Gebyar “Kaum Sarungan”

Jika tidak ada aral melintang, Ahad, 18 September 2005, Wakil Presiden, Yusuf Kalla, akan membuka secara resmi Pekan Olah Raga dan Seni Antar Pondok Pesantren Tingkat Nasional (Pospenas) di kota Medan, Sumatera Utara. Perhelatan komunitas yang sering disebut “kaum sarungan” ini menarik disimak karena tergolong unik dan istimewa. Sejak penyelenggaraan Pospenas I di Ma’had al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat (2001), hingga pada penyelenggaraan kali kedua di kota Palembang, Sumatera Selatan (2003), telah menuai sukses besar. Hal ini ditandai dengan tingginya tingkat partisipasi santri dan animo masyarakat dari seluruh penjuru tanah air. Diharapkan, Pospenas III tahun ini akan lebih sukses dan meriah dibanding dua penyelenggaraan sebelumnya.

Citra Keagamaan

Banyak kalangan menilai, Pospenas merupakan event kompetisi olah raga (dan seni) yang bernuansa Islam pertama di dunia. Hal ini sekaligus menolak klaim Islamic Solidarity Sport Federation (ISSF) yang pada April lalu menggelar event olah raga islami (Islamic Solidarity sport) di Arab Saudi. ISSF, sebagai reperesentasi negara-negara Islam/muslim, nyatanya baru tahun ini menggelar kegiatan tersebut pada level internasional. Oleh karena itu, penyelenggaran Pospenas menjadi ajang pembuktian kepada dunia internasional bahwa, meski bukan negara Islam, Indonesia telah lebih dulu memulai turnamen olah raga yang bernuansa islami. Di sinilah letak nilai lebih dari Pospenas.

Dalam konteks psikologi masyarakat, kegiatan ini diyakini akan dapat mengangkat citra sosial kaum santri. Dahulu persepsi publik terhadap performa santri, kyai, dan pesantren sedemikian eksklusif namun tidak jarang bernuansa pejoratif. Santri digambarkan sebagai kandidat manusia suci yang kelak diserahi tugas menyampaikan risalah keagamaan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sebagian kalangan menempatkan mereka ke dalam lingkaran elite keagamaan.

Secara teologis, memosisikan santri pada maqâm terhormat tersebut sesungguhnya bukan tanpa alasan. Karena dalam sistem kepercayaan muslim terdapat semacam hirarki yang menempatkan kaum intelektual agama (al-‘Ulamâ’) pada posisi yang demikian elitis, yang digambarkan sebagai “ahli waris” para Nabi (Al-‘Ulamâ’ waratsat al-Anbiyâ’). Akibatnya, seluruh ihwal yang melingkupi sosok santri dan ulama menjadi terangkat reputasinya di mata para penganut Islam selaras dengan penghargaan agama terhadap posisi mereka.

Perluasan Peran

Dalam konteks reorientasi pesantren dan peningkatan mutu santri, maka gebyar Pospenas yang dimotori Departemen Agama dan beberapa instansi pemerintah terkait di bawah Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat adalah salah satu bentuk upaya ke arah modernisasi dan perluasan peran santri di era global.

Secara sederhana dapat dipersepsikan bahwa Pospenas diharapkan mendorong para santri pondok pesantren agar mampu membentuk dirinya menjadi manusia paripurna (insan kamil). Dan yang juga penting adalah lewat Pospenas timbul etos ukhuwwah islamiyyah tanpa menimbang suku, ras, dan warna kulit. Semuanya membaur, menyatu, dan bahu-membahu dalam semangat kompetitif yang menjunjung tinggi sportivitas.

Penyelenggaraan Pospenas III, setelah sukses dalam dua penyelenggaraan sebelumnya, yakni di pesantren al-Zaytun, Jawa Barat, dan Palembang, sekaligus diharapkan dapat menepis anggapan pejoratif dan eksklusif terhadap dunia pesantren, kyai, dan santri. Pospenas akan membuka mata setiap orang bahwa santri merupakan bagian komponen bangsa yang juga dapat menunjukkan kemampuannya, terutama dalam bidang seni dan olah raga, sebagaimana komponen bangsa lainnya.

Dengan menunjukkan kepiawaian dalam dua hal tersebut, sekaligus menepis anggapan (world view) yang bernada minor dan pesimistis dari banyak kalangan terhadap jati diri kaum santri yang dipersonifikasikan sebagai komunitas “sarungan”, terbelakang, kumuh, dan marjinal.

Selama ini, masih ada beberapa pihak yang belum dapat memahami korelasi positif antara tugas pokok santri, di satu sisi, dan keberadaan ragam olah jasmani dan ekspresi seni, pada sisi yang lain. Tegasnya, terkadang orang membuat dikotomisasi antara pergulatan spiritual dan intelektual keagamaan kaum santri di kobong-kobong (gubug asrama) dengan hiruk-pikuk dan gegap-gempitanya pentas seni budaya serta riuhnya tepuk sorai penonton olah raga. Dua hal tersebut dianggap sebagai sebuah kontradiksi. Padahal, untuk meraih puncak spiritualitas dan ketajaman intelektual diperlukan kondisi fisik yang prima dengan berolah raga (al-‘aql al-sâlim fi al-jismi al-sâlim).

Di samping itu, salah satu prasyarat manusia paripurna adalah memiliki kehalusan cipta, rasa, dan karsa. Tidak semua orang dapat memiliki ketiga komponen tersebut, kecuali mereka yang bergelut dan selalu mengasah rasa lewat sentuhan-sentuhan lembut dan indah dari pelbagai ragam kesenian. Dalam arti kata lain, aroma seni diyakini dapat memicu terbentuknya kehalusan rasa dan kepekaan nurani.

Hanya saja, ketika seni dan olah raga dikompetisikan, maka keduanya menjadi hal yang menjebak dan penuh godaan. Apalagi ketika aroma kepentingan politis dan ambisi-ambisi pribadi menyeruak, maka salah-salah pelbagai tujuan luhur menjadi absurd. Yang lahir justru benturan dan permusuhan yang kontraproduktif.

Untuk itu perlu adanya upaya internalisasi nilai-nilai spiritual dan etos vertikal oleh semua pelaku, baik peserta, official, maupun panitia, agar penyelenggaraan Pospenas III ini dapat berjalan lancar dan meraih target yang diinginkan. Selamat berkompetisi! []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: