Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba

“Can’t think! Can’t think! Can’t think! Can’t think!. I’ll tell you one thing, Dave…if anybody else is listening: you can really get messed up, boy, on that stuff! It’s bad news. It really is! I didn’t think it was when I was first taking it. You just don’t know what’s real and what isn’t real. You really don’t it’s hard to distinguish between real and unreal, and if you’re actually going nuts or if it’s just the drug. Well, actually, what the acid does is intensify everything to a great exten. That’s probably what it did to me”.

Kutipan paragraf di atas bukanlah sebuah siloka apalagi sabda seorang Nabi. Petikan tersebut hanya sebuah igauan konyol seorang pecandu narkotika yang hendak menemui ajalnya. Seorang anak muda Amerika Serikat, tepatnya negara bagian Salt Lake City, bernama Craig Dexter Gardner yang tengah berdendang dengan senandung kematian. Ia tewas dalam usia belia dengan menembakkan pistol di kepala akibat pengaruh LSD (Lysegic acid diethylamide), sejenis narkotika.

Ini hanya sebuah i’tibar (contoh), betapa getir kenyataan yang harus diterima sebagai akibat penyalahgunaan Narkotika, Psikotrapika,  dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) atau yang lebih dikenal dengan NARKOBA. Memang, kematian seorang pengguna NARKOBA tidak berarti apa-apa bagi suatu bangsa (nation state). Namun lebih dari itu, kematian yang disebabkan perilaku menyimpang dengan penyalahgunaan barang haram ini merupakan potret buram masa depan suatu bangsa. Betapa tidak, kecenderungan  negatif ini,  jika mewujud dalam prilaku kolektif suatu masyarakat, maka akibatnya akan jauh lebih berbahaya ketimbang  kematian seorang pemimpin. Sebab menyangkut  masa depan kehidupan sebuah sistem kemasyarakatan secara menyeluruh.

Mencermati kenyataan di atas, maka terlampau naif menganggap sepele bahkan memandang sebelah mata terhadap persoalan ini. Dan oleh karenannya, menempatkan discourse penyalahgunaan NARKOBA di tengah masyarakat sebagai persoalan dan komitmen bersama (baca. Negara) merupakan sikap yang tepat dan strategis. Maka upaya-upaya konkret, berupa langkah-langkah penanggulangan dan pencegahan perilaku me-nyimpang ini disinyalir akan menutup kemungkinan—minimal mengurangi—Craig Dexter Gardner-Craig Dexter Gardner baru yang mati dalam kesia-siaan.

Konsepsi Dasar

Dalam konteks karya tulis ini, saya bermaksud menunjukkan salah satu bentuk penyimpangan—sebagai salah satu potensi fujur—yang dilakukan manusia, yakni ketika opium (candu)—salah satu jenis nar-kotika—ditemukan pada zaman Romawi kuno. Pada mulanya (waktu itu), jenis opium ini dikenal sebagai obat penghilang rasa nyeri dan perangsang rasa kantuk. Namun, dalam perkembangannya, seiring dengan kemajuan di bidang teknologi, maka dari opium memunculkan pelbagai jenis narkotika lainnya dan, tentu saja, dengan beragam kegunaannya seperti Morphine, Heroin, tanaman ganja, dan tanaman Koka yang dapat menghasilkan cocaine.

Dalam dataran pemanfaatan, sejatinya narkotika dengan pelbagai jenisnya digunakan dan diproteksi hanya untuk kepentingan dan kebutuhan bidang kesehatan, dalam hal ini dunia kedokteran (medicine). Penggunaan narkotika dan zat adiktif lainya (NAPZA) secara legal (dibenarkan) dan dalam dosis tertentu, seperti yang telah dipraktikkan dunia medis, maka akan membawa banyak manfaat—tentu saja berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan medis—terutama bagi pasien yang tengah menjalani proses pengobatan. Namun sebaliknya, jika zat-zat tersebut digunakan dan dimanfaatkan secara ilegal—terutama oleh generasi muda—di luar fungsi dan pertimbangan medis,  maka tidak saja akan berakibat buruk bagi pengguna, tapi akan melahirkan ekses negatif bagi masyarakat dan lingku-ngannya.

Secara medis (medically), penyalahgunaan (abuser) NARKOBA akan berakibat pada rusaknya fungsi organ tubuh si pengguna, diantaranya: membahayakan syaraf-syaraf otak atau dengan istilah Gangguan Mental Organik (GMO), melemahkan jantung, mengurangi kelenjar-kelenjar tubuh, bahkan bila sampai dikonsumsi secara over dosis, maka akan berakibat sangat fatal, yakni mengancam kelangsungan hidup seseorang (kematian).

Dari perspektif sosial, penyalahgunaan NARKOBA ditengarai akan dapat mengancam tatanan sosial kemasyarakatan dan ketahanan nasional. Untuk itulah, persoalan penyalahgunaan (abuser) NARKOBA tak pelak menjadi persoalan publik yang harus diselesaikan dalam lingkup hukum publik (pidana).

Sementara dari aspek psikologis, narkotika dan zat-zat adiktif lainnya (NAPZA) dapat menimbulkan rasa ketagihan yang luar biasa (candu) terhadap para pengguna. Dan sebagai konsekuensi logisnya, pelbagai cara akan dilakukan untuk mendapatkan benda-benda haram tersebut, meski harus melanggar norma-norma agama, sosial, maupun hukum yang berlaku. Maka tidak mengherankan jika kemudian terjadi perbuatan “asusila” maupun “asosial”. Inilah ekses empirik yang dapat kita temukan di lingkungan kita.

Menurut sebuah data, di Indonesia, pada tahun 1999 saja tercatat sekitar 1,3 juta orang sebagai pengguna NARKOBA. (Media Indonesia, 22/9/1999). Korbannya, tidak hanya melulu generasi muda (remaja), tetapi telah merambah ke berbagai lapisan masyarakat tanpa pandang bulu, entah orang tua, para eksekutif, kaum elite, seniman, ibu-ibu rumah tanga, aparat penegak hukum, orang kaya, orang miskin, bahkan anak di bawah umur pun tidak luput dari sasaran para pengedar. Angka ini bukan mustahil akan semakin menggunung—bagai fenomena gunung es—pada waktu-waktu berikutnya.

Kenyataan ini menunjukkan betapa pengedaran ‘barang haram’ ini sudah sedemikian terbuka dan meluas, tidak hanya beredar di daerah perkotaan saja, tetapi sudah melebarkan sayapnya ke berbagai pelosok daerah bahkan pedesaan. Dan hal ini jelah mengindikasikan jaringan peredaran dan penjualan NARKOBA dilakukan secara profesional dengan dukungan kecanggihan teknologi.

NARKOBA dan Kenakalan Remaja

Memang, penyalahgunaan NARKOBA dapat dikatakan sebagai penyakit endemik yang siap menyerang dan menular kepada siapa saja. Tidak mengenal batas umur maupun status sosial. Bagi mereka yang memiliki mental dan kepribadian yang labil, di samping keringnya nilai-nilai spiritual yang tertanam dalam jiwanya, disinyalir tidak akan luput dari upaya penularan ‘penyakit’ ini—terutama pada dataran generasi muda. Dengan ungkapan lain, dalam pandangan Dadang Hawari (1997, 133), penyalahgunaan NARKOBA merupakan penyakit kronis dalam masyarakat modern, yang berulangkali kambuh  dan hingga saat ini belum diketemukan upaya penanggulangan secara universal dan memuaskan, baik dari segi prevensi, terapi, maupun rehabilitasi.

Masa remaja merupakan era transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa sebagai generasi yang akan memegang estafet untuk meneguhkan dan mewarisi cita-cita  luhur bangsa di masa depan (leaders for tomorrow). Oleh karena itu, remaja adalah generasi harapan bangsa yang diharapkan memiliki potensi dan vitalitas serta semangat patriotik. Namun, keberadaan generasi muda, pada dasarnya, di samping memiliki nilai strategis, namun juga mengandung resistensi. Memiliki nilai strategis jika dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan bangsa. Sedangkan mengandung resistensi negatif jika menjadi beban dan tanggungan bagi masyarakat.

Oleh karena itu masa remaja disebut juga masa yang penuh kontradiksi. Sebagian orang mengatakan  masa remaja adalah masa energik, heroik, dinamis, kritis, dan masa paling indah. Tetapi di sisi lain ada yang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa rawan, nyentrik, dan negative phase karena masa tersebut berada di ambang the best of time and the worst of time.

Pada masa ini seorang remaja ditandai oleh sikap ketidakmantapan, atau sikap tidak konsisten,  yakni berpindah-pindah prilaku atau norma. Dengan keperibadiannya yang seperti itu, sering masa mereka disebut strum und drang, dimana emosinya penuh gejolak yang menimbulkan kemauan-kemauan yang keras.

Ia berusaha menyadari tentang siapa dirinya, seraya mencari identitas egonya dengan melepas diri dari segala bentuk kekangan dan berontak terhadap norma-norma atau tradisi yang berlaku yang kiranya tidak dikehendaki. Sebagaimana yang dikatakan oleh Zakiyah Darajat (1982, 9) bahwa masalah remaja adalah suatu masalah yang sebenarnya menarik untuk dibicarakan lebih-lebih pada akhir-akhir ini, dimana telah timbul akibat negatif yang sangat mencemaskan yang akan membawa kehancuran bagi remaja itu sendiri dan masyarakat pada umumnya.

Begitu pula di usia remaja, terdapat suatu gejala psikologis tertentu sebagai akibat masa perkembangan. Gejala yang paling menonjol pada masa perkembangan ini, yakni adanya kebutuhan atau keterikatan dalam kelompok sebaya (peer group) secara kuat. Seringkali juga terdapat persaingan tersembunyi, yang tujuannya untuk mendapatkan status dan prestise dalam suatu kelompok.

Dari gambaran di atas, maka dapat dipahami mengenai eksistensi sosok remaja dalam menyelami kehidupannya, baik dari segi karakter, sifat, maupun keperibadiannya. Remaja, dengan demikian, berada dalam masa transisi yang sedang mencari identitas diri sehingga tidak dapat terlepas dari persoalan-persoalan yang mengiringi masa pertumbuhan itu. Dan oleh karena itu, tidak sedikit remaja mengalami kegoncangan batin yang menggelisahkan dirinya.

Apabila diterpa pelbagai persoalan, baik karena faktor internal maupun faktor eksternal—yang menjadi latar belakang, seringkali mereka  tidak dapat mengontrol diri. Dalam menghadapi atau mengatasi problematika, mereka justru mengalami stress, cemas, frustasi, dan hilangnya kepercayaan diri yang terkadang menimbulkan tindakan-tindakan destruktif, melanggar, dan menyalahi norma-norma masyarakat, agama, maupun hukum. Perilaku menyimpang ini yang kemudian disebut sebagai kenakalan remaja atau juvenile dilikuency.

Adapun penyebab kenakalan remaja, sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari dua faktor: yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah sesuatu yang lahir dari diri sendiri sebagaimana apa yang telah dipaparkan di atas. Sedangkan faktor eksternal adalah hal-hal di luar dirinya yang mempengaruhi dan menyebabkan kenakalan remaja di antaranya sebagai berikut, pertama, tidak adanya integritas yang harmonis antara lembaga kemasyarakatan yang ada. Kedua, keadaan keluarga tidak harmonis (broken home). Yakni ketika orang tua melupakan akan perannya. Dan ketiga, keadaan sekolah dengan sistem pendidikan yang tidak menarik dan menjemukan, dimana murid hanya sebagai “banking concept”.

Menurut Y. Bambang Mulyono, faktor yang tidak kalah pentingnya terhadap kenakalan remaja adalah karena kurang diterimanya remaja di dalam masyarakat. Akhirnya mereka memprotes kepada lingkungannya dengan tindakan-tindakan asosial.

Di samping itu, adanya kemajuan zaman seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus melaju, telah menimbulkan culture lag yang menyebabkan ketidakseimbangan, yakni kecenderungan kepada aspek materi sehingga menyebabkan kekurangan dan kekeringan nilai-nilai agama di jiwanya. Oleh karenanya, generasi muda tidak memiliki pegangan hidup lagi, sebab segala sesuatunya bersifat relatif.

Menyimak uraian di atas, maka bagaimana pun antara kenakalan remaja dan penyalahgunaan NARKOBA memiliki hubungan (relationship) yang erat bagaikan ”dua mata koin” yang tidak bisa dipisahkan, karena penyalahgunaan NARKOBA merupakan suatu bentuk kenakalan remaja itu sendiri. Dan, NARKOBA atau Narkotika, Psikotrapika, dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) adalah hal yang tidak asing lagi bagi pergaulan mereka, bahkan diklaim sebagai lambang pergaulan dan generasi modern. Prestise yang keliru!. Mereka, acapkali berbuat tanpa berfikir panjang, dimulai dari rasa ingin tahu dan coba-coba, yang akhirnya mambawa petaka bagi dirinya, keluarga, masyarakat, dan negara.

Bila gambaran generasi muda Indonesia khususnya Jawa Barat telah begitu mengkhawatirkan semacam itu, maka dituntut kerja sama berbagai pihak dan peran aktifnya untuk menanggulangi pelbagai bentuk perbuatan yang dilakukan remaja tersebut, karena kenakalan remaja yang berkaitan dengan penyalahgunaan NARKOBA merupakan dua masalah yang kompleks dan krusial untuk diatasi. Oleh karena itu, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan lingkungan sekolah berkewajiban menjaga, memelihara, memper-hatikan, dan melindungi mereka dari kejahatan sosial tersebut.

Motivasi Penyalahgunaan

Semaraknya perkembangan tindak pidana penyalahgunaan NARKOBA di Indonesia, tak terkecuali di wilayah propinsi Jawa Barat, sangat didukung oleh beberapa faktor, diantaranya:

  1. Sebagai dampak dari kemajuan teknologi komunikasi  dan transportasi yang mengglobal sehingga adanya perubahan sikap budaya di kalangan remaja untuk meniru kehidupan gaya Barat yang tidak terlepas dari penggunaan Narkoba;
  2. Kejahatan NARKOBA suatu kegiatan bisnis yang menggiurkan. Karena keuntungannya yang sangat besar dan dapat diperoleh dalam waktu yang sangat singkat;
  3. Penggunaan NARKOBA dianggap dapat dijadikan sebagai pelarian atau jalan pintas untuk melepaskan beban hidup yang ditanggung;
  4. Indonesia yang mengalami tekanan ekonomi sangat buruk dan berkepanjangan  telah banyak menimbulkan PHK yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran, siswa putus sekolah, sehingga bisnis NARKOBA menjadi kian menggiurkan. Oleh karena itu, keadaan semacam ini telah membuka kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan dengan terlibat dalam bisnis haram tersebut;
  5. Akibat ketidakstabilan suhu politik dan ekonomi. Sampai saat ini para elite politik berkonsentrasi pada masalah politik, sehingga dijadikan peluang bagi para pelaku kejahatan NARKOBA;
  6. Kurangnya anggaran pemberantasan tindak pidana NARKOBA mengakibatkan terbengkalainya penanganan perkara penyalahgunaan NARKOBA.

Selain itu, masih banyak faktor yang menjadi motivasi penyebab seseorang  menjadi pengguna NARKOBA, baik faktor intern maupun faktor ekstern. Faktor intern merupakan motivasi penyalahgunaan NARKOBA yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri yang meliputi keperibadian, intelegensia, usia, dorongan, kenikmatan, perasaan ingin tahu, dan me-mecahkan persoalan. Sedangkan faktor ekstern yaitu faktor dari luar diri individu atau lingkungan yang turut mendorong tindakan tersebut meliputi keharmonisan keluarga, pekerjaan, status sosial ekonomi, dan tekanan kelompok.

Adapun faktor-faktor intern yang memotivasi penyalahgunaan NARKOBA dapat dikemukakan berikut ini (1) Keperibadian. Pola keperibadian seseorang amat besar pengaruhnyan terhadap penyalahgunaan NARKOBA. Apakah seseorang tersebut akan menjadi penyalah-guna NARKOBA ataukah tidak, maka sebenarnya dialah yang dapat menen-tukannya sendiri. Lalu keperibadian yang bagaimanakah yang biasanya memiliki potensi sebagai penyalahguna NARKOBA? Tentu saja, orang yang memiliki keperibadian lemah dalam artian tidak mempunyai pendirian kuat (labil), mudah kecewa, tidak mampu menerima kegagalan dan kekecewaan, adalah orang yang mudah terlibat dalam penyalahgunaan NARKOBA.

(2) Intelegensi. Meskipun tidak jarang orang yang mempunyai taraf kecerdasan tinggi juga dapat menjadi penyalahguna atau pecandu NARKOBA, tetapi orang yang mempunyai intelegensi di bawah rata-rata orang seusianya lebih mudah terpengaruh dalam penyalahgunaan NARKOBA. Hal ini dapat dimengerti karena mereka kurang mampu untuk berfikir kritis kearah yang lebih jauh ke depan dalam membedakan mana yang lebih bermanfaat baginya dan mana yang merugikan.

(3) Usia. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak, tetapi belum tergolong kedalam usia dewasa. Ia tidak tergolong kedalam usia anak-anak yang hanya sekedar meminta dan menerima pemberian orang tua, tapi ia juga sulit untuk digolongkan kedalam usia dewasa yang sudah matang dalam bertindak serta dapat berdiri sendiri. Dalam usia remaja selalu berusaha melepaskan diri dari otoritas orang tua untuk menemukan dirinya dalam mencari identitas ego, yang terkadang membentuk kelompok anak-anak, dalam bermain atau dalam membuat rencana bersama yang agresif baik positif maupun negatif. Dalam kondisi labil seperti itu, kesalahan dalam memilih teman dan kelompok bermain dapat membawa akibat buruk bagi pembentukan keperibadian seorang remaja yang dapat menjerumuskan mereka dalam penyalahgunaan NARKOBA.

(4) Dorongan kenikmatan. Pada dasarnya, setiap orang mempunyai dorongan hedonistis. Yakni dorongan mencari kenikmatan yang bila diperoleh akan dilakukannya berulang-ulang. Obat, di satu sisi dapat memberi kenikmatan yang unik. Pengaruh kimiawi dari obat yang sering disalahgunakan dapat memberikan suatu perjalanan yang aneh, lucu, dan menyenangkan (drus can be fun). Persoalan “enak” ini yang mulanya diperoleh melalui coba-coba, sehingga cepat atau lambat akan menimbulkan proses belajar yang kemudian dila-kukan berulang-ulang.

(5) Rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu adalah milik setiap orang, khususnya bagi remaja, mereka sangat terdorong untuk mencoba hal-hal yang baru. Pengalaman yang baru meskipun terkadang yang ia lakukan mengandung resiko bahaya. Luasnya publikasi dan banyaknya informasi tantang NARKOBA  bagi mereka terkadang justru menjadi pencetus timbulnya rasa ingin tahu dan mencoba-coba lalu menjadi iseng, kemudian menjadi pemakai tetap dan pada akhirnya menjadi ketergantungan NARKOBA.

(6) Memecahkan persoalan. Penggunan NARKOBA secara medis memang diakui dapat menurunkan tingkat kesadaran dan dapat menghilangkan ketegangan akibat persoalan-persoalan yang dialaminya. Dari persepsi tersebut dengan jalan pintas mereka mengatakan bahwa NARKOBA memecahkan persoalan. Kelompok remaja yang menggunakan NARKOBA sebagai jalan keluar untuk menghindari diri dari kesulitan hidup dan konflik-konflik bathin yang berat. Pada umumnya mereka ynag memilih jalan sesat ini adalah remaja yang biasa hidup mewah, dimanja, tidak bisa menghadapi masalah-masalah berat, dan kurang mendapat banyak sentuhan iman dan akhlak. Di samping itu juga jiwanya sangat labil, sehingga bila ada masalah sedikit ia seringkali mengambil jalan pintas. Dari sinilah akhirnya mereka menggunakan ekstasy, putaw, shabu-shabu, ganja, dan obat-obat narkotika lainnya, sebagai jalan untuk mencari “penenangan” dari rasa ketakutan dan kerisauan hatinya.

Sedangkan faktor eksternal yang ikut mendorong penyalahgunaan NARKOBA diantaranya, (1) Keharmonisan keluarga. Sebagaimana kenakalan remaja, perkelahian, dan pergaulan bebas, panyalahgunaan NARKOBA pun mempunyai hubungan yang erat dengan keharmonisan hubungan keluarga. Maka keluarga yang tidak harmonis (broken home) dan sering terjadi percekcokan, kurangnya komunikasi, kasih sayang serta perhatian orang tua terhadap anak-anak akan terjadi sebab timbulnya penyalahgunan NARKOBA sebagai imbas dari kehidupan keluarga yang kurang kondusif dan harmonis tersebut.

(2) Pekerjaan. Salah satu penyebab seseorang menjadi pemakai narkotika ialah mudah atau tidaknya seseorang mendapatkan narkotik tersebut. Tidak jarang pemakai yang sehari-hari bekerja di apotek atau toko obat, bahkan dokter relatif mudah mendapatkan barang haram itu, juga anak-anak yang orang tuanya dokter ataupun detailer, sering didapati menjadi pecandu hanya karena ia lebih mudah memperoleh narkotik (NARKOBA) yang didapat-kannya dengan mudah.

(3) Status sosial ekonomi. Pada dasarnya setiap orang dari segala lapisan masyarakat dapat menjadi pemakai narkotik (NARKOBA). Hanya saja lebih sering terjadi penya-lahgunaan sendiri di kalangan menengah ke atas. Sosial ekonomi yang tinggi lebih memungkinkan untuk memperoleh barang-barang tersebut karena mereka lebih memiliki uang yang cukup untuk membeli barang-barang tersebut yang harganya relatif mahal.

(4) Tekanan kelompok. Suatu kasus yang masuk akal dan sering terjadi adalah perkenalan pertama dengan narkotik (NARKOBA) berasal dari kawan-kawan sepermainan-nya. Seseorang terlibat dengan suatu kelompok biasanya akan bersikap loyal dan solider terhadap kelompoknya. Kesadaran seperti ini akan men-jadikan dirinya dipengaruhi dan ditekan oleh kelompoknya yang sudah menjadi pecandu NARKOBA, untuk menjadi pemakai NARKOBA sebagai bentuk loyalitas dan solidaritas terhadap kelompoknya.

Sedangkan menurut Dadang Hawari, berdasarkan dari hasil penelitiannya, di antara faktor-faktor yang berperan dalam penggunaan NARKOBA adalah :

  1. Faktor kepribadian anti sosial atau psikoptik.
  2. Kondisi kejiwaan yang meliputi keutuhan keluarga, kesibukan orang tua, hubungan orang tua dengan anak.
  3. Kelompok teman sebaya.
  4. Kondisi kejiwaan yang mudah merasa kecewa atau depresi.
  5. Narkotika (NARKOBA) itu sendiri mudah diperoleh dan tersedia dipasaran baik resmi maupun tidak resmi.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan, bahwa penyalahgunaan NARKOBA mempunyai latar belakang dan motivasi yang bermacam-macam dan berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Di samping pengaruh yang berasal dari faktor keperibadian NARKOBA itu sendiri juga terdapat faktor lingkungan yang sangat mendukung terjadinya penyalahgunaan NARKOBA, baik itu kondisi rumah tangga, pengaruh di kalangan teman sebaya, maupun berkenaan dengan ketersediaan  fasilitas hiburan yang tidak sehat.

Kasus ini memang sering terjadi di kalangan remaja. Oleh karena itu “masa remaja” disebut juga sebagai masa percobaan dan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju kearah dewasa,  yang ditandai dengan rasa ingin tahu, mencoba-coba perbuatan yang tidak baik, khususnya bagi mereka yang kurang memiliki pengetahuan agama. Maka terhadap orang tua, terutama mereka yang kurang mengadakan komunikasi dengan anak-anak, harus disadari bahwa penyalahgunaan NARKOBA akan selalu menjadi ancaman bagi para generasi muda yang harus ditanggulangi sedini mungkin, yaitu dengan memberikan bekal atau internalisasi nilai-nilai agama kepada anak-anak, karena  hal tersebut akan mempertebal rasa keimanan kepada Allah Swt..

Disamping itu juga ada motivasi atau latar belakang yang tidak kalah pentingnya, di zaman sekarang ini, dimana penyalahgunaan NARKOBA telah menelan korban, dilatar belakangi oleh suhu politik yang kian panas. Keadaan pemerintahan tidak stabil karena diterpa berbagai polemik, baik persoalan yang mengancam disintegrasi bangsa, krisis moral, dan ekonomi yang pada akhirnya membawa kepada segelintir orang-orang yang tak bertanggung jawab, tergiur keuntungan yang berlimpah dan kenikmatan yang nisbi walaupun mengakibatkan resiko, mau dan rela menjadi pengedar narkotika NARKOBA sekaligus sebagai pecandu.

Hal ini dibenarkan oleh TB Ronny Nitibaskara (1999) yang mengatakan bahwa faktor yang mendorong dan mempercepat munculnya organisasi kejahatan suatu negara, akan dengan mudah diterobos oleh organisasi-organisasi kejahatan transnasional, khususnya yang bergerak dalam masalah NARKOBA, manakala dalam negara bersangkutan terdapat pemerin-tahan yang lemah, korup, kolutif, dan biasanya rakyat keadaan miskin.

Dampak Negatif Penyalahgunaan

Sebagaimana telah diketahui, bahwa narkotika dan zat adiktif lainnya akan menimbulkan gejala-gejala negatif terhadap fisik dan psikis, apabila hal tersebut disalahgunakan oleh pemakainya. Bahaya dan akibat narkotika jika disalahgunakan dapat bersifat pribadi bagi si pemakai (penyalahguna) dan dapat berupa bahaya sosial (masyarakat). Pada dasarnya, bahaya penyalahgunaan narkotika yang bersifat pribadi dapat menimbulkan pengaruh dan efek-efek terhadap tubuh si pemakai dengan gejala-gejala sebagai berikut:

  1. Euphoria, yaitu suatu rangsangan kegembiraan yang tidak sesuai (seim-bang) dengan kenyataan dan kondisi badan si pemakai. Biasanya efek ini masih dalam gangguan narkotika dalam dosis yang tidak begitu besar/banyak.
  2. Dellirium, yaitu suatu keadaan dimana pemakai narkotika mengalami penurunan kesadaran dan timbulnya kegelisahan yang dapat meng-akibatkan gangguan terhadap gerakan anggota tubuh si pemakai. Dan biasanya pemakaian dosis lebih banyak.
  3. Hallusinasi, yaitu suatu keadaan dimana si pemakai narkotika mengalami “khayalan” misalnya melihat atau mendengar sesuatu yang tidak ada dalam kenyataannya.
  4. Weakness, yaitu kelemahan yang dialami fisik atau psikis atau kedua-duanya.
  5. Drownisess, yaitu kesadaran merosot seperti orang mabok atau kacau ingatan.
  6. Coma, yaitu keadaan si pemakai narkotika sampai pada puncaknya yang akhirnya dapat membawa kematian.

Di samping efek-efek terhadap tubuh seperti gejala tersebut, maka efek lain bagi si penyalahguna narkotika adalah menculnya ketergantungan (kecanduan) dan hidupnya diperbudak oleh narkotika yang lambat laun apabila tak mendapat penyembuhan yang layak akan sampai kepada titik coma. Jadi, ada efek ketagihan dan kehancuran.

Memang, narkotika dan psikotropika akan mempunyai manfaat yang besar bila digunakan untuk pengobatan maupun penelitian ilmu penge-tahuan, tetapi sebaliknya apabila disalahgunakan khususnya oleh generasi muda akan berbahaya sekali bagi kelangsungan masa depan bangsa dan negara. Oleh karena itu di dalam ketentuan perundang-undangan mengenai narkotika, penggunaannya diatur secara legal di bawah pengawasan dokter dan apoteker.  Seperti yang tertuang dalam UU No. 22 Tahun 1997 pasal 3 sebagai berikut, “pengaturan narkotika bertujuan untuk kepentingan  kese-hatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan”. Sedangkan pada pasal 39 ayat (1) dinyatakan, “penyerahan narkotika hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, dan puskesmas yang berdasarkan atas resep dokter. Jadi, penggunaan NARKOBA dalam dosis tertentu dan di bawah pengawasan dokter untuk keperluan pengobatan itu tidak membawa efek apapun  yang dapat membahayakan bagi tubuh yang bersangkutan.

Sanksi Pidana

Mengingat betapa besar bahaya penyalahgunaan Narkotika ini, maka perlu diingat beberapa dasar hukum yang diterapkan menghadapi pelaku tindak pidana narkotika berikut ini:

  1. Undang-undang RI No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP
  2. Undang-undang RI No. 7 tahun 1997 tentang Pengesahan United Nation Convention Against Illicit Traffic in Naarcotic Drug and Pshychotriphic Suybstances 19 88 ( Konvensi PBB tentang Pemberantasan Peredaran Gelap narkotika dan Psikotrapika, 1988)
  3. Undang-undang  RI No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika sebagai pengganti UU RI No. 9 tahun 1976.

Untuk pelaku penyalahgunaan Narkotika dapat dikenakan Undang-undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, hal ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Rincian, lihat dalam tabel):

1)     Sebagai pengguna

Dikenakan ketentuan pidana berdasarkan pasal 78—79 Undang-undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman paling lama 4 tahun.

2)     Sebagai pengedar

Dikenakan ketentuan pidana berdasarkan pasal 81 dan 82 Undang-undang No. 22 tahun 1997 tentang narkotika, dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun / seumur hidup/ mati + denda.

3)     Sebagai produsen

Dikenakan ketentuan pidana berdasarkan pasal 80 Undang-undang No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun/ seumur hidup/ mati + denda.

Demikian pula mengingat maraknya peredaran psikotrapika terutama jenis ectasy dalam pasaran bebas di Indonesia, maka perlu pula diingatkan peraturan-peraturan yang diterapkan terhadap pelaku tindak pidana ini:

  1. Undang-undang RI No. 8 tahun 1971 tentang  Pengesahan Convention on psychotropic substances 1971 (konvensi Psikotrapika 1971)
  2. Undang-undang RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotrapika
  3. Undang-undang  RI No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
  4. Peraturan Menteri Kesehatan No. 124/Menkes/per/II/–1993 tanggal 18 Februari 1993, tentang obat keras tertentu
  5. Ordonansi Obat Keras Stbl Nomor 419 tahun 1949
  6. SK Menteri Kesehatan RI No. 34/Menkes /II/1988 tanggal 9 Februari 1988 tentang  cara pembuatan obat (hubungannya dengan kasus pemalsuan)
  7. Pasal 204, 205, 53, 386, dan 480 KUHP
  8. Intruksi bersama Menteri Kesehatan RI dengan Kapolri tanggal 7 Maret 1984 Nomor 75/ Menkes. Ins. B/II/1984 dan Pol.: Ins/03/III/1984.

Untuk pelaku penyalahgunaan psikotrapika dapat dikenakan Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotrapika. Hal ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Sebagai Pengguna

Dikenakan ketentuan pidana berdasarkan pasal 59 dan 62 Undang-undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotrapika dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun dan paling lama 15 tahun + denda.

2. Sebagai pengedar

Dikenakan ketentuan pidana berdasarkan pasal 59 dan 60 Undang-undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotrapika dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun + denda.

3. Sebagai produsen

Dikenakan ketentuan pidana berdasrkan pasal 80 Undang-undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotrapika dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun + denda.

Namun demikian, dalam tataran implementasi, sanksi yang dikenakan tidak sampai pada kategori maksimal. Hal ini setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, kasus yang diproses memang ringan, sehingga hakim memutuskan dengan sanksi yang ringan pula. Kedua, tuntutan yang diajukan relatif ringan, atau bahkan pihak hakim sendiri yang tidak memiliki ketegasan sikap. Sehingga berpengaruh terhadap putusan yang dikeluarkan.

Upaya Penanggulangan

Penanggulangan dan pencegahan terhadap penyalahgunaan NARKOBA merupakan tanggung jawab bangsa Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya berada pada pundak kepolisian ataupun pemerintah saja. Namun, seluruh komponen masyarakat diharapkan ikut perperan dalam upaya penanggulangan tersebut. Setidaknya, itulah yang telah diamanatkan dalam pelbagai perundang-undangan negara, termasuk UU No. 22 tahun 1997 tentang narkotika. Dan berikut ini saya akan mengemukakan beberapa pihak yang dapat berperan aktif dalam upaya-upaya tersebut:

Pertama, POLRI. Berdasarkan Undang-undang, Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) adalah pihak yang diberi wewenang untuk menegakkan hukum, melindungi, dan melayani masyarakat beserta dengan komponen bangsa lainnya. Kepolisian berkewajiban penuh dalam usaha pencegahan dan penanggulangan masalah penyalahgunaan NARKOBA di Indonesia.

Kepolisian wilayah Jawa Barat sebagai bagian dari keluarga besar Korps Kepolisian Republik Indonesia, dalam konteks ini,  juga berkewajiban mengemban amanat tersebut. Oleh karena itu, kepolisian daerah berdiri di garda depan terhadap upaya penanggulangan penyalahgunaan NARKOBA di wilayah ini. Untuk itulah, agaknya perlu dilakukan 4 langkah strategis dalam konteks penanggulangan tersebut.

(1) Pre-emptif. Upaya pre-emptif yang dilakukan adalah berupa kegiatan-kegiatan edukatif (pendidikan/pengajaran) dengan tujuan mempengaruhi faktor-faktor penyebab yang mendorong dan faktor peluang,  yang biasa disebut  faktor “korelatif  kriminologen” dari kejahatan narkotika, sehingga tercipta suatu kesadaran, kewaspadaan, daya tangkal, serta terbina dan terciptanya kondisi perilaku/norma hidup bebas Narkoba. Yaitu dengan sikap tegas untuk menolak terhadap kejahatan Narkoba.

Kegiatan ini pada dasarnya berupa pembinaan dan pengembangan lingkungan pola hidup sederhana  dan kegiatan positif,  terutama bagi remaja dengan kegiatan yang bersifat produktif, konstraktif, dan kreatif. Sedangkan kegiatan yang bersifat preventif edukatif dilakukan dengan metode komunikasi informasi edukatif, yang dilakukan melalui pelbagai jalur antara lain keluarga, pendidikan, lembaga keagamaan, dan organisasi kemasyarakatan.

(2) Preventif. Upaya ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kejahatan Narkoba melalui pengendalian dan pengawasan jalur resmi serta pengawasan langsung  terhadap jalur-jalur peredaran gelap dengan tujuan agar police Hazard tidak berkembang menjadi ancaman faktual.

Kedua, Peranan orang tua. Memahami bahwa masalah NARKOBA adalah salah satu masalah nasional dengan tingkat kompleksitas persoalan yang dapat mengancam ketahanan nasional bangsa dan negara serta dapat berpengaruh  kepada proses pembangunan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, maka upaya penanggulangan terhadap ancaman bahaya Narkoba diperlukan adanya upaya dari pemerintah serta unsur-unsur dari ma-syarakat sebagaimana diama-natkan dalam pasal 57 UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika dan pasal 54 UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotrapika.

Orang tua sebagai bagian dari masyarakat sangat banyak memiliki peran dalam mendudkung pembangunan nasional, termasuk peran  dalam upaya pemberantasan ancaman terhadap generasi muda dari bahaya Narkoba. Oleh karena itu langkah-langkah proaktif dapat dilakukan melalui (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan tempat tinggal, dan (3) lingkungan kerja.

Bagaimanapun juga, langkah-langkah strategis tersebut merupakan wujud kepedulian kolektif terhadap upaya penanggulangan penyalahgunaan Narkoba yang harus dilakukan demi keselamatan dan eksistensi bangsa menyambut masa depan yang lebih cerah.

Epilog

Berdasarkan pembahasan yang telah saya kemukakan, ada beberapa hal yang patut diajukan sebagai konsklusi atas persoalan-persoalan yang telah dirumuskan dalam perumusan masalah. Pertama, penyalahgunaan NARKOBA merupakan persoalan (discourse) kompleks menyangkut pelbagai dimensi, mulai dari dimensi personal bahkan bersentuhan secara substansial dengan dimensi sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan terobosan-terobosan tertentu yang efektif dan tepat guna mengatasi problem yang multidimensi ini.

Kedua, dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari perilaku penyalahgunaan NARKOBA akan berakibat tidak hanya pada pengguna, tapi lebih dari itu akan menghancurkan sistem yang telah terbangun dan masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketiga, pemberantasan terhadap penyalahgunaan dan peredaran serta kejahatan NARKOBA tidak akan dapat berjalan efektif jika dilakukan oleh salah satu komponen masyarakat saja. Pada titik ini, diperlukan sebuah kerjasama yang solid di antara pelbagai unsur masyarakat, baik pada dataran grass root, maupun elite.

Keempat, propinsi Jawa Barat merupakan teritorial yang tidak imune (steril) dari praktik penyalahgunaan NARKOBA. Meski latar belakang budaya yang cenderung agamis, fenomena penyimpangan perilaku masih menjadi salah satu kendala kemasyarakatan yang tidak dapat dianggap remeh. Namun demikian, sejauh pengamatan yang saya lakukan, tingkat resistensi pengguna NARKOBA, dilihat dari sisi kuantitas maupun kualitas, agaknya provinsi Jawa Barat memiliki daya tahan yang lebih tinggi menyangkut perkembangan dan peredaran barang haram tersebut.

Oleh karena itu melalui tulisan ini, saya bermaksud memberikan kontribusi pemikiran berkenaan dengan upaya-upaya para pihak dalam rangka penanggulangan terhadap persoalan penyalahgunaan NARKOBA di provinsi Jawa Barat, dan di Indonesia pada umumnya. Pertama, perlu dilakukan rekonstruksi budaya. Maksudnya, saat ini kita tengah dilanda ‘keminderan budaya’. Masyarakat lebih bangga dengan budaya orang lain, tanpa menyadari bahwa kita memiliki sesuatu yang sangat berharga, yakni budaya yang adiluhung. Maka mengembalikan jati diri masyarakat menjadi hal yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Dalam konteks provinsi Jawa Barat, saya menganggap, bahwa peran serta alim ulama dan tokoh-tokoh yang akrab dengan denyut nadi masyarakat perlu semakin dipertegas.

Kedua, seiring dengan kompleksitas pengguna NARKOBA, pengedar, dan produsen NARKOBA dengan pelbagai mudus operandinya, maka saya menganggap perlu dilakukan reformasi legislasi seputar amandemen UU No. 22 tahun 1997 dan UU No. 5 tahun 1997, baik dari sisi substansi (materi) maupun maupun kualitas sanksinya. Namun, yang paling penting adalah menyiapkan perangkat hukum yang jujur dan berwibawa yang berdiri di garda depan.

Ketiga, membangun komitmen bersama. Persoalan penyalahgunaan NARKOBA yang menjangkiti generasi muda harus dianggap sebagai problematika yang akan mengancam masa depan bangsa. Untuk itulah, semua pihak harus bekerja sama, bahu membahu, mencari solusi, baik pada dataran wacana maupun pada dataran praksis-implementatif. Hanya dengan kebersamaan, persoalan sesulit apapun menjadi mudah dan dapat diatasi. Wallahu a’lam bi al-Shawab. []

Artikel tahun 2004.

3 Tanggapan

  1. Download lagu anti narkoba

    suarakan kampanye anti narkoba di bumi ibu pertiwi bersama sick-matt, band anti narkobanya padang

    buktikan anak muda bangsa ini bisa berprestasi tanpa narkoba

    NARKOBA NO….PRESTASI YES……….

    sick-matt – all coz narkoba

    http://www.4shared.com/file/171225919/ec06cd/Sick-Matt_-_All_Coz_Narkoba.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: