Menggagas Peta Baru Kaligrafi Islam

Mukadimah

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa  jauh sebelum Islam datang masyarakat Arab dikenal sebagai bangsa yang hampir-hampir tidak mengenal aksara, bahkan beberapa di antara mereka tampak ‘anti huruf ‘.

Menurut D. Sirojuddin AR, meski orang-orang Arab dikenal sangat piawai dalam bidang sastra, dengan sederet nama-nama sastrawan beken pada zamannya, namun dalam hal tradisi tulis-menulis (khat) masih tertinggal jauh dibanding beberapa bangsa di belahan dunia lainnya yang telah mencapai tingkat kualitas tulisan yang sangat prestisius. Sebut saja misalnya Mesir dengan tulisan Hieroglip, India dengan gaya Devanagari, Jepang memukau dengan aksara Kaminomoji, Indian dengan Azteka, Assiria dengan Fonogram/huruf Paku, dan pelbagai negeri lain yang sudah terlebih dahulu memiliki trade mark jenis huruf/aksara.

Tampaknya, masih menurut Didin, tradisi “dari mulut ke mulut” (verbalism) dalam menyampaikan pesan atau menalar syair dan menghafal silsilah telah menyurutkan hasrat orang-orang Arab untuk mengangkat tulisan mereka ke tingkat presisi yang tinggi, dan jenjang kelasnya dengan puisi atau syair yang mereka agungkan, jelas,  tidak seimbang.

Kehadiran Islam, dengan pelbagai atribut yang dibawanya, telah membawa perubahan besar dan cepat (baca: revolusi) pada perkembangan tradisi bangsa Arab. Betapa tidak, ketika orang-orang Arab tengah asyik-masyuk dengan tradisi verbal yang mereka banggakan, wahyu pertama (al-’Alaq:1-5)—yang berisi berintah Tuhan agar membaca, menelaah, dan menganalisis—justru menghentakkan mereka dari tidur panjangnya, seolah—meminjam istilah Didin—menjadi “bom” yang menghempaskan idealisme bangsa Arab. Maka sejak saat itu, perkembangan tradisi tulis menulis di negeri itu benar-benar spektakuler, melompat, bahkan berlari meninggalkan bangsa-bangsa lain.

Dari titik ini dapat ditegaskan bahwa Alquran diposisikan sebagai sumber segala inspirasi dan dijadikan ajang perburuan kreasi yang tiada habis-habisnya. Lebih dari 1000 tahun sebelum Islam datang, perjalanan kaligrafi Arab sangat tersendat, dan tidak melahirkan keanekaan ranting-ranting yang kukuh. Namun, hanya dalam beberapa dekade setelah Islam, terjadi perubahan dan lompatan besar, nyaris tak terbendung. Akar-akar tulisan pecah menjadi lebih dari 400 aliran.

Sikap para ulama terhadap seni kaligrafi yang bertolak belakang dengan sikap mereka terhadap seni gambar mahluk bernyawa, dan sambutan pundi-pundi dinar para Sulthan atas karya kaligrafi yang bagus, telah banyak melahirkan banyak maestro yang menempatkan kaligrafi ke puncak seni yang mengandung halawah (gula-gula). Untuk itu, seorang kaligrafer besar, Yaqut al-Musta‘shimi (w 698H/1298M) mengibaratkan kaligrafi sebagai arsitektur ruhani yang diekspresikan lewat medium jasmani (al-khaththu handasatun ruhaniyyatun zhaharat bi alatin jismaniyyatin). Siloka ini, oleh M. Ugur Derman dalam jurnal Art and The Islamic World, vol. 4, 1987, —seperti dikutip Sirojuddin (1989:3)— dibahasainggriskan menjadi, “Calligraphy is a spiritual geometry brought about with material tools.” (Kaligrafi adalah suatu ilmu ukur spiritual yang menghasilkan perabot kebendaan).

Pencarian Performa Ideal

Demikianlah, seni kaligrafi Islam berkembang dengan pesat di negeri Arab seiring dengan pelbagai revolusi yang dilancarkan Islam dalam pelbagai sisi lainnya, terutama pembaruan radikal dalam aspek teologis. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, pandangan orang terhadap kaligrafi lebih didorong oleh ritus magis. Tulisan Kufi, misalnya, yang mencapai puncak kesempurnaannya pada pertengahan abad VIII Miladiyah, dan dirajakan sebagai satu-satunya tulisan yang digunakan untuk menulis Alquran, dan diyakini sebagian kalangan datang dari malaikat Jibril ketika wahyu pertama nuzul. (Sirojuddin: 1990, 9; Naji Zainuddin: 298)

Meskipun Kufi lambat laun ‘tersingkir’ oleh saingan-saingannya dari pilihan umat Islam sebagai jenis khat untuk menyalin Alquran, dan mulai kehilangan fungsi sentuhan-sentuhan ekspresi atau fakta-fakta komunikasi terpentingnya, namun pandangan-pandangan tentang kekudusan Alquran yang harus dibalut dengan kaligrafi yang artistik malah terus berlanjut. Dan, hal inilah yang menyebabkan bergemuruhnya perkembangan kaligrafi Arab di dunia Islam. ‘Perburuan’ untuk menemukan aliran-aliran baru tulisan pun demikian heroik. Seolah semuanya dipersembahkan untuk menghormati keagungan Alquran belaka.

Desakan untuk mencari formula-formula baru, apalagi oleh karena Kufi memiliki karakteristik yang kaku, maka perlu dicarikan jalan keluarnya, yang kemudian berakhir dengan dibangkitkannya aliran-aliran terpendam. Dari kaum ulama muncul para pemerhati dan kritikus kaligrafi, seperti Hasan al-Bashri (w. 727 M), seorang ulama fikih dan ahli tasawuf kenamaan. Sedemikian kuat komitmen dia terhadap seni ini, sehingga ada yang menduga—meski kurang memiliki argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan—bahwa Hasan adalah orang yang menggubah Kufi kepada Naskhi dan Tsuluts (lihat Shafwah al-Shafwah III: 155).

Demikian pula dengan Abu Aswad al-Du’ali (w. 69H/688M), seorang ahli gramatika bahasa Arab, disusul kemudian oleh murid-murid dan penerus-penerusnya seperti Nashir ibn Ashim, Yahya Ibnu Ya’mar, dan al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi, memberi andil yang signifikan dalam rangka penyempurnaan huruf-huruf Alquran supaya mudah dibaca dengan pembuatan tanda-tanda baca, mencakup titik-titik pembeda (diacritical marks) atau nuqthah dan syakl (vocalization). Hal ini dilakukan dalam koridor penyem-purnaan-penyempurnaan mushaf dengan penampilan dan jauhar-nya, sehingga lekat sudah kontak antara dunia seni dengan dunia agama dalam visi ini.

Pada era dinasti Umayyah, Qutbah al-Muharrir (661-750M)—seorang kaligrafer besar pada masa itu—melancarkan penggubahan lima tulisan penting yaitu Thumar, Jalil, Nashf, Tsuluts, dan Tsulusayn. Tulisan-tulisan ini, menurut kitab Minhaj al-Ishabah, hanyalah sebagian dari 14 model hasil gubahan dari Kufi yang tidak memuaskan itu. Ia dan murid-muridnya mulai menulis Alquran dengan tulisan-tulisan tersebut. Bahkan dalam konteks tersebut, tak kurang Khalifah Umayyah pertama, Mu’awiyah bin Abi Shafyan (661-680M), memberikan dorongan melalui perintah-perintah penggunaannya. Bahkan, sejak Khalifah Abd al-Malik ibn Marwan berkuasa (685-705M), diberlakukan suatu dekrit tentang Arabisasi. Walhasil, kegiatan penyalinan mushaf Alquran begitu menjamur.

Di masa kekhalifahan dinasti Abbasiyah (750-1258M), perburuan terhadap penemuan baru kian menjadi-jadi. Ini barulah ledakan awal dari sebuah kenyataan bahwa para khattat pun tidak kalah keranjingan dari para saintis muslim di abad tamaddun Islam. Nanti, akan sampai pada titik kulminasi, di mana kreasi ditunjukkan untuk mencapai karya-karya masterpice yang adiluhung dengan penonjolan obyek goresan yang begitu greget, warna-warni temaram, dan bayangan setting kuat yang melatarbelakangi suasana haru dan rasa indah. Dan, pembicaraan tentang seni kaligrafi pun selangkah maju lagi kepada konsep kreatif yang lebih filosofis. Porsi ini didominasi oleh imperium Turki Utsmani dan kerajaan-kerajaan Islam Persia, seperti Ilkhaniyah, Timuriyah, dan Syafawiyah. (Sirojuddin, 1990: 11)

Para kaligrafer dinasti Abbasiyah sangat ambisius menggali penemuan-penemuan baru atau mendeformasi corak-corak yang tengah berkembang. Dan pada puncaknya, al-Ahwal al-Muharrir, berhasil menemukan enam besar jenis tulisan yang disebut dengan al-Aqlam al-Sittah atau Shis Qalam menurut bahasa Persia, yaitu Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq, Rayhani, Riq’ah, dan Tawqi’. Ini belum termasuk aliran-aliran lain, hasil deformasi dari yang ada, misalnya Ghubar, Riyasi, Nishf, Majmu’, Hawaiji, Gubar Hulbah, Mantsur, Muqtarin, Lu’lu’i, Asy’ar, Khafif Tsuluts, dan—seperti yang dirinci dalam Tuhfat Uli al-Albab dalam pasal asma al-qalam (nama-nama tulisan)—jumlah selebihnya mungkin ratusan.

Semetara itu, raja-raja Aghlabiyah (800-909M), mengukuhkan dinasti mereka di Barat Islam setelah membelot dari kekuasaan Abbasiyah . Di Darul Islam bagian barat, Kufi berkembang menjadi khat maghribi atau Kufi Barat dengan jenis-jenisnya: Qairawani, Andalusi, Fasi, dan Sudani. Dalam visi lain, Kufi juga berkembang dalam bentuk-bentuk Kufi Murabba’, Kufi Muwarraq, Kufi Mujdil, dan Kufi Mutarabith. (ibid)

Kerajaan-kerajaan di Persia mengembangkan jenis-jenis tulisan yang khas, yaitu Farisi Ta’liq dan Nasta’liq, yang menurut Dr. Muhammad Thahir Kurdi dalam tarikh al-Arabi al-Adabuh,—sebagaimana dikutip Sirojuddin (1990:11)—diambil dari khat Firamuz yang merupakan hasil kolaborasi antara khat-khat Silwathi, Suhelli, Rashif, dan Hawaiji.

Para Syah Persia (abad XIII-IVII M), Moghul (1526-1605M), dan sultan-sultan Utsmani (abad XIV-XXM), dengan meneruskan teladan para khalifah dinasti Abbasiyah menempatkan diri mereka sebagai “Bapak Pelindung” kaligrafi, menghargai setinggi-tingginya dan merasakan kesucian luar biasa kaligrafi Islam, serta tidak sungkan-sungkan membayar mahal karya karya para kaligrafer. Bahkan, menurut Mahmud Bukhari (1991), Ketua Lembaga Seni Rupa Indonesia (LSRI), kedudukan para kaligrafer, pada waktu itu, sejajar dengan putera mahkota (pangeran). Dan bobot karya mereka ditimbang dengan emas permata. Hal ini menunjukkan penghargaan para penguasa yang tiada terkira tingginya kepada para kaligrafer.

Para Maestro kaligrafi terbesar Islam sepanjang sejarah, seperti Seikh Hamdullah al-Amasi (w. 520M), al-Hafizh Utsman (w. 1698M), Mir Ali Tabrizi (w. 1416M), Imaduddin al-Husayni (w. 1615M), Hamid al-Amidi (w. 1982M), dan Hasyim Muhammad al-Baghdadi (w. 1972M) bereputasi dan sangat populer karena banyak menulis mushaf Alquran. Ibnu Bawwab, yang digelari Qalam Allah fi Ardhihi (pena Allah di bumi-Nya) menulis tidak kurang dari 64 mushaf. Yaqut al-Musta’shimi, sang Qiblat al-Kuttab, dan yang karyanya telah menyebar ke seluruh ufuk, juga menulis puluhan mushaf. Sayang, karya mereka kini telah musnah.

Kompetisi mencurahkan segalanya untuk Alquran, sebagaimana diuraikan di atas, secara deras telah melahirkan gaya-gaya tulisan yang lebih modern, seperti Diwani, Diwani Jali, Riq’ah, Naskhi Utsmani, Riq’ah Utsmani, Riq’ah Mishri, Jali Ta’liq, Anjeh ta’liq, Tahriri, Sikasteh, Sikasteh ta’liq, Sikasteh Amiz, Gubari Ta’liq, Behari, Shini, Shiyaqat, Naskhi India, Tsusluts India, Musalsil, Tughra, Zulf-i-Arus, Aynali, Sunbuli, harf al-Nar, Harf al-Tajj, Ijazah, dan lain-lain.

Kemudian, kaidah khat secara apik dirumuskan untuk kali pertama oleh al-Wazir Ibnu Muqlah, dikenal sebagai Imam al-Khaththathin. Ibnu Muqlah adalah khattat jenius yang memiliki pengetahuan mendasar tentang geometri. Dia telah membawa kemajuan besar dalam perumusan gaya-gaya kaligrafi kla-sik. Namanya sering disebut-sebut dalam buku-buku sejarah. Karenanya, Ibnu Muqlah selalu dikaitkan dan dianggap sebagai “penemu sejati” kaligrafi Arab.

Ibnu Muqlah merumuskan bidang-bidang ukur untuk setiap huruf kaligrafi Arab melalui komponen silinder atau lingkaran, titik belah ketupat, dan alif vertikal. Sebagaimana para pencipta yang besar, dia berhasil menempatkan ciptaannya menjadi satu-satunya teori kaligrafi yang hingga saat ini belum bergeming atau tergusur oleh teori-teori alternatif yang memang tidak pernah muncul kemudian.

Metode penulisan ini disebut al-Khath al-Mansub, dimaksudkan sebagai tatacara peletakan seni kaligrafi yang benar dan mendalam, sesuai dengan rumus-rumus yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, mengikuti disiplin yang ketat, dan berhubungan (mansub) dengan tiga unit standar yang disebut terdahulu, yakni titik belah ketupat atau jajaran genjang, alif, dan lingkaran.

Demikianlah, secara singkat dapat dikatakan, bahwa upaya penyempur-naan kaligrafi Arab telah dilakukan dan semarak di Negeri Seribu satu Malam, Baghdad Darussalam. Dan pada tahap selanjutnya, kaligrafi Arab diperhalus dan mencapai puncaknya di tangan para kaligrafer Turki Utsmani. Di tangan merekalah puncak kehalusan seni ini dan menemukan bentuk terbaiknya.

Menyimak liku-liku perjalanan sejarah di atas, agaknya tidak salah apa yang dikatakan banyak orang bahwa, “Alquran turun di Hijaz; ditulis di Baghdad (dan Turki); dibaca di Mesir”. Hijaz dianggap sebagai cikal bakal, yang tentu saja tidak mencerminkan kesempurnaan tulisan, sedangkan Irak (melalui tangan-tangan emas Ibnu Bawwab, Ibnu Muqlah, dan Yaqut al-Mu’tashimi) dan Turki (lewat tangan-tangan brilyan Hamid al-Amidi, Syeikh Abdul Azizi al-Rifa’i, dan lain-lain) dilambangkan sebagai fase penyempurnaan dan puncak pencapaian keindahan tulisan. Sedangkan Mesir dianggap sebagai wilayah penghasil qari (pembaca Alquran) yang memukau.

Persoalannya sekarang, mungkinkah peta perkembangan kaligrafi Islam akan terus berjalan mencari bentuknya yang lebih sejati, atau mengalami perkembangan yang berbeda, bahkan lebih unik dibanding progress masa klasik? Dan pertanyaan yang lebih tendensius, mampukan umat Islam Indonesia, khususnya para peminat kaligrafi Islam, membangun tradisi baru yang lebih greget dan inovatif?

Membidik Peta Baru

Kalaulah mau jujur, kaligrafi Arab bagi umat Islam Indonesia adalah termasuk barang baru. Karena tidak pernah dijumpai karya-karya seni rupa yang menjadi masterpice peninggalan umat Islam klasik Indonesia yang tersisa dan dapat disaksikan hingga saat ini. Barangkali, kelangkaan bukti sejarah dan kurangnya perhatian umat Islam terhadap seni yang satu ini disebabkan konsentrasi yang tervokus pada pembenahan teologi yang yang carut marut. Dan secara sosiologis, dimungkinkan, keberadaan bahasa Arab sebagai bahasa agama pun belum begitu mendapat respons yang memadai dari umat Islam Indonesia.

Meskipun pada tahap berikutnya semangat berkaligrafi di kalangan umat Islam mulai muncul, namun masih sebatas kesadaran per individu, bukan merupakan gerakan kolektif yang penuh kesemarakan.  Beberapa khattat Indonesia yang mulai mengibarkan panji-panji seni kaligrafi Islam—terutama pada empat dekade terakhir—dapat disebut beberapa nama, seperti KH. Abdurrazak Muhilli (Banten) menulis sebuah mushaf, Profesor Salim Fakhri (Jakarta) penulis Mushaf Pusaka, Profesor Azhari (Jakarta) penulis dekorasi interior, H. Ahmad Sadali (Banten) penulis mushaf standar Indonesia, dan lain-lain. Meski dengan kemampuan yang tidak terlampau maksimal, namun kehadiran mereka cukup menjadi perlambang tumbuhnya tunas-tunas perkembangan kaligrafi di tanah air.

Dari tangan-tangan mereka kemudian lahir para kaligrafer muda yang cukup handal, sebut saja misalnya D. Sirojuddin AR (Direktur Lemka UIN Jakarta) menulis beberapa mushaf dan banyak buku-buku ilmiah tentang kaligrafi, Muhammad Faiz (Jawa Timur) koordinator penulisan mushaf Istiqlal, Nur Aufa Siddik (Jawa Tengah) penulis buku-buku teks, Yasin Abdurrahim (Kalimantan Selatan) ulama dan khattat kampus, Mahmud Arham (Banten) penulis mushaf Istiqlal, Ahmad Hawi Hasan (Jawa Barat) penulis mushaf Sundawi, dan sebagainya. Dari tangan-tangan mereka lahir karya-karya bagus yang layak dibanggakan. Tingkat kehalusan goresan mereka agaknya hampir dapat disejajarkan dengan karya-karya master dunia.

Kesemarakan kaligrafi tanah air juga dipicu dengan masuknya materi lomba kaligrafi kedalam mata lomba MTQ. Sejak dekade 1980-an timbul gagasan brilyan dari tokoh-tokoh kaligrafi untuk memasukkan kaligrafi (khat) sebagai salah satu bidang yang dilombakan dalam MTQ. Kenyataan ini, harus diakui, kelak di kemudian hari akan membuat lompatan yang sangat jauh ke depan. Lewat penyelenggaraan Musabaqah Khattil Qur’an (MKQ) para khattat muda mulai bergairah dan memacu diri untuk menjadi kaligrafer. Dampak positif yang ditimbulkan oleh MKQ/MTQ dapat dirasakan hingga penyelenggaraan MTQ Nasional XX di Palangkaraya, yang dalam pengamatan D. Sirojuddin (salah seorang juri MTQN), mengalami kejutan yang luar biasa di tahun 2003. Lalu bagaimana prediksi perkembangan kaligrafi pada MTQN tahun-tahun berikutnya? Kita tunggu saatnya. Tapi, tampaknya akan jauh lebih mengejutkan kita semua.

Pengkajian ilmiah tentang seni kaligrafi di Indonesia, juga dapat dilacak, terutama pada era 1960-an. Mula-mula, lahir sebuah tesis dari ITB yang ditulis seorang seniman seni rupa, Abay D. Sobarna (sekarang Doktor). Dan mulai dari saat itu, bermunculan karya-karya ilmiah berkenaan dengan seni kaligrafi Islam. Tercatat beberapa nama kaligrafer, yang selain aktif menggores kalam-kalam khatnya, juga produktif menuangkan gagasan-gagasannya tentang pengembangan seni kaligrafi Islam. Mereka diantaranya, D. Sirojuddin AR, dengan puluhan magnum opus-nya telah menyumbangkan pemikiran yang sangat berharga bagi perkembangan wacana perkaligrafian di tanah air, Nur Aufa Sidik dengan karya rumus-rumus khatnya yang cukup baik, Irhas A. Shamad dengan metode belajar kaligrafi yang juga cukup layak dibaca, dan beberapa nama besar lainnya yang tidak akan disebut satu-persatu.

Dari uraian dan menimbang sosok-sosok di atas, kiranya dapat dirumuskan bahwa perkembangan kaligrafi di tanah air muncul dan berbasis di beberepa kantong. Pertama,  perkembangan kaligrafi lahir dan berkembang dari rahim akademik atau perguruan tinggi. Di tempat ini tidak hanya dipelajari bagaimana cara mencipta karya khat yang indah dan bagus, namun juga kaligrafi dikaji sebagai sebuah ilmu. Model yang pertama ini dapat ditemukan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, dan perguruan-perguruan tinggi Islam lainnya. Format kelembagaan yang muncul bisa berbentuk lembaga otonom, atau bisa juga secara substansi materi kaligrafi include dalam kurikulum mata kuliah, khususnya pada fakultas Adab/Sastra Arab.

Kedua, pengembangan kaligrafi di pondok pesantren. Pendidikan kaligrafi biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga pesantren modern, yang menempatkan pelajaran Khat sebagai bagian dari kurikulum yang harus diikuti oleh setiap santri. Walhasil, santri “dipaksa” dan dituntut agar dapat menulis Arab dengan indah. Pola ini dapat dilihat pada Pesantren Modern Gontor dan beberapa pesantren yang berafiliasi dengannya.

Namun kini telah lahir trend baru, Lemka Jakarta telah mendirikan sebuah pesantren eksklusif di Sukabumi, Jawa Barat, yang fokus pada khat sebagai kajian utama. Pendirian lembaga, yang diberi nama “Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka” (PKAL), ini diangap sebagai tradisi positif yang diharapkan lambat laun akan menghidupkan seni kaligrafi Islam di Nusantara.

Ketiga, pembinaan kaligrafi berbasis di non-institusional. Pembinaan model ini berjalan alami dan terkesan tanpa aturan baku. Pada model ini kita dapat menyebut komunitas Lengkong, Banten. Perkampungan ini, di mana KH. Abdurrazak Muhilli dilahirkan, dikenal sebagai “Perkampungan Khattat”.

Dengan memperhatikan kantong-kantong kaligrafi di atas, maka kita cukup optimis untuk dapat mewujudkan Indonesia menjadi salah satu kiblat kaligrafi dunia, dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut: Pertama,  secara historis bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kreativitas tinggi, terutama dalam bidang arsitektur yang adiluhung. Banyak keajaiban-keajaiban arsitektur yang terdapat dan diwariskan oleh para leluhur seperti candi-candi yang sarat dengan relief-relief yang memukau dan pelbagai arsitektur masjid yang juga memiliki kekhasan tersendiri. Setidaknya, hal ini menjadi sebuah modal awal tentang bukti kemampuan kita dalam menciptakan karya yang monumental.

Kedua, dalam hal sikap keberagamaan, bangsa ini dikenal memiliki militansi yang luar biasa dalam mengamalkan ajaran-ajaran agamanya. Maka ketika bahasa Arab dianggap sebagai bahasa agama, dan ini berarti menjadi keniscayaan untuk dapat memahaminya, berserta seluruh atributnya, bukan tidak mustahil bahasa Arab, dalam hal ini tulisannya, menjadi primadona bagi umat Islam di Indonesia.

Ketiga, faktor mentalitas bangsa agaknya juga ikut mendukung terwujudnya perkembangan kaligrafi di tanah air. Etos yang dimiliki bangsa ini, harus diakui, patut menjadi pertimbangan bagi tumbuh dan berkembangnya seni kaligrafi Islam di Tanah Air.

Namun demikian, hal yang tidak patut diabaikan adalah sokongan pemerintah, baik secara politis maupun materil—sebagaimana para sultan Islam klasik menghargai para khattat—menjadi faktor eksternal yang mampu mendongkrak kejayaan seni ini sejajar dengan jenis-jenis seni lainnya yang lebih dulu eksis.

Jika semua faktor dan potensi di atas dapat dimaksimalisasi, boleh jadi Indonesia akan menjadi “kiblat kaligrafi dunia” setelah Irak, Turki, dan Mesir. Mengapa tidak? Wallahu a’lam. []

Disampaikan pada Ceramah Umum tentang Seni Kaligrafi Islam di Fakultas Ilmu Budaya (FIB)Universitas Indonesia (UI) Jakarta, 2006.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: