Keterlibatan Agama Selesaikan Masalah Krusial, Bangsa Tergantung Kualitas Pemahaman Umatnya [Agama dan Pendidikan]

Jakarta, HU Pelita, 22/2/2003. Keterlibatan agama dalam memecahkan masalah-masalah krusial kebangsaan sangat tergantung pada kualitas pemahaman keagamaan penganutnya. Selain itu agama bukanlah penyebab terjadinya masalah-masalah kebangsaan seperti yang telah dikambinghitamkan oleh beberapa pihak yang mengatasnamakan agama. Melainkan karena kehidupan beragama yang ada dewasa ini kebanyakan hanya sebagai formalisme dan simbolisme.

“Kualitas pemahaman agama yang dangkal, keliru dan sempit seringkali menjadikan penyebab terjadinya masalah kemanusiaan,” kata Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra MA dalam sambutan upacara wisuda ke-55 di Jakarta, Sabtu (22/2).

Menurut Azyumardi, pemahaman agama yang dangkal tersebut akan memunculkan sikap radikal dan sikap ekstrim di dalam diri seseorang. Kondisi itu akan mengakibatkan seseorang akan mudah mengkambinghitamkan agama sebagai sumber penyebab berbagai peristiwa ataupun konflik di Tanah Air maupun di luar negeri. Padahal sebenarnya agama tidak memiliki keterkaitan dengan persoalan tersebut karena masalah yang terjadi lebih berhubungan dengan ekonomi, politik dan lainnya.

Disamping itu, lanjut Azyumardi saat ini bagi bangsa Indonesia sendiri sebagai bangsa yang beragama seolah-olah telah kehilangan apa yang dinamakan agama yang otentik dan mendatangkan kedamaian secara mutlak di muka bumi. “Untuk itu janganlah menyalahkan agama atas permasalahan yang terjadi, tetapi penganutnya yang gagal menafsirkan agama itu sendiri yaitu agama yang otentik,” tegasnya.

Saat ini dengan adanya kedangkalan dan kekeliruan, bahkan sempitnya pemahaman agama yang dilakukan penganutnya, maka masyarakat Indonesia harus mengakui bahwa selama ini religiusitas didalam diri masing-masing belum sepenuhnya diterapkan. Religiusitas yang ada didalam diri hanya baru pada tingkat formalisme dan simbolisme dan belum aktual.

Azyumardi membenarkan dalam kehidupan beragama saat ini ada kesenjangan antara kesalehan individual dengan kesalehan sosial. Dari segi kesalehan individual pemeluk agama rajin melaksanakan ibadah yang diperintahkan agamanya. Tetapi dari segi kesalehan sosial masih banyak terjadi permasalahan yang semakin sulit dihadapi dan dicarikan solusinya.

Berkenaan dengan hal itu, bangsa Indonesia perlu melakukan upaya revitalisasi keagamaan. Upaya tersebut dilakukan dengan menempatkan agama sebagai kekuatan besar untuk dijadikan dasar memecahkan berbagai masalah krisis multidimensional yang masih dihadapi. Ilmu agama yang dimiliki oleh umat beragama, khususnya umat Islam seyogyanya digunakan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan kemanusiaan dan sekaligus membangun kebesaran peradaban Islam itu sendiri.

“Oleh karena itu keimanan yang dimiliki penganut agama bukan keimanan yang tersembunyi dan terisolasi, tetapi keimanan yang diarahkan hanya pada Tuhan (teo-centris) tetapi ditujukan untuk kedamaian dan kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan,” paparnya.

Sementara ajaran Islam sebagai ajaran yang menghargai perbedaan pendapat dan keragaman melalui konsep tasamuh. Konsep tersebut mendorong kepada pemeluknya untuk bersikap kritis, dinamis, dan berani mengemukakan pendapat sekaligus menghargai pendapat orang lain. Untuk mewujudkan perbedaan pendapat sebagai sesuatu yang mendatangkan rahmat maka umat harus melakukan pengembangan paradigma tasamuh yang konstruktif, selektif dan dinamis.

“Paradigma itu merupakan paradigma yang dapat memperkuat setiap penganut agama untuk tidak saling mengganggu pemeluk agama lain dan menginterpretasikan sesuai perkembanghan zaman,” jelas Azyumardi.

Sementara di tempat yang sama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mewisuda 588 lulusan yang terdiri dari 526 sarjana strata satu (S1). Lulusan itu berasal dari 6 fakultas yakni fakultas Ilmu Tharbiyah dan Keguruan (235 orang), Fakultas Adab dan Humaniora (50 orang), Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (62 orang), Fakultas Syari’ah dan Hukum (97 orang), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (71 orang), Fakultas Psikologi (11 orang). Sedangkan lulusan Program Pascasarjana berjumlah 62 orang yang terdiri dari 44 orang Magister dan 18 orang Doktor.

Untuk IPK tertinggi dengan predikat cum laude dari program SI diraih Firdaus Wajdi dengan IPK 3,88 dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Sedangkan dari program Magister (S2) IPK tertinggi (cumlaude/terpuji) diraih Ahmad Tholabi dengan IPK 3,73 konsentrasi ilmu Syaria’ah. Program Doktor (S3) diraih Dr Buchari, MAg dengan IPK 3,78/cumlaude/terpuji konsentrasi ilmu Pengkajian Islam. (m13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: