dan sukses meraih kejuaraan. Sukses penyelenggaraan tercermin dalam keseluruhan proses pelaksanaan, mulai dari aspek akomodasi, transportasi, jenis kegiatan, inovasi penyelenggaraan, pengerahan massa, hingga terkait respons dan perlakuan masyarakat terhadap para kafilah dari seluruh Nusantara. Aspek ini menuntut tangung jawab dan kerja profesional yang harus ditunjukkan panitia lokal dan segenap masyarakat Banten. Tanpa kerja keras dan sinergisitas kerja, maka target ini sulit terwujud, untuk tidak menyatakan utopis.

Sementara sukses kejuaraan terwujud dalam peningkatan prestasi kafilah Banten dibandingkan keikutsertaan pada masa-masa sebelumnya. Sejauh ini prestasi kafilah Banten pada event STQ maupun MTQ Nasional telah cukup menggembirakan. Pada MTQ Nasional XXI di Kendari tahun 2006, misalnya, Banten berada pada lingkaran sepuluh besar. Namun tentu saja, dengan kapasitas Banten sebagai lumbung qari, hafizh, mufassir, dan sebagainya, prestasi semacam ini masih belumlah cukup memuaskan. Banten ternyata masih tertinggal jauh dengan dua provinsi ternama lainnya, yakni Jawa Barat dan DKI Jakarta. Ketertinggalan ini tidak bisa dipatahkan hanya dengan alasan Banten masih belia, sebab jika menilik eksitensinya Banten sebagai suatu sistem sosial keagamaan telah lama bercokol dan mengakar.

MTQ Nasional XXII, di mana Banten bertindak sebagai tuan rumah, dengan demikian menjadi momentum tepat untuk menunjukkan kapabilitas dan eksistensi Banten sebagai pusat pembinaan dan pengembangan al-Qur’an di Nusantara. Pada gilirannya MTQ Nasional tahun ini akan dijadikan sebagai salah satu tolok ukur atau barometer kemampuan penyelenggaran event-event berskala nasional, terutama jika dihat dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, sistem, mekanisme, administrasi, dan manajemen penyelenggaraan. Nama baik Banten akan dipertaruhkan dan sangat tergantung dengan sukses atau tidaknya penyelenggaraan kegiatan ini.

Penyelenggaraan MTQ Nasional di banten tahun ini, apapun hasilnya, akan menjadi pengalaman yang amat berharga dan oleh karenanya harus dievaluasi selengkap dan secermat mungkin sehingga benar-benar menjadi alas pijak bagi penyelenggaraan kegiatan-kegiatan serupa pada masa-masa yang akan datang. Sebaliknya, pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MTQ Nasional tahun ini sepatutnya berhati-hati dan melakukan analisis dan perhitungan yang cermat dan mendalam terhadap semua aspek penyelenggaraan MTQ. Tindakan yang serampangan dan tidak didasarkan pada analisa yang matang, dikhawatirkan akan menurunkan citra Banten dan melahirkan keraguan publik Indonesia.

Ini pula yang sempat diwanti-wanti Ady Suryadharma, selaku Ketua DPRD Banten (Antara: 2007). Menurut dia, pelaksanaan MTQ Nasional tahun ini akan menjadi taruhan bagi kepercayaan publik Indonesia. Oleh karena itu sudah sepatutnya setiap komponen masyarakat Banten bahu-membahu menyukseskan pelaksanaan MTQ Nasional XXII di Serang tahun ini untuk mengangkat reputasi Banten di mata Pemerintah Pusat dan masyarakat Nusantara. Pencitraan Banten sebagai sentra pembinaan al-Quran di Nusantara, sekali lagi, akan sangat ditentukan pada mementum penting ini. Selamat bermusabaqah! []  (Harian Banten, 2008)

Satu Tanggapan

  1. Awesome… very amazing issue. I will write about it too!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: