Dimensi Esoterik dan Eksoterik Ibadah Kurban

Nuansa ibadah kurban adalah ketuhanan (esoterik) dan kemanusiaan (eksoterik). Esoterianisme kurban terletak pada ritualitas yang menjadi bagian inheren dari ibadah vertikal. Oleh karena itu wajar jika banyak pakar keislaman menyebut kurban sebagai momentum pembuktian kesetiaan hamba kepada Tuhannya. Kesan ini begitu menghujam dalam kisah yang dituturkan Alquran tentang kesalihan Ibrahim dan puteranya, Ismail. (Qs. 37: 102—108).

Sedangkan letak eksoterianisme kurban berada pada manfaat sosial yang ditimbulkan oleh ritualitas tersebut. Secara fisikal, kurban disimbolkan dengan penyembelihan hewan ternak tertentu yang dagingnya dibagi-bagikan kepada yang berhak menerimanya. Hal ini dimaksudkan agar terwujud solidaritas dan tenggang rasa antar-sesama. Agaknya inilah makna sosial yang dikandung oleh syariat kurban.

Namun, tidak semua kita mampu menangkap kedua dimensi ibadah kurban ini. Banyak orang terjebak pada kesadaran ketuhanan (God consciousness) an sich dan melupakan kesadaran sosial (humanity consciousnes) yang justru lebih esensial, atau sebaliknya, terlampau asik dengan kemeriahan nisbi dan melupakan  spiritualitas sejati. Akibatnya, makna esoterik dan eksoterik yang sejatinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam ibadah kurban justru gagal terwujud.

Dimensi Esoterik

Ada kisah fenomenal yang diabadikan Alquran tentang persaingan sengit dua putera Adam As.: Habil dan Qabil. Keduanya mencoba menarik perhatian Adam demi memperoleh apa yang diinginkannya. Kemudian Adam menguji mereka agar berkurban kepada Tuhan. “…Ketika kedua putera Adam mempersembahkan “qurban”, maka Allah menerima salah satu dari keduanya (Habil) dan menolak yang lainnya (Qabil). Ia berkata (Qabil), “Aku pasti membunuhmu!”. Kemudian Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban orang-orang yang bertakwa”. (Qs. 5: 27)

Kisah tersebut memberi gambaran, bahwa betapapun banyak dan bagus suatu persembahan (qurban) jika tidak dilandasi dengan keimanan dan keikhlasan, maka tidak akan bernilai apa-apa di hadapan Tuhan. Di sinilah makna signifikan dari keikhlasan dan kesucian hati ketika berkurban. Oleh karena itu, kesadaran Rabbaniyyah atau kesadaran Ribbiyyah adalah menjadi prasarat utama diterimanya suatu pengorbanan kepada Tuhan.

Dimensi esoterik ibadah kurban memang terkait erat dengan makna literal “qurban”, yang berarti dekat atau mendekatkan diri. Maksudnya, seorang hamba sejatinya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan lewat apa yang dimiliki, bahkan yang paling dicintai (Qs. 3: 92). Sementara ini kita sering memaknai secara gampang dan gegabah. Kurban dianggap ibadah bagi elit umat yang memiliki kekayaan dan kedudukan, lain tidak. Bahkan yang lebih salah kaprah, kurban dianggap sebagai rizki tahunan orang miskin.

Memandang kurban sebagai kebutuhan orang miskin adalah pemahaman yang jelas keliru. Karena jika menilik makna literalnya, yakni mendekatkan diri kepada Allah, maka yang justeru membutuhkan dan diuntungkan adalah mereka yang berkurban. Apabila berangkat dari pemahaman semacam ini, maka yang akan muncul adalah kesadaran spiritual yang mendalam dan jernih tentang pentingnya berkurban bagi dirinya.

Dimensi Eksoterik

Dimensi eksoterik erat kaitannya dengan hubungan horizontal (habl min al-nas) antar sesama manusia, masyarakat, dan lingkungannya. Dengan menyembelih hewan kurban, yang dagingnya dibagikan secara adil kepada masyarakat di sekitarnya, menunjukkan bahwa solidaritas sosial perlu dibangun dalam rangka memperkokoh dan memperteguh bangunan sosial-kemasyarakatan. Dengan penyembelihan hewan kurban, seseorang akan menyadari bahwa sikap egois, serakah, dan bentuk-bentuk sikap hedonis lainnya tiada lain hanyalah karakteristik yang akan meruntuhkan sendi-sendi bangunan sosial yang telah terbangun.

Dari titik ini juga akan memunculkan kesadaran esensial, bahwa untuk memperkuat bangunan sosial diperlukan pengorbanan dalam arti yang lebih luas dari masing-masing individu anggota masyarakat. Dalam hal ini, kesediaan untuk menyembelih hewan kurban di Hari Raya Idul adha dan hari-hari tasyriq hanyalah simbol dan cerminan tentang betapa pentingnya setiap anggota masyarakat melakukan pengorbanan demi terwujudnya kehidupan sosial yang tangguh. Dalam arti kata lain, kesediaan untuk menyembelih hewan kurban harus pula diikuti dengan kesediaan untuk berkorban dalam bentuk dan langgam yang lain, seperti tenggang rasa, tolong-menolong, saling membantu, menghargai perbedaan, toleransi, dan sebagainya.

Tanpa diikuti dengan kesediaan untuk berkorban demi masyarakat dalam pelbagai bentuk pengorbanan, maka ibadah kurban tidak akan memiliki hikmah dan atsar (pengaruh) yang sempurna bagi seseorang. Ibadah kurban, dengan demikian, baru akan memiliki hikmah yang besar bagi seseorang dan bagi masyarakat, jika diikuti dengan kesediaan berkorban untuk masyarakat, bangsa, dan negara.

Dengan demikian, syariat ibadah kurban sesungguhnya menjadi barometer yang bersifat vertikal dan horizontal tentang seberapa jauh kesetiaan, pengorbanan, dan pengabdian kita terhadap nilai-nilai ketuhanan (esoterik) dan nilai-nilai kemanusiaan (eksoterik). Oleh karena itu, pengorbanan yang diterima dan absah adalah ibadah kurban yang berdampak spiritual terhadap diri pribadi dan membawa pengaruh posistif bagi terbentuknya bangunan sosial yang kokoh. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: