Quo Vadis MTQ

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXII tingkat Nasional digelar di Provinsi Banten pada 17-24 Juni 2008. Inilah kehormatan sekaligus berkah yang sangat besar bagi Provinsi Banten. Betapa tidak, untuk menjadi tuan rumah MTQ Nasional sebuah Provinsi paling tidak harus menunggu antrean selama empat dekade. Segenap warga Banten, dengan demikian, patut berbangga menyambut kepercayaan Pemerintah Pusat dan bangsa Indonesia ini. Namun tentu saja, menjadi tuan rumah MTQ Nasional bukanlah tugas ringan. Diperlukan tenaga ekstra dan kerja sama yang sinergis dari seluruh komponen masyarakat Banten.

Seperti diketahui, kegiatan perlombaan seni membaca Alquran secara embrional sesungguhnya telah lama digagas oleh salah satu Badan Otonom di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yakni Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh (JQH) pada beberapa dekade sebelum resmi ‘diambil alih’ pemerintah. Bahkan, menurut sejarah, musabaqah al-Qur’an yang diselenggarakan JQH inilah yang dianggap sebagai MTQ pertama. Kenyataan historis ini sekaligus menjadi bukti bahwa MTQ lahir dari inisiatif masyarakat.

Bukan Eksklusivisme Agama

MTQ, yang kali pertama terselenggara secara Nasional di Makassar pada 1968, telah menyuguhkan nuansa kehangatan spiritualitas dan pesona budaya keagamaan khas Indonesia. Bagi umat Islam Indonesia, MTQ tidak hanya menjadi cermin kesalihan spiritual, namun lebih dari itu amat kental dengan gambaran aktivisme sosial keagamaan. Hal ini tergambar manakala hampir seluruh komponen umat terlibat dalam kegiatan tersebut secara tulus dan memfungsikannya sebagai wahana syiar Islam yang diracik dengan aroma kebudayaan lokal yang islami. Singkatnya, MTQ menjadi program nasional yang benar-benar dirasakan kehadirannya oleh masyarakat dan pada tataran tertentu menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan di bidang keagamaan.

Di sisi lain, penyelenggaraan MTQ, terutama pada level regional telah membangkitkan gairah dan motivasi yang kuat bagi generasi muda untuk senantiasa memelihara kesucian dan meningkatkan kecintaan terhadap kitab suci al-Qur’an lewat pembudayaan membaca, menghafal, memahami, serta berupaya mengamalkan isi dan kandungannya dalam kehidupan yang sesungguhnya, baik sebagai individu maupun sebagai warga negara. Ekspose seremonial MTQ juga sangat dominan mewarnai altar-altar media massa nasional dan daerah. Alhasil, penghargaan terhadap mereka yang berhasil meraih predikat terbaik adalah sebuah keniscayaan dan menjadi impian setiap generasi muda yang gandrung dengan seni baca al-Quran dan studi ilmu-ilmu al-Quran pada umumnya.

Dalam potret budaya masyarakat Indonesia, MTQ telah menjadi perhelatan keagamaan yang populer dan fenomenal. Bahkan, kegiatan yang dilakukan secara berjenjang dan berkala ini berhasil menciptakan suatu pola atau paradigma baru keberagamaan umat Islam Indonesia yang khas. MTQ tidak sekadar mempertontonkan sebuah eksklusivitas spiritual, namun ia juga membawa nilai-nilai pluralitas yang tercermin dari nuansa tradisi yang mengemuka dalam hiruk-pikuk hajatan tahunan tersebut. Oleh karena itu wajar jika momentum ini pantas untuk terus dipertahankan hingga kini.

Namun, hiruk-pikuk dan kemegahan MTQ, dengan segala manfaat dan kegunaan yang ditimbulkannya, tidak berarti sepi dari kritik dan kecaman. Banyak pihak merasa pesimistis bahkan pada tataran tertentu bersikap apatis terhadap penyelenggaraan MTQ yang dianggap tak ubahnya seperti upacara pesta-pora, menghambur-hamburkan uang negara dengan sia-sia.

Munculnya reaksi negatif pejoratif dari beberapa kalangan tersebut menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa tidak semua komponen bangsa memahami secara bijak mengenai substansi dan makna strategis di balik penyelenggaraan MTQ sehingga melupakan arti penting dan mahalnya ongkos untuk sebuah syiar keagamaan.

Kedua, perjalanan waktu telah menempatkan perhelatan MTQ tidak sekadar menjadi wahana pembinaan masyarakat dalam bidang kegamaan. Kini, tidak jarang momentum MTQ menjadi ajang mempertaruhkan prestise yang berimplikasi serius secara politis. Akibatnya politisasi MTQ menjadi fenomena yang tak terelakkan. Tindakan-tindakan membenarkan segala cara untuk sekadar memperoleh kejuaraan menjadi hal yang ‘lumrah’ dan dianggap sudah menjadi ‘tradisi’ yang dilakukan secara sadar dan sistematis. Kondisi semacam inilah yang melahirkan kegamangan dan menurunnya kredibilitas MTQ di mata outsider.

Seperti diketahui, dasar pemikiran utama penyelenggaraan MTQ adalah untuk meningkatkan gairah umat Islam Indonesia, khususnya generasi muda, agar senantiasa membaca, menelaah, memahami, dan mengamalkan isi kandungan al-Qur’an dalam kehidupan. Memang, penyelenggaraan MTQ, tentu saja, tidak pernah disyariatkan dalam al-Qur’an. Tapi, jika menilik manfaat dan syiar yang ditimbulkan, maka penyelengaraan MTQ layak diposisikan dalam konteks “al-mashlahah al-mursalah”. Lebih lanjut, haruskah suatu maksud baik sebagaimana dikemukakan di atas disambut dengan sikap pesimistis, bahkan apriori? Tentu sangat tidak bijaksana.

Jika dicermati secara obyektif, maka kita akan segera menangkap suatu kenyataan bahwa MTQ sesungguhnya merupakan momentum keagamaan yang identik dengan nuansa spiritualitas yang berkolaborasi dengan ruh kebudayaan lokal Indonesia. Oleh karenanya ia berbeda dengan penyelenggaraan kegiatan serupa di beberapa negeri muslim lainnya di dunia. Perbedaan mencolok tampak jelas dari sisi ornamentasi kegiatan yang sarat dengan riuhnya tampilan kesenian dan kekhasan budaya lokal lainnya. Untuk itu, kalaulah boleh diilustrasikan, MTQ layaknya ‘pesta’ budaya rakyat (muslim) Indonesia yang bernuansa religius.

Penyebutan ‘pesta’ tidak serta-merta menimbulkan kesan negatif. Karena kemeriahan, keceriaan, ketulusan, dan kepasrahan kepada Tuhan menyatu, membaur, dan mengkristal dalam semangat jihad untuk menyiarkan agama Islam melalui tradisi menulis, membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan isi dan kandungan al-Qur’an, baik bagi komunitas muslim sendiri maupun dalam konteks masyarakat bangsa yang plural.

Problem Empiris

Penyelenggaraan MTQ pada beberapa dekade yang lalu telah melahirkan ekses spiritul dan sosial. Oleh karenanya perhelatan ini selalu mendapat tempat di hati masyarakat. Hal ini ditunjukan dengan tingginya animo dan tingkat partisipasi masyarakat dalam setiap penyelenggaraannya. Mereka dengan senang hati berbondong-bondong memenuhsesaki arena musabaqah sambil terus bergumam penuh kekaguman.

Ada beberapa hal yang mendorong antusiasme masyarakat dengan MTQ pada waktu itu. Pertama, secara sosiologis, keterbatasan akses informasi dan hiburan yang diperoleh masyarakat melalui media massa, baik cetak maupun elektronik, memungkinkan mereka berkonsentrasi dengan tradisi lokal yang sangat religius. Hampir semua aktivitas kemasyarakat berorientasi kepada pendidikan dan pembelajaran moralitas masyarakat serta selalu mencerminkan semangat keagamaan.

Kedua, secara ekonomis, tuntutan kebutuhan materi masyarakat tidak menyebabkan mereka enggan melakukan aktivitas keagamaan maupun kemasyarakatan. Boleh jadi tipologi agraris menyebabkan rendahnya obsesi terhadap materi dan kemewahan. Selain itu keterjaminan struktur ekonomi, terutama pada paruh kekuasaan orde baru, nyaris tidak ada gejolak yang membuat masyarakat mengalihkan perhatian pada sisi ini.

Ketiga, secara politis, sokongan penguasa orde baru demikian tampak terlihat. Ini bisa dimaklumi mengingat arah kebijakan politik yang dijalankan penguasa waktu itu cenderung memberi ruang yang seluas-luasnya kepada umat Islam. Perlakuan top leader dapat dirunut dari kehadiran Presiden pada setiap penyelenggaraan MTQ/STQ Tingkat Nasional, yang kemudian diikuti oleh pejabat-pejabat pemerintahan pada level lokal.

Keempat, sebagai sebuah konsekuensi, momentum yang melibatkan massa besar akan manjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan pers. Paling tidak, masih terkait dengan sokongan penguasa, media elektronik milik pemerintah seperti RRI dan TVRI menjadi mitra yang sangat setia menyebarluaskan informasi perihal kegiatan ini. Kondisi ini didukung dengan posisi media “plat merah” ini sebagai single fighter dalam ranah teknologi informasi di tanah air.

Beberapa faktor itulah yang mengantarkan MTQ pada presisi yang unik dan seolah menjadi ikon kebudayaan muslim Nusantara. Sulit mencari pihak-pihak yang tidak mengenal dan merasakan eksistensi MTQ sebagai perhelatan kebudayaan religius. Dalam perhelatan itu, dengan demikian, berpadu ketulusan dan kesadaran keagamaan masyarakat, sokongan penguasa, serta penguatan fungsi dan komitmen pers dalam usaha pembinaan moralitas dan spiritual masyarakat.

Meski masih dijumpai di beberapa daerah, terutama daerah dalam kategori rural, namun untuk saat ini agaknya sulit menemukan potret penyelenggaraan MTQ dengan situasi semacam itu. Daya tarik MTQ untuk saat ini, harus diakui, kian banyak menemukan tantangan. Hal ini disebabkan, di samping faktor eksternal di atas, adanya pergeseran orientasi dan kecenderungan para pelaksana MTQ, yang sebelumnya lebih pada upaya pembinaan prestasi generasi muda beralih pada orientasi prestise yang cenderung pragmatis.

Itulah beberapa problem empiris MTQ pada saat ini. Bagaimana pun kegiatan ini, dengan pelbagai atribut kebudayaannya, merupakan bagian penting dari episode perjalanan sejarah sosial umat Indonesia yang tidak boleh lekang dan terhapus dari memori kolektif kita. Pekerjaan rumah yang mendesak saat ini adalah bagaimana mendudukkan kembali penyelengaraan MTQ kepada jalurnya yang genuine, sebagaimana yang diharapkan oleh para penggagasnya, dan kita semua tentunya. Ya, MTQ sejatinya melahirkan selaksa inspirasi dan kreasi bagi umat Islam dalam rangka mewujudkan tegaknya Islam dengan landasan kitab suci al-Qur’an. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: