Menggugah Kesadaran Berzakat

Perbincangan mengenai konsep filantropi Islam dalam pelbagai bentuknya kian mengemuka dalam aras wacana publik negeri ini. Terlebih di bulan Ramadhan yang sangat disucikan umat Islam, anjuran untuk berderma sebagai wujud kesalihan sosial senantiasa menyertai aktivisme Ramadhan sebulan suntuk.

Menguatnya kembali harapan (estimasi) banyak kalangan terhadap implementasi filantropi Islam, baik dalam bentuk zakat, infak, sedekah, dan bahkan wakaf (ziswaf), memiliki keterkaitan erat dengan kondisi bangsa yang belum sepenuhnya bangkit dari keterpurukan sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Kondisi ini berakibat kesenjangan penguasaan perekonomian antarwarga negara menjadi kian lebar. Pada saat itulah, ziswaf kembali dilirik dan diharapkan menjadi alternatif solusi terhadap problem kemiskinan umat.

Dalam pandangan para yuris muslim, ziswaf, terutama zakat merupakan ajaran yang melandasi tumbuh dan berkembangnya sebuah kekuatan sosial ekonomi umat Islam. Seperti pada empat rukun Islam yang lain, ajaran zakat menyimpan beberapa dimensi yang kompleks meliputi nilai privat-publik, vertikal-horizontal, serta ukhrawi-duniawi. Nilai-nilai tersebut merupakan landasan pengembangan kehidupan kemasyarakatan yang bersifat konprehensif.

Bila semua dimensi yang terkandung dalam ajaran zakat ini dapat diaktualisasikan, maka zakat akan menjadi sumber kekuatan yang sangat luar biasa bagi pembangunan umat menuju kebangkitan kembali peradaban Islam yang beberapa abad mengalami masa suram. Menunjuk arti penting zakat dalam konteks pembangunan ekonomi umat, dalam al-Qur’an ditemukan sedikitnya 72 kali terminologi “zakat” disebut-sebut, yang kemudian dirangkai dengan kata “shalat”. Kecenderungan al-Qur’an dalam merangkai kedua terminologi keagamaan tersebut menunjukkan perimbangan makna di antara keduanya. Dalam arti kata lain, implementasi ajaran zakat memiliki keutamaan yang ‘sebanding’ dengan ajaran shalat dalam Islam. (Qs. 2: 43).

Dalam magnum opus-nya, Tafsir al-Mishbah, Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa antara shalat dan zakat memiliki keterikatan yang saling mendukung satu sama lain. Ritual Shalat dianggap sebagai keniscayaan hamba dengan Sang Pencipta. Sementara zakat menjadi suatu kemestian individu sebagai bagian dari bangunan sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, keduanya merefleksikan keseimbangan hidup di dunia dan akhirat.

Kewajiban berdimensi sosial
Keutamaan ajaran zakat jika perbandingkan dengan ajaran-ajaran lain menunjukan bahwa hanya zakatlah yang dianggap sarat dengan nilai-nilai sosial. Oleh sebab itu zakat dalam mata rantai peningkatan kesejahteraan umat Islam tak mungkin diacuhkan. Dalam ajaran fikih, misalnya, masalah zakat ditempatkan pada kitab kedua dari rub’ al-ibadah. Dengan demikian, ibadah zakat menjadi diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang (ma’lum min al-din bi al-darurah).

Namun dalam perjalanan sejarah masyarakat Islam, ajaran zakat, dengan pelbagai dimensi yang dimiliki, sepertinya luput dari perhatian umat Islam. Zakat tinggal menjadi kewajiban pribadi umat Islam dan dilakukan dalam upaya melaksanakan kewajiban diri terhadap Allah semata-mata. Zakat sekadar menjadi, apa yang disebut sebagai, ibadah mahdhah, privacy, dan bernuansa orang-perorang. Dalam arti kata lain, telah terjadi suatu pergeseran makna, dari suatu ajaran yang luas dan mendalam, yang dikembangkan Rasul dan sahabat, pada akhirnya zakat menjadi ajaran yang sempit bersamaan dengan mundurnya umat Islam dan menurunnya kemauan  berfikir.

Untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas yang tinggi antar manusia, Islam sebenarnya telah memberikan petunjuk pembelanjaan untuk harta yang berlebihan. Ajaran ini menegaskan bahwa harta kelebihan harus  digunakan untuk mencari kebajikan, kebenaran, kesejahteraan masyarakat dan dalam bentuk bantuan kepada orang yang sudah tak mampu menjamin akan kebutuhannya sendiri. Cara terbaik bagi orang yang berlebihan harta adalah mengulurkan tangannya kepada orang-orang miskin. Kebajikan ini diakui sebagai suatu ajaran moral tertinggi dalam Islam. Dan dilain pihak, masyarakat Islam senantiasa memuliakan orang-orang yang memperoleh suatu harta seraya membelanjakannya dengan cara yang benar dari pada kepada orang-orang yang selalu menimbun hartanya atau terus-menerus menginvestasikannya untuk memperoleh keuntungan lebih banyak.

Tipologi terakhir ini pada gilirannya melahirkan kelompok manusia yang egoistik, materialistik, dan hedonistik. Yakni kelompok yang hanya berfikir bagaimana menciptakan ketenangan, keuntungan, dan kebahagiaan bagi dirinya sendiri, tentu berdasarkan takaran materi, tanpa peduli dengan orang di sekelilingnya. Al-Qur’an secara tegas mengecam tipologi manusia semacam ini dan menyebutnya sebagai golongan al-Takatsur (Qs. 102: 1-8).

Sokongan Kekuasaan
Dalam ranah kajian fikih Islam, zakat dikategorikan sebagai jenis ibadah yang berkaitan erat dengan harta benda (maliyah). Oleh karena itu, bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu, sebagaimana yang telah digariskan Syariat, maka dia dituntut untuk menunaikannya, bukan semata-mata atas dasar kemurahan hatinya, tapi kalau perlu ‘dipaksa’ dengan menggunakan kekuasaan.

Intervensi kekuasaan dalam pelaksanaan ibadah zakat dapat dipahami dalam konteks kepentingan dan keseimbangan sosial. Ketika ketimpangan perekonomian mendera umat, di mana sirkulasi kekayaan berputar pada lingkaran tertentu, maka intervensi kekuasaan sebagai pencipta keseimbangan menjadi hal yang sulit ditawar-tawar. Dalam kaitan inilah, Islam memberikan ‘otoritas’ pengelolaan potensi zakat yang tersirat dan tersurat dalam pelbagai teks-teks suci (Qs. 9: 103).

Dalam konteks penegakan ajaran zakat dengan kekuasaan ini Islam menetapkan Amilin atau petugas-petugas khusus pengelola, disamping menetapkan sanksi-sanksi duniawi dan ukhrawi terhadap mereka yang enggan membayar zakat.

Mengapa demikian? Muhammad Quraish Shihab mengungkapkan bahwa paling tidak ada tiga jawaban yang dapat dikemukakan untuk menggambarkan landasan filosofis kewajiban zakat.

Pertama, Istikhlaf atau penugasan sebagai khalifah di bumi. Allah Swt. adalah pemilik seluruh alam raya dan segala isinya, termasuk pemilik harta benda. Seseorang yang beruntung memperolehnya pada hakikatnya hanya menerima titipan sebagai amanat untuk disalurkan dan dibelanjakan sesuai dengan kehendak pemiliknya.Manusia yang dianugerahi amanat itu, dengan demikian, berkewajiban memenuhi ketetapan-ketetapan yang digariskan oleh Sang Pemilik, baik dalam pengembangan harta, maupun dalam penggunaannya.

Zakat merupakan salah satu ketetapan Tuhan menyangkut harta, termasuk di dalamnya sedekah dan infak. Karena Allah Swt. menjadikan harta benda sebagai sarana kehidupan untuk umat manusia seluruhnya, maka ia harus diarahkan guna kepentingan bersama.

Kedua, solidaritas sosial. Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon). Kebersamaan antara beberapa individu dalam suatu wilayah membentuk masyarakat, yang walaupun berbeda sifatnya dengan individu-individu tersebut, namun dia tidak dapat dipisahkan darinya.Manusia tidak dapat hidup tanpa masyarakatnya. Sekian banyak pengetahuan diperolehnya melalui masyarakat, seperti bahasa, adat-istiadat, norma-norma, sopan-santun, dan sebagainya. Demikian halnya, dalam bidang material, betapapun seseorang memiliki kepandaian, namun hasil-hasil  material yang diperolehnya adalah berkat bantuan dari pihak-pihak lain, baik langsung atau pun tidak langsung.

Hingga titik ini maka kedudukan manusia tak lain hanya sekadar pengelola. Sang Pencipta dan Pemilik Segala Sesuatu adalah kembali kepada Tuhan. Dengan demikian, wajar jika Allah Swt. memerintahkan untuk mengeluarkan “sebagian kecil” dari harta yang diamanatkan-Nya kepada seseorang itu demi kepentingan orang lain yang membutuhkannya.

Ketiga, persaudaraan. Manusia berasal dari satu keturunan yang sama (Adam), dan oleh karenanya antara seorang dengan yang lainnya terdapat pertalian darah, dekat atau jauh. Pertalian darah tersebut akan lebih kokoh dengan persamaan-persamaan lain seperti agama, kebangsaan, lokasi domisili, dan sebagainya.Disadari bersama, bahwa hubungan persaudaraan menuntut bukan sekadar hubungan take and give (mengambil dan menerima), atau pertukaran manfaat, tetapi lebih dari itu, yakni memberi tanpa menanti imbalan atau membantu tanpa perlu diminta bantuan.

Nah, kebersamaan dan persaudaraan inilah yang mengantarkan kepada kesadaran menyisihkan sebagian harta kekayaan, khususnya kepada mereka yang butuh, baik dalam bentuk kewajiban zakat maupun sedekah dan infak.

Mencermati ketiga landasan filosoifis yang dikemukakan Shihab tersebut, menunjukkan bahwa zakat adalah suatu ajaran logis (thinkable), rasional, dan masuk akal. Kewajiban zakat, dilihat dari sudut pandang sosiologis, mencerminkan suatu pola simbiosis mutualis, di mana terjadi interaksi antarindividu sebagai anggota masyarakat yang saling menguntungkan. Maka beberapa perspektif ini, dengan demikian, telah mendukung ketentuan normatif yang telah digariskan oleh agama.

Namun demikian, semua ketentuan normatif keagamaan, apapun bentuknya, hanya akan menjadi slogan usang atau bahkan fosil-fosil tua jika tidak diiringi dengan kesadaran dan kemauan menjalankan dari umatnya secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.

Wallahu a’lam bishshawab

5 Tanggapan

  1. Assalaamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
    Salam kenal dari ane pak Kyai… Potensi zakat ummat Islam di Endonesa sebenernya sangat besar ya pak? Kalo saja dikelola dengan baek, dan kesadaran ummat akan zakat sudah menjadi kesadaran kolektif, mungkin kita bisa menekan kemiskinan dan masalah-masalah sosial yang diakibatkannya.

  2. Selamat datang di WordPress… Pak Kyai ini rupanya masih muda… seumuran sama saya:mrgreen:

    Terus berbagi ya Kyai…

  3. Assalaamu ‘alaikum pak. Saya enggak komen dulu artikelnya, sudah luar biasa mencerahkan… Salam kenal dari saya

  4. Saya lagi cari artikel soal zakat, alhamdulillah nemu juga di sini. Saya copy ya pak? Terimakasih

  5. Sebetulnya saya menunggu bahasan tentang urgensi intervensi kekuasaan dalam penanganan zakat di Indonesia, lalu komparasinya dengan penanganan pajak, seperti yang sempat menjadi wacana ramai yang digulirkan oleh Masdar Mas’udi dulu. Tapi ini saja sudah cukup mencerahkan diri saya. Selamat pa, keep in write.

    Salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: